sinrilik makassar, seni khas makassar

Sinriliq, Seni Khas Dari Makassar

Vote Us

Seorang pria berbaju merah duduk di bawah temaram lampu. Kepalanya tertutup kain berwarna cokelat bercorak batik. Di tangan kanannya sebuah bilah dengan senar melintang menggesek sebuah alat musik yang berdiri dan dipegang tangan kirinya. Dari mulutnya keluar alunan suara mendayu-dayu dengan nada yang ritmis. Pria itu bernama Syarifuddin Daeng Tutu, seorang seniman asli Sulawesi Selatan yang masih mengggeluti seni tradisional. Alat musik yang dimainkannya bernama kesok-kesok, sedang alunan lagu yang dinyanyikannya bernama sinriliq. Beliau sendiri sebagai pemain disebut pasinriliq.

sinriliq, seni khas makassar

Syarifuddin Daeng Tutu, salah satu pasinriliq yang tersisa

Seni sinriliq adalah seni tutur prosa peninggalan kerajaan Gowa-Tallo, diperkirakan lahir sejak abad ke-15. Tidak ada catatan pasti dari mana asal musik ini, atau pengaruh dari mana. Di abad ke-15 kerajaan Gowa-Tallo memang jadi salah satu kerajaan yang paling ramai di nusantara. Pedagang dari negeri jauh seperti Eropa, Asia Timur dan Asia Tengah berbondong-bondong memenuhi pelabuhan kerajaan Gowa-Tallo. Mungkin dari persentuhan itulah pengaruh alat musik ini berasal.

Sinriliq sebenarnya karya musik yang monoton, eksplorasi nadanya hanya sampai lima not dengan alunan yang nyaris sama dari awal sampai akhir. Di jaman kerajaan sinriliq digunakan sebagai media penyampai pesan raja sekaligus media yang menceritakan kisah-kisah para leluhur.

Sinriliq ada dua macam, sinriliq bosi timurung dan sinriliq kesok-kesok. Sinriliq bosi timurung dalam bahasa Makassar berarti sinriliq hujan turun, dilantunkan tanpa alant musik kesok-kesok. Nyanyiannya dilantunkan di kala sepi, ketika orang-orang sudah tertidur. Isi nyanyiannya biasanya adalah cerita sedih tentang kerinduan yang membuncah pada kekasih, orang tua atau kampung halaman.

Berbeda dengan sinriliq bosi timurung, sinriliq kesok-kesok adalah sinriliq yang dibawakan dengan iringan musik kesok-kesok. Isinya lebih banyak adalah cerita heroik para leluhur, kisah-kisah percintaan, kearifan dan pesan-pesan bijak dari tetua. Sinriliq kesok-kesok inilah yang paling sering didendangkan. Salah satu kisah yang juga paling sering dihantarkan lewat sinriliq adalah kisah Tuanta Salamaka, gelar dari ulama besar Syech Yusuf. Selain kisah hidup beliau juga seringkali ajaran-ajarannya diselipkan dalam prosa sinriliq, ajaran yang mengandung filosofi hidup yang sangat dalam.

Salah satu pesan dalam sinriliq yang paling saya ingat adalah sebagai berikut:

Kukutaknangmi kalengku, kukutaknangmi iya kalengku / kukasukmang iya ri nyawaku, kukasukmang iya ri nyawaku / battu riapa iya assala’ kajariangku / ngasseangna karaengnu, pijagai mi kalengnu / kere mi mae pa’rimpungang nyawanu / battu ri ria ji antu, ka battu ri ria ji antu kajarianna iya nyawanu, siagang iya ria tojeng ji rama’liang tallasa’nu. (sinrilik pappasangna Anrong Gurutta)

Aku bertanya pada diriku, bertanya pada diriku sendiri / kutanyakan pada jiwaku sendiri, kupertanyakan pada jiwaku / dari mana asal kehadiranku / semua sepengetahuan Tuhanmu, jagalah dirimu sendiri / di mana nanti jiwamu akan kembali / semua dari Dia, jiwamu bisa ada hanya karena Dia, dan hanya Dia yang menjaga kehidupanmu. (sinrilik pesan Maha Guru)

Larik prosa di atas punya makna filosofis yang dalam, semacam pesan untuk selalu mengingat kebesaran Sang Maha Pencipta.

sinriliq, seni khas makassar

Sinriliq di salah satu hotel bintang 4 Makassar (foto: Tribun Timur)

Saat ini keberadaan sinriliq memang sudah mulai surut, susah menemukannya. Kita hanya bisa menemukannya di acara-acara kebudayaan atau di acara khusus yang menampilkan pasinriliq. Beruntung karena beberapa tahun belakangan ini saya perhatikan ada beberapa hotel besar di kota Makassar yang mulai menampilkan kembali seni tradisional ini. Mereka menempatkan pasinriliq di lobi hotel mereka, bermain menyambut tetamu. Sebuah langkah yang mudah-mudahan diikuti terus oleh lebih banyak pihak lagi.

Bukan apa-apa, sayang juga kalau seni ini akhirnya akan menghilang dan tinggal kenangan.

(Visited 245 times, 1 visits today)


About

Blogger ~ Suka jalan-jalan gratisan ~ Sedang belajar motret ~ Mengasuh http://daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri


'Sinriliq, Seni Khas Dari Makassar' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool