Tape, Bahaya Laten di Idul Fitri

Tape, Bahaya Laten di Idul Fitri
5 (100%) 1 vote

LEBARAN ADALAH MASA-MASA YANG BERBAHAYA. Kenapa? Karena saat lebaran ragam makanan yang super lezat bertebaran dimana-mana, gratis dan bisa dicecap sepuasnya. Ini tentu saja berbahaya karena bisa mengganggu stabilitas asam urat, kolesterol, tekanan darah dan macam-macam organisme serta metabolisme tubuh. Kalau tak bijak bisa-bisa lebaran akan berujung pada bermacam-macam penyakit.

Tapi, apakah bahaya itu disadari orang? Sepertinya tidak semua. Toh lebaran tetap dinikmati nyaris dengan mata tertutup oleh sebagian besar dari kita. Kapan lagi bisa menikmati hari raya dengan suasana menyenangkan dan makanan berlimpah? Lebaran hanya setahun sekali, tak apalah sekali-sekali menutup mata dan telinga pada anjuran-anjuran dokter atau artikel-artikel kesehatan. Betul kan?

Makassar dan Sulawesi Selatan sebagai salah satu daerah yang dihuni mayoritas muslim tentu saja tak luput dari keriuhan lebaran seperti daerah-daerah lain di Indonesia. Ritual-ritual khas Idul Fitri menjadi ritual yang tak terpisahkan setiap tahunnya, termasuk beragam makanan yang jadi pelengkap Idul Fitri.

Makanan-makanan berat semacam opor, pallu basa, coto, konro dan teman-teman sejawatnya selalu hadir di kala lebaran menemai ketupat, burasa, lappa-lappa dan lain-lain karbohidrat yang  dibuat dari beras. Semua bersinergi menyukseskan Idul Fitri, melengkapi keriangan hari raya.

*****

DARI BERAGAM PENGANAN KHAS IDUL FITRI, satu yang selalu jadi favorit saya adalah tape ketan. Orang Sulawesi Selatan hanya menyebutnya dengan tape meski bagi orang Jawa tape berarti singkong yang diragi. Penganan yang satu ini paling banyak hadir di hari raya meski kadang di hari lain juga dia hadir, utamanya ketika ada acara besar seperti pernikahan. Tape lebih dekat dengan suku Bugis utamanya yang berdomisili di daerah Pare-Pare, Sidrap, Pinrang, Soppeng, Wajo dan Bone. Dalam tradisi suku Makassar sendiri tape juga dikenal meski kurang akrab dan tidak jadi menu wajib di hari raya.

Ini dia si tape itu

Ini dia si tape itu

Tape yang berbahan dasar beras ketan hitam (meski ada juga yang menggunakan beras ketan putih) ini rasanya campuran antara manis dan kecut. Proses pembuatannya gampang-gampang susah. Beras ketan yang sudah dipilih akan dikukus dulu dalam dandang. Setelah matang kemudian dibentuk seperti bola-bola kecil dengan kepalan tangan kemudian diangin-anginkan. Biasanya proses ini dilakukan di atas alas daun pisang. Setelah dirasa cukup, bahan tape yang sudah setengah jadi ini ditaburi ragi dan dibiarkan selama beberapa hari hingga proses peragian dirasa sempurna. Proses ini bisa memakan waktu 2-3 hari.

Beras ketan hitam, bahan dasar tape

Beras ketan hitam, bahan dasar tape

 

Harus ditambah ragi supaya tapenya jadi

Harus ditambah ragi supaya tapenya jadi

Sekilas pembuatannya memang mudah, tapi ternyata tidak. Beberapa wanita Bugis yang saya temui sampai mengangkat tangan dan mengaku tidak percaya diri untuk membuatnya. Pembuatan tape ini memang lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita. Dalam kepercayaan orang Bugis, pembuatan tape harus dilakukan oleh mereka yang benar-benar bersih, minimal bersih tangan dan raganya.

Wanita yang kotor tangannya, berminyak atau sedang datang bulan dipercaya tidak akan bisa membuat tape yang bagus. Ada saja masalahnya, entah beras ketannya tidak bisa diragi dengan sempurna, tapenya jadi tapi kurang manis, atau bahkan tapenya gagal sama sekali. Entah apa penjelasan logisnya, tapi cerita tentang wanita yang gagal membuat tape sudah sering saya dengar.

Selain kepercayaan yang berkaitan dengan pembuatannya, tape juga menyimpan cerita lain. Di kabupaten Soppeng, beberapa orang yang saya temui mengaku tidak berani membawa tape yang sudah masak melintas daerah. Pasalnya mereka percaya kalau membawa tape melintas daerah bisa membawa kesialan, utamanya kecelakaan. Sekali lagi sulit mencari penjelasan logis dari kepercayaan ini, tapi tetap saja ada yang mempercayainya.

Nah kalau soal rasa, saya tidak perlu mencari penjelasan logis untuk menerangkan nikmatnya tape Bugis. Kalau bosan menikmatinya begitu saja, saya kadang mencampurnya dengan sirup DHT –sirup legendaris kota Makassa-dan susu kental manis. Rasanya? Duh! Ketika menuliskannya saja mulut saya rasanya basah oleh liur. Kalau tidak ingat kesehatan saya bisa menyantap belasan biji sekali makan. Tapi saya harus tetap menjaga diri, kebanyakan makan tape bisa membuat mabuk dan bahkan bisa mengundang ragam penyakit lainnya. Jadilah tape saya makan sedikit-sedikit, bagaimanapun kesehatan tentu nomor satu.

Lebaran memang saat yang berbahaya. Berbahaya kalau kita tidak bisa menahan diri dari banyaknya makanan lezat yang kadang mengancam kesehatan bila kita tidak bijak. Salah satu bahaya buat saya ya tape ini. Saya harus menahan diri sekuat mungkin agar tidak sampai kebablasan. Tape memang bahaya laten di Idul Fitri! [dG]

(Visited 477 times, 1 visits today)


About

Blogger ~ Suka jalan-jalan gratisan ~ Sedang belajar motret ~ Mengasuh http://daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri


'Tape, Bahaya Laten di Idul Fitri' have 1 comment

  1. July 22, 2015 @ 7:18 am Nanie

    kalau di rumahku, prosesnya terbalik. Setelah didandang, diangin-anginkan dulu di atas baki lebar, dikasi ragi baru dibulat-bulatkan 😀

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool