Tentang Hutan, Bagi Komunitas Adat Tana Toa

Tentang Hutan, Bagi Komunitas Adat Tana Toa
5 (100%) 1 vote

Pada masyarakat tradisional pada prinsipnya apa saja, matahari, gua, bulan, air, bisa menjadi sesuatu yang sakral bagi kehidupan mereka. Begitu pula komunitas adat tana toa yang berlokasi di Kec Kajang ,Kab Bulukumba, Sulawesi Selatan. Bagi mereka alam adalah hal yang menyatu di kehidupan. Hutan adalah bagian terbesar dikehidupan mereka. Borong karama (hutan keramat/hutan adat) adalah hal yang sangat sakral. Orang kajang percaya, bahwa penjaga hutan ada di setiap penjuru mata angin.

Jadi menjaga hutan sama dengan menjaga kehidupan mereka. Dalam kawasan adat Kajang terdapat hutan adat yang luasnya 331,17 ha. Dalam hutan adat terdapat larangan-larangan agar masyarakat tetap menjaga isinya karena dianggap sakral, selain itu hutan adat juga di gunakan masyarakat dalam ritual dan upacara adat.

Mereka (red: orang kajang) percaya dalam hutan ada empat unsur kehidupan yang harus di jaga yaitu kaju (kayu), uhe (rotan), bani (lebah/madu) dan doang (udang). Keempat hal tersebut yang tidak boleh di rusak ataupun di ambil dalam hutan adat. Selanjutnya adalah mata air. Mata air dari hutan mengalir dari bagian hulu hingga ke hilir. Mata air (sumur) menjadi sumber kehidupan sehari-hari dan digunakan untuk bercocok tanam di sawah dan di kebun.
Borong karama (hutan keramat) memliki kekuatan gaib, jika kita melanggar aturan-aturan dalam hutan maka kehidupan kita akan mendapat bencana. Secara ideologi, hubungan masyarakat dengan alam adalah fenomena-fenomena ritual, kepercayaan dan berbagai mitos-mitos. Maka menjaga hutan itu melalui pasang (pesan-pesan lisan). Ada beberapa pesan-pesan lisan tentang kewajiban menjaga hutan yaitu :

Iya minjo boronnga kunne pusaka
Anjo borongga angintongi bosiyya
Akara kajua akka patompo tumbusu

Artinya : Hutanlah yang menjadi pusaka
Hutanlah yang kendatangkan hujan
Akar kayu memperbesar mata air

Bait pasang tersebut tertulis pada sebuah papan di pintu gerbang kawasan adat. Sepertinya ini juga menjadi peringatan untuk para pengunjung agar menjaga hutan dan lingkungan. Tidak ada hukum tetulis bagi yang melanggar melainkan merusak alam berarti sanksinya dari alam pula.

Pappuruk surakau
Anrekmo natarangi mata ello
Battu ri attang battu ri ahang
Battu ilauk, battu ri aja
Kamma lekok ruang appucu
Teppomuseng aklorongi tappamuseng

Artinya :
Hidupnya akan melarat sepanjang masa
Tidak akan di sinari matahari
Dari segala penjuru
Bagai daun berpucuk patah
Bagai tumbuhan merambat dan menjalar akan putus

Ritual-ritual adat dilaksanakan di hutan ini, seperti memilih pejabat atau pemilihan Amma Toa, pemilihan Amma Toa dilakukan di hutan dengan ritual yang diberi nama Panganro Lompo. Melalui acara inilah alam akan memilih siapa yang berhak memilih Amma Toa (pemimpin adat Tana Towa). Yang kedua adalah addinging borong (mendinginkan hutan) acara ini dilaksanakan tiap tahun, biasanya sekitar bulan oktober atau november. Mendinginkan hutan maksudnya agar alam tetap ramah terhadap makhluk hidup, upacara ini untuk memanjatkan doa agar seisi bumi tidak terjadi bencana.

Catatan :
Pasang adalah pesan-pesan lisan yang berisi aturan-aturan, larangan, dan petuah-petuah yang menjadi kepercayaan masyarakat kajang.

(Visited 315 times, 1 visits today)


About

Saya menyukai matahari dan perjalanan-perjalanan bersamanya


'Tentang Hutan, Bagi Komunitas Adat Tana Toa' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool