Tope Le’leng, Sarung Hitam Khas Kajang

Tope Le’leng, Sarung Hitam Khas Kajang
5 (100%) 2 votes

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang memiliki beragam corak bahasa dan kebudayaan. Mulai dari bahasa hingga pakaian adat. Salah satu kebudayaan Indonesia adalah corak tenun tradisional. Membahas tentang tenun, berarti sangatlah erat kaintannya dengan perempuan. Perempuan-perempuan tanah air memiliki tangan-tangan terampil yang lahir secara alamiah. Ditangannya lahir kain-kain nusantara yang mencerminkan corak suatu komunitas atau kebudayaan. Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki kain-kain khas tradisional.
Sebagian besar kain-kain tradisional di Indonesia dibuat dengan tenun. Menenun adalah sebuah teknik menggabungkan benang secara memanjang dan melintang yang sebelumnya di beri pewarna alami (daun atau kulit kayu).

Proses menenun sarung hitam

Suku kajang adalah sebuah komunitas adat di Sulawesi Selatan yang di kenal dengan pakainan hitam. Komunitas adat ini bermukim di desa Tana Towa, Kec. Kajang. Kabupaten Bulukumba. Setiap hari mereka menggunakan sarung hitam (tope leleng) yang mereka tenun sendiri dengan menggunakan pewarna alami.
Tope le’leng atau sarung hitam adalah sarung khas kajang yang dibuat dengan proses alamiah dan ditenun dari tangan-tangan terampil perempuan kajang. Sarung ini adalah pakaian masayarakat kajang yang digunakan sehari-hari. Sarung ini juga menjadi syarat ketika ada upacara-upacara adat di kajang.

Tenun kajang adalah sebuah budaya dimana prosesnya memiliki ikatan dengan alam. Alat-alat tenun yang digunakan adalah warisan nenek moyang yang terbuat dari bambu dan kayu. Pada umumnya ibu-ibu di kajang menenun di bawah rumah atau biasa juga di sebut siring.

Sarung hitam ini di buat dengan proses tradisional dengan tangan-tangan terampil perempuan kajang. Tidak semua perempuan (ibu) di sana bisa menenun. Keterampilan menenun juga lahir secara turun temurun. Pertama mereka menanam daun tarung, selama beberapa bulan daun tarung mereka petik kemudian di rendam beberapa hari dalam baskom atau ember. Daun tarung adalah sejenis tumbuhan yang menghasilkan warna hitam yang mereka gunakan sebagai pewarna hitam untuk benang.
Sarung Hitam Khas Kajang

Sekarang orang-orang di kajang menggunakan benang katun putih yang biasanya di pasok dari pasar butung Makassar. Dahulu sebelum menggunakan benang mereka menggunakan bahan baku dari kapas. Benang- benang putih mereka kemudian di rendam beberapa hari dalam baskom yang, dan jemur dibambu panjang di bawah terik matahari selama beberapa jam.
Setelah proses mengitamkan benang dari daun tarung selesai. Benang-benang tersebut kemudian di pintal dan di masukkan kedalam alat tenun. Proses menenun satu sarung adalah tiga sampai empat bulan lamanya. Sarung hitam ini biasanya di beri motif biru, merah dan putih, yang di buat vertical. Motifnya tidak ramai seperti kain-kain etnik pada umumnya. Sesuai dengan prinsip masyarakat Kajang sendiri yaitu sederhana.

Sarung Hitam Khas Kajang
Selain sarung hitam, mereka juga juga menenun passapu. Passapu adalah kain hitam yang digunakan sebagai ikat kepala. Setelah melalui proses panjang, sarung hitam ini kemudian dibuat mengkilat, dalam bahasa kajang di sebuat ‘garusu’. Sarung hitam dibuat mengkilat dengan menggunakan Kerang dari laut.

Sarung kajang tidak diproduksi dalam jumlah yang banyak sehingga tidak banyak ditemukan di took oleh-oleh di Makassar. Harganya pun lumayan mahal, sekitar lima ratus ribu hingga satu jutaan. Jika ingin mendapatkannya kamu bisa membelinya di pasar di Tana Toa atau memesan khusus di Lokasi pembuatannya di Desa Tana Towa, Kec kajang. Kab. Bulukumba

(Visited 1,174 times, 1 visits today)


About

Saya menyukai matahari dan perjalanan-perjalanan bersamanya


'Tope Le’leng, Sarung Hitam Khas Kajang' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool