rumah manurung umpungeng soppeng

Tradisi Pencucian Pusaka di Umpungeng Soppeng

Tradisi Pencucian Pusaka di Umpungeng Soppeng
5 (100%) 1 vote

Alunan bunyi pukulan gendang berirama sanjungan pada sang Dewata semakin terdengar megah di gendang telingah, kerumunan orang di depan rumah besar yang berbentuk rumah tinggi tradisional suku Bugis yang dilengkapi dengan hiasan Lawa Suji (simbol kosmologi masyarakat Bugis) itu terlihat padat, seperti lagi menyaksikan sebuah pesta besar yang wajib mereka lihat. Begitulah suasana yang masih terekam di kepala saat sampai di Desa Umpungeng – Soppeng yang berjarak sekitar kurang lebih 140 kilo meter dari kota Makassar

Hari itu saya memang sengaja menempuh perjalanan beratus kilometer dari Makassar menuju perbatasan Bulu Dua – Soppeng untuk melihat prosesi ritual adat Maccera Tana & Mallangi Arajang (memberikan persembahan pada tanah dan pencucian benda pusaka) yang diadakan di desa tersebut.

Pencucuian Pusaka di Umpungeng Soppeng

Saat menghadap ke arajang

Salah satu prosesi dalam ritual Maccera Arajang (pencucian pusaka) di Umpungeng

Bagi masyarakat Bugis, Arajang adalah sebuah Pusaka Keramat yang ditinggalkan Manurung (orang yang turun dari langit) atau Arung (raja) sebagai pengingat kepada masyarakat setempat. Bagi masyarakat Umpungeng Arajang yang mereka ingin sucikan adalah peninggalan salah seorang raja yang sangat berkuasa saat itu, yakni Arung Palakka.

****

Pada pertengahan Agustus 1660, Pasukan Kerajaan Gowa dan Pasukan Kerajaan Wajo yang saat itu menjadi sekutu Gowa menyerang Pasukan Arung Palakka di Lisu – Bone, karena serbuan pasukan Gowa dan Wajo begitu besar akhirnya Arung Palakka dan pasukannya yang masih tersisa mundur ke Maruala, selatan Lisu. Di Maruala Arung Palakka dan pengikutnya bersembunyi di sela-sela batu besar, masyarakat Tanete merahasiakan tempat persembunyian Arung Palakka dan saat malam hari membawakan makanan serta minuman bagi Arung Palakka serta pengikutnya.

Pasukan Gowa yang mengejar Arung Palakka akhirnya mengetahui persembunyian Arung Palakka di Maruala, tapi sebelum Pasukan Gowa tiba, Pabbicara Tanete telah memberitahukan pada Arung Palakka untuk segera keluar dari persembunyian dan berpindah. Saat Melarikan diri, ia dan beberapa pengikut setianya tiba di Uwaempalleng. Di tempat ini paman dari Arung Palakka, Babae, mendesaknya untuk segera ke Umpungeng, sementara ia dan 7 pasukannya akan memperlambat pengejaran pasukan kerajaan Gowa dengan cara menyerangnya secara membabi buta. (Warisan Arung Palakka, hal. 71-73)

Di Umpungeng, Arung Palakka disembunyikan oleh Arung Umpungeng dari kejaran pasukan kerajaan Gowa. Atas bantuan penguasa Umpungeng tersebut Arung Palakka lalu memberikan hadiah penghormatan berupa segenggam rambutnya yang dipotong sebagai tanda kalau ia pernah bermukim di desa tersebut. Rambut tersebut panjangnya 30 cm atau satu jengkal tangan orang dewasa ditambah satu genggaman.

Ketika memberikan potongan rambut itu kepada Arung Umpungeng, Arung Palakka Berkata “Akko iye mupakalebbi Arung Umpungeng iya mupakalebbi, Akko iya muparakai Arung Umpungeng iya muparakai, Akko iye mucaro Arung Umpungeng iya mucaro” (Jika ini yang engkau muliakan Arung Umpungeng, saya yang kau muliakan, Jika ini yang engkau jaga Arung Umpungeng, saya yang kau jaga, Jika ini yang engkau hormati Arung Umpungeng, maka sesungguhnya Zat Kemulianlah yang engkau hormati). [Indo Nihan – Sesepuh Adat dan Penjaga Arajang Umpungeng]

petua adat umpungeng
Andi Baso Petta Karaeng

Pesta adat Maccera Tana & Mallangi Arajang tahun ini diadakan selama 3 hari 3 malam. Menurut sesepuh Adat Umpungeng – Andi Baso Petta Karaeng, Maccera Tana & Mallangi Arajang adalah sebuah pesta adat yang dilaksanakan dari hasil sumbangan sukarela masyarakat Umpungeng. Pesta adat kebanggaan masyarakat Bugis di Umpungeng tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah setempat, ujar Puang Baso dengan raut yang kecewa, maka kamilah sebagai warga yang berinisiatif sendiri untuk terus menjaga tradisi ini agar tidak terkikis oleh jaman.

sesajen saat ritual adat
Persembahan yang disiapkan saat melakukan ritual adat di Umpungeng

Adapun tahap-tahap prosesi dalam pesta adat Maccera Tana & Mallangi Arajang berdasarkan penuturan Andi Baso Petta Karaeng adalah: hari pertama, melakukan ritual maccera tana atau memberikan persembahan pada pocci tana kepercayaan masyarakat Umpungeng. Keesokan harinya dilanjutkan dengan pengambilan air suci di Pitu Bujung (7 sumur) untuk pencucian Arajang pada puncak Gunung Latuli Dusun Umpungeng. Setelah air suci yang diambil dari pitu bujung tersebut dibawa turun ke rumah manurung, maka prosesi berikutnya adalah memandikan atau mensucikan Arajang yang berupa peninggalan potongan rambut Arung Palakka itu menggunakan air suci yang telah diambil dari pitu bujung. Setelah selesai dimandikan, Arajang siap untuk dikembalikan ke tempatnya semula dan nanti akan dikeluarkan kembali saat Arajang Umpungeng tersebut siap untuk disucikan tahun depan.

penjaga arajang umpungeng
Penjaga Arajang di Umpungeng – Soppeng

Bila datang saat bulan-bulan Februari – Maret di Makassar, sempatkanlah untuk melihat prosesi adat Maccera Tana dan Mallangi Arajang (memberikan persembahan pada tanah dan pencucian benda pusaka) di Umpungeng Soppeng.

(Visited 881 times, 1 visits today)


About

Blogger yang juga senang jalan dan fotografi, sibuk jadi buruh online.


'Tradisi Pencucian Pusaka di Umpungeng Soppeng' have 2 comments

  1. July 3, 2015 @ 9:08 pm Nanie

    Tutup kepalanya Andi Baso Petta Karaeng beda dih, ada namanya memang atau bagaimana?

    Reply

    • August 24, 2016 @ 3:36 pm Faris

      Menurut pengetahuan saya, songkok yg dikenakan namanya songkok baku. Ciri khas songkok yang digunakan masyarakat Umpungeng pada masanya.

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool