Menikmati Uniknya Kuliner Khas Palopo

Menikmati Uniknya Kuliner Khas Palopo
5 (100%) 1 vote

Keindahan suatu daerah seringkali menjadi daya tarik utama bagi wisatawan baik lokal maupun manca negara. Selain itu keunikan kulinernya juga menjadi daya tarik lain yang sayang untuk dilewatkan. Setiap daerah memang memiliki kuliner khasnya masing-masing karena dipengaruhi oleh lokasi, tradisi dan budaya dari daerah tersebut. Selain wisata alam dan wisata sejarah, mencicipi kuliner khas Palopo juga termasuk hal yang wajib karena tidak akan dijumpai di tempat lain.

Setidaknya ada 7 makanan yang selalu saya rekomendasikan setiap kali ada yang bertanya tentang makanan tradisional apa yang sebaiknya mereka nikmati saat berada di Palopo. Apa saja kuliner khas Palopo yang unik tersebut? Simak yuk berikut ini.

Baca di sini tentang Wisata Sejarah di Kota Palopo

Kapurung Kuliner Khas Palopo

Kapurung

Kapurung merupakan masakan tradisional berbahan dasar sagu yang paling populer sebagai kuliner khas Palopo. Makanan ini mengenyangkan dan kaya akan gizi karena mengandung karbohidrat, protein dan sayur-sayuran. Bisa menggunakan kerang, ikan, ayam atau daging merah untuk proteinnya, sedangkan untuk sayurannya bisa beragam misalnya kacang panjang, jagung manis, jantung pisang, terong, katuk, kangkung, bayam, dan sayuran hijau lainnya.

Perasan jeruk nipis dan sambal merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari semangkok kapurung. Umumnya kapurung disajikan bersama dange atau lawa’. Di rumah saya di Palopo, kapurung ini merupakan salah satu menu buka puasa yang hampir setiap hari disajikan oleh mamak saya. Ya gimana, anak-anaknya yang mudik lebaran selalu minta makanan ini, kangen katanya 😀

Dange Kuliner Khas Palopo

Dange

Makanan khas dari Tana Luwu ini menggunakan bahas baku utama sagu yang dibakar dalam sebuah cetakan dari tanah liat yang mirip dengan cetakan buroncong atau kue pancong hanya saja dalam ukuran yang lebih tipis dan berbentuk kotak. Cetakan ini dibakar menggunakan kayu bakar hingga sagu berubah warna menjadi abu-abu dan butirannya saling melekat. Dange sudah matang dan siap disantap.

Dange ini memiliki cita rasa hambar dan kenyal karena tidak ada tambahan bumbu lainnya. Karena itulah dange lebih nikmat dimakan bersama kapurung, parede, lawa’ atau pacco. Dange dapat menjadi pengganti nasi karena kaya akan karbohidrat. Selain itu kandungan gulanya jauh lebih rendah jika dibandingkan nasi sehingga baik untuk para penderita diabetes.

Lawa' Kuliner Khas Palopo

Lawa’

Makanan tradisional Palopo ini merupakan lauk yang dimakan bersama nasi atau dange. Rasa pedas, asam dan segar berpadu menjadi satu. Yang menjadi ciri khasnya adalah campuran parutan kelapa sangrai. Ada beberapa jenis lawa’ yang saya jumpai yaitu lawa’ paku (sayur pakis), lawa’ ikan dan lawa’ ayam. Ikan yang digunakan untuk dilawa’ umumnya adalah ikan besar misalnya tuna. Saat mudik lebaran ke Palopo kemarin, akhirnya saya makan lawa paku dan lawa’ ayam lagi setelah sekian lama tidak merasakan enaknya makanan tradisional ini.

Pacco Kuliner Khas Palopo

Pacco

Cara membuat pacco gampang-gampang susah, saya sendiri belum pernah sukses membuat makanan tradisional ini 😀 Hal penting dalam membuat pacco’ adalah kualitas daging ikan yang digunakan haruslah segar. Umumnya yang digunakan adalah ikan laut kecil seperti ikan teri dan ikan lainnya yang tergolong kecil. Ikan tersebut dibuang tulang dan kepalanya, dipotong-potong dan dicampur dengan perasan jeruk nipis. Diamkan beberapa saat hingga daging ikan memutih yang tandanya sudah matang. Tambahkan ulekan kacang goreng dan cabe sesuai selera. Rasanya asam dan pedas, bikin selera makan meningkat.

Selain ikan, udang juga bisa dibuat jadi pacco’ udang. Cara membuatnya juga sama. Dibuang kepala dan ekornya lalu dicampur dengan perasan jeruk nipis dan didiamkan beberapa saat. Kesegaran udang menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Bagaimana rasanya? Coba sendiri deh. Saya sih lebih suka pacco’ udang dibandingkan ikan. Duh menuliskan ini saja sudah bikin saliva berkumpul di mulut xD

Parede Kuliner Khas Palopo

Parede

Jika dilihat sepintas parade mirip dengan masakan pallumara, salah satu ikon kuliner kota Makassar. Tapi jika diperhatikan lebih teliti, dua jenis masakan ini berbeda dan memiliki karakter khasnya masing-masing. Kuah masakan parede lebih bening dengan warna kuning pucat dan rasa asam segar yang dominan. Cara memasak parede ikan sangatlah sederhana dan bumbu yang digunakan pun minimalis. Asam yang digunakan untuk memasak parede adalah patikala, di daerah lain lebih dikenal dengan nama buah kecombrang atau honje. Bahan lainnya adalah garam dan cabe rawit utuh.

Temukan berbagai penawaran wisata menarik di sini Booking tiket pesawat, Pilihan penginapan yang murah, dan Beragam paket wisata

Bagea Kuliner Khas Palopo

Bagea

Bagea disebut-sebut sebagai salah satu ole-ole khas Palopo. Kue ini terbuat dari sagu yang dicampur beberapa bahan lainnya lalu dipanggang. Ada berbagai jenis rasa kue bagea yang ditawarkan yaitu kenari, kacang dan wijen. Rasanya gurih dan renyah, sangat nikmat disantap sore hari bersama secangkir kopi atau teh panas.

Jadi, dari 7 kuliner khas Palopo yang saya sebutkan di atas, kamu sudah mencicipi yang mana saja? Bagaimana rasanya menurutmu?

(Visited 286 times, 1 visits today)


About

Mother of #BabyJo || Blogger http://nanie.me || Traveller and Food Lover http://jokkajokka.com || Find me at IG @naniekoe


'Menikmati Uniknya Kuliner Khas Palopo' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool