Terowongan Sumpang Labbu

Terowongan Sumpang Labbu, Saksi Bisu Kisah Kelam Orang Bone

Terowongan Sumpang Labbu, Saksi Bisu Kisah Kelam Orang Bone
3.5 (70%) 2 votes

Ramadhan sebentar lagi akan usai (saat tulisan ini ditulis). Katanya dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan yang penuh itu bukan lagi masjid, tapi pelabuhan, stasiun, dan terminal. Tapi sayang di Sulawesi belum ada stasiun. Tradisi mudik yang menyebabkan perpindahan para jamaah tarawih masjid itu. Di Sulawesi Selatan lebih dikenal dengan istilah pulang kampung, bukan mudik. Menjelang lebaran tiba maka pertanyaan-pertanyaan seputar pulang kampung terdengar dimana-mana.

Tak terkecuali saya yang tiap tahun juga melakukan kebiasaan pulang kampung itu, tapi maaf saja, saya tidak termasuk didalamnya orang yang memenuhi terminal di sepuluh terakhir Ramadhan, hehehe… Dengan tradisi ini, saya selalu berusaha pulang ke rumah, setidaknya sekali dalam setahun.

Terowongan Sumpang Labbu

Rehat sejenak di terowongan Sumpang Labbu

Saat perjalanan pulang ke kampung halaman dari Makassar menuju Bone yang melalui jalan poros Maros – Bone pasti akan melalui satu terowongan yang sangat legendaris, sebuah terowongan batu yang dibangun pada masa penjajahan kompeni Belanda dulu. Terowongan yang juga memiliki sejarah kelam penderitaan yang dialami orang-orang Bone dalam pembangunan terowongan batu itu. Cucuran darah dan keringat banyak yang tertumpah. Ribuan nyawa menjadi korban dalam pembangunannya. Terowongan itu adalah terowongan batu Sumpang Labbu, begitu masyarakat sekitar menamakannya.

Sumpang labbu yang memiliki panjang sekitar 8 meter dan lebar 5 meter itu dalam bahasa bugis sumpang berarti pintu, sedangkan labbu berarti tepung. Jadi, sumpang labbu berarti pintu tepung atau pintu dari tepung, tetapi artinya tidak sesederhana demikian, nama tersebut memiliki sejarahnya tersendiri.

Terowongan Sumpang Labbu

Terowongan ini bukan buatan alami, tapi hasil dari pahatan tangan manusia

Saat masa penjajahan dulu, ketika Belanda saat itu berencana membuat jalan tembus dari Bone menuju Makassar terhalang sebuah batu besar. Pembangunan pun menemui jalan buntu, tak ada cara yang bisa digunakan untuk memindahkan batu cadas tersebut. Jalan satu-satunya saat itu adalah dengan melubangi batu besar itu menjadi sebuah terowongan. Terowongan itu dibuat dengan mengerahkan ribuan rakyat bone untuk memahat batu itu dengan tangan dan alat seadanya. Tak terbayangkan betapa sulitnya memahat batu hingga banyak menimbulkan korban jiwa karena sistem kerja rodi yang dipaksakan kala itu. Jika menggunakan teknologi sekarang tentulah tidak terlalu sulit. Batu besar itu dipahat dan serpihan-serpihan pahatan itu halus seperti tepung (labbu), sehingga dinamakanlah sumpang labbu.

Terowongan yang berada di perbatasan Kecamatan Ulaweng dan Bengo itu kini menjadi pintu bagi para pelintas yang keluar masuk Bone – Makassar yang merupakan akses paling dekat. Saya pun selalu menyaksikannya terowongan itu ketika akan pulang ke kampung halaman maupun kembali di perantauan. Orang-orang yang akan menuju Sulawesi Tenggara pun juga pasti melaluinya jika melalui pelabuhan Bajoe yang ada di Bone menuju Kolaka di Kendari.

Terowongan Sumpang Labbu

Melintasi Terowongan Sumpang Labbu Bone

Ada suatu ketika sebuah mobil ekspedisi yang ingin melintas tapi bagian atasnya tersangkut saat memasuki terowongan. Tak ada jalan kembali. Mau tidak mau sebagian muatannya harus dibongkar dulu di salah satu sisi terowongan kemudian memuatnya kembali disisi yang lain terowongan itu. Mungkin pada saat itu Belanda belum memperhitungkan ukuran mobil ekspedisi yang sebesar dan setinggi itu.

Disatu pihak terowongan ini menjadi saksi bisu cerita kelam akan kekejaman kerja paksa Belanda terhadap orang-orang bone, namun di pihak yang lain dengan adanya terowongan batu itu memberi manfaat bagi banyak orang untuk akses keluar dan masuk ke Bone, bahkan Sulawesi tenggara. Bagi saya kadang tempat itu menjadi tempat beristirahat sejenak dari lelahnya perjalanan panjang dan berkelok menuju rumah, apalagi di bagian atasnya telah dibangun gazebo dan bisa menikmati pemandangan alam pegunungan sekitar yang cantik.

(Visited 5,563 times, 1 visits today)


About

rangkaijejak.wordpress.com | Selalu penasaran dengan tempat baru ~ Blogger Newbie ~ Fotografer Wannabe


'Terowongan Sumpang Labbu, Saksi Bisu Kisah Kelam Orang Bone' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool