Tenang, Sop Saudara Tidak Pakai Daging Saudara Koq

Vote Us

“Orang Makassar itu sadis ya, daging saudara sendiri dibikin sup,” Begitu sebuah candaan biasa kami dengar. Tentu saja itu hanya bercanda dan sama sekali tidak benar. Mana ada orang yang makan daging saudara sendiri? Ih, mengerikan sekali.

Sup yang dimaksud dalam candaan itu adalah sup saudara, atau lebih tepat lagi sop saudara. Lidah orang Makassar mengganti huruf “U” dengan huruf “O”. Kalau Anda ke Makassar, Anda pasti akan melihat beberapa warung makan yang menghidangkan sop saudara sebagai menu utamanya.

Saking populernya jenis sup yang satu ini, pemerintah Kota Makassar bahkan memasukkannya sebagai salah satu ikon kuliner Kota Makassar, bersanding dengan sembilan kuliner lainnya. Sop saudara memang jadi salah satu makanan khas dari kota Makassar. Salah satu yang harus dicari oleh para pendatang ketika ada di kota Anging Mammiri ini.

Sop ini sendiri adalah makanan khas Sulawesi Selatan, terdiri dari daging sapi, jeroan sapi dan ditambah dengan perkedel kentang, paru goreng dan laksa. Kuahnya tidak jauh beda dengan kuah coto, berwarna kecokelatan dan penuh dengan rempah.

sop saudara

Sepiring nasi putih dan sop saudara

 

 

Sop Saudara Sudah Ada Sejak Tahun 1950an.

Tidak ada catatan jelas tentang bagaimana muasal dari makanan satu ini, tapi beberapa cerita menggambarkan kalau sop saudara sudah ada sejak tahun 1950an, tepatnya sekira tahun 1958. Kuliner yang satu ini dimulai oleh (Alm) H. Zubair yang pertama membuka warung sop di sekitaran Pasar Sentral di tahun 1958. (Alm) H. Zubari bersama salah seorang pembantu setianya yang bernama Abdullah, membesarkan warung yang terkenal dengan nama warung Sop Sentral. Hidangan utama mereka adalah sop daging bersama nasi putih.

Abdullah yang kemudian menjadi H. Abdullah sepulang dari tanah suci menjadi pembantu (Alm) H. Zubair selama dua tahun. Setelah itu dia kemudian mencoba peruntungan sendiri dan memisahkan diri dengan membuka warung sendiri. Warung itu letaknya tidak terlalu jauh dari Pasar Sentral, tepatnya di sekitar Jalan HOS Cokroaminoto.

 

sop saudara

Suasana salah satu warung Sop Saudara

 

Meski sudah berdiri sendiri, H. Abdullah tidak mau menyaingi mantan boss yang sekaligus sudah dianggapnya orang tua sendiri, dia lalu mencari nama yang berbeda untuk warung sopnya. Setelah berpikir lama, dia menjatuhkan pilihan pada kata Sop Saudara. Pertimbangannya, agar orang merasa bahwa warung itu punya saudara sendiri atau keluarga sendiri. Ada juga yang mengartikan kalimat Sop Saudara sebagai akronim dari: Saya Orang Pangkep, Saudara. Pangkep atau Pangkajene Kepulauan memang adalah daerah asal dari H. Abdullah dan (Alm) H. Zubair.

Kabupaten Pangkajene Kepulauan, kampung asal H. Abdullah memang terkenal sebagai penghasil ikan bandeng terbesar di Sulawesi Selatan. Tidak heran kalau sampai sekarang warung yang menjual kuliner satu ini biasa mengikutkan kata “Pangkep” di belakangnya.

Abdullah tidak bertahan lama di Jalan HOS Cokroaminoto. Dia harus berpindah-pindah karena usahanya digusur oleh pembangunan. Barulah pada tahun 1970an dia menetap di Jalan Andalas, tidak jauh dari Masjid Raya Makassar. Sampai sekarang H. Abdullah masih berjualan di sana.

Berawal dari H. Abdullah, resep sop daging yang disebut sop saudara itu kemudian menyebar. Warung dengan sajian yang sama makin menjamur di kota ini hingga akhirnya makanan yang satu ini dianggap sebagai salah satu kekhasan kuliner kota Makassar.

 

sop saudara

Sop saudara dan ikan bandeng (foto: Wikipedia)

 

Mau jalan-jalan? Temukan berbagai pilihannya di sini: Booking tiket online , Hotel di Makassar , dan buat paspor online

 

Sop Saudara dan Ikan Bandeng.

Sebagai kuliner yang diciptakan oleh orang Pangkep, tidak heran kalau makanan juga dekat dengan ikan bandeng (orang SulSel menyebutnya: ikan bolu). Bahkan, sebagian besar sop saudara memang satu paket dengan ikan bandeng bakar.

Memang masih ada juga beberapa warung yang berdiri sendiri alias tidak menyediakan ikan bandeng bakar sebagai pasangannya. Misalnya, sop saudara Jalan Irian yang cukup terkenal namun tidak menyediakan ikan bandeng bakar. Meski begitu warung ini tetap ramai dan jadi salah satu yang terpopuler di Makassar.

Mau menikmati sop saudara dengan ikan bandeng atau tidak tentu adalah pilihan masing-masing. Kadang kalau memang hanya ingin menikmati ikan bandeng bakar, kita juga bisa meminta kuah sop sekadar sebagai penambah rasa. Tidak masalah koq, rata-rata warung sop saudara dan ikan bakar tidak keberatan.

Jadi kalau kalian memang ada kesempatan datang ke Makassar, jangan sampai terlewat ya menikmati sop saudara. Sop yang sudah jadi kekayaan kuliner Sulawesi Selatan, bahkan jadi ikon kuliner kota Makassar. Tidak perlu kuatir, dagingnya daging sapi koq. Bukan daging saudara sendiri, hehehe.

 

(Visited 59 times, 1 visits today)


About

Reinventing Teamwork


'Tenang, Sop Saudara Tidak Pakai Daging Saudara Koq' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool