Wisata Sejarah Makassar Dalam Sehari

Wisata Sejarah Makassar Dalam Sehari
5 (100%) 1 vote

Bagi pecinta sejarah, menyusuri wisata sejarah kota Makassar adalah hal yang wajib. Sebagai kota dunia sejak sejak abad 16, Makassar memiliki beberapa peninggalan sejarah yang menyimpan jejak masa lalu para pendahulu. Berikut beberapa tempat atau objek wisata sejarah Makassar yang bisa dikunjungi dalam sehari.

Benteng Jumpandang atau Fort Rotterdam

Benteng Jumpandang atau yang kini lebih dikenal sebagai Fort Rotterdam ini adalah satu satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi ketika berada di Makassar. Benteng ini adalah peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang mashyur di abad 16. Benteng Jumpandang dibangun oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna pada tahun 1545.

Pada awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin membuat dinding tembok yang kokoh dengan menggunakan konstruksi batu padas hitam yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng ini juga dikenal dengan Benteng Panynyua yang berarti penyu karena memiliki bentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Bentuk benteng yang menyerupai Penyu ini menggambarkan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan, seperti halnya penyu yang dapat hidup di darat maupun di laut.

Sejumlah pengunjung berkeliling melihat bangunan-bangunan bersejarah di Benteng Rotterdam, Makassar.

Sejumlah pengunjung berkeliling melihat bangunan-bangunan bersejarah di Fort Rotterdam, Makassar.

Pada tahun 1655 – 1669 benteng ini hancur karena diserang oleh armada perang Belanda yang dipimpin Gubernur Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman. Akibat serangan ini sebagian dari benteng hancur. Gubernur Jendral Admiral C.J. Speelman kemudian membangun kembali dengan menambahkan arsitektur Belanda dan mengubah namanya dari Benteng Jumpandang menjadi Fort Rotterdam Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda.

Di kompleks benteng ini pengunjung bisa menemukan jejak kebesaran Kerajaan Gowa – Tallo di Museum La Galigo. Museum ini menyimpan banyak referensi mengenai sejarah Gowa-Tallo dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Benteng Jumpandang ini terletak tak jauh dari Anjungan Losari, hanya berkisar 2 (dua) kilometer. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah sore hari agar bisa menikmati matahari terbenam setelah mengelilingi kompleks benteng.

Museum Kota Makassar [foto: Ipul Daeng Gassing]

Museum Kota Makassar [foto: Ipul Daeng Gassing]

Museum Kota

Museum ini terletak di Jl. Balaikota, tak jauh dari Benteng Jumpandang dan Lapangan Karebosi, landmark Makassar. Dulunya, gedung museum ini adalah bekas kantor gubernur jenderal Belanda yang kemudian dijadikan kantor walikota Makassar setelah kemerdekaan. Bangunan yang didirikan pada 1916 memiliki dua lantai dengan satu lantai mezzanine (lantai di antara dua lantai) dan difungsikan sebagai museum di era Drs. HB. Amiruddin Maula, S.H., Msi saat mengawali masa jabatannya sebagai walikota Makassar.

Menjelajahi museum ini Anda bisa menelisik sejarah dan perjalanan Kota Makassar dari jaman kerajaan Gowa – Tallo hingga seperti saat ini. Nuansa kolonial akan langsung terasa saat anda berada di depan bangunan bergaya Eropa Abad 17 ini. Sebuah meriam,- yang diperkirakan berusia 300 tahun dan dipergunakan pada perang Makassar di abad ke-17,- di depan museum siap menyambut kedatangan Anda. Dinding-dinding yang tebal, jendela-jendela kayu yang lebar dan beberapa ornamen gantung yang masih utuh terjaga membuat bangunan bersejarah ini berdiri kokoh dan berwibawa.

Koleksi Museum Kota Makassar  ini antara lain; benda-benda arkeologi, bola-bola meriam, keramik Cina dan Jepang masa Dinasti Ming abad ke 14-17 yang dibawa para pelaut Makassar dari negeri asalnya hingga koleksi uang kuno dan foto bersejarah. Ada pula koleksi dokumen Perjanjian Bungayya antara VOC dan Sultan Hasanuddin yang menandai berakhirnya jaman keemasan kerajaan Gowa – Tallo.

Kompleks Makam Pangeran Diponegoro

Kompleks Makam Pangeran Diponegoro

Makam Pangeran Diponegoro

Salah satu destinasi wisata sejarah yang layak dikunjungi di Makassar adalah makam Pangeran Diponegoro. Lokasi kompleks makam Pangeran Diponegoro dan keluarganya ini terletak di pusat kota Makassar, di dekat pusat perbelanjaan Pasar Sentral Makassar.

Sejarah mencatat Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan nasional yang giat menentang VOC Belanda. Perang Diponegoro memimpin perang perlawanan rakyat di sekitar dataran tinggi Semarang dan Magelang di tahun 1825-1830. Untuk mengakhiri perlawanan Pangeran Diponegoro, VOC menggunakan cara licik dengan menjebaknya melalui perundingan. Setelah tertangkap, Pangeran Diponegoro kemudian dibuang ke Belanda, lalu ke Manado Sulawesi Utara, tahun 1830 hingga tahun 1834.

VOC Belanda kemudian memindahkan dan mengasingkan Pangeran Diponegoro di salah satu sel Fort Rotterdam, Makassar pada tahun 1834-1855 hingga wafat pada 8 Januari 1855 silam.  Nama Pangeran Diponegoro kemudian diabadikan menjadi nama jalan di depan makam sejak tahun 1970-an, yang sebelumnya bernama Jalan Maccini Ayo, di daerah Kampung Melayu, Makassar.

Selain makam Pangeran Diponegoro juga terdapat makam istrinya, Raden Ayu Ratu Ratna Ningsih yang wafat pada tahun 1865. Di dalam kompleks makam yang asri dan rimbun pepohonan ini, juga terdapat 6 makam putra-putri Pangeran Diponegoro, yakni BRM Abdul rahman, BRM Abdul Rahim, BRA Putri Munadimah, BRM Abdul Gan dan BRM Abdul Gafur. Selain 87 makam anak-cucunya, para pengikutnya juga turut dikebumikan di kompleks makam ini.

(Visited 354 times, 1 visits today)


About

sharing is caring | bebas merdeka 100% | writer and traveller wannabe | peneliti paruh waktu | social media enthusiast |


'Wisata Sejarah Makassar Dalam Sehari' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool