Silaga Tedong Toraja

Silaga Tedong Toraja, Ritual Adat yang Berbalut Judi

Silaga Tedong Toraja, Ritual Adat yang Berbalut Judi
5 (100%) 1 vote

Kerbau dan orang Toraja adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tedong, kerbau dalam bahasa setempat, juga menjadi salah satu alat ukur status sosial masyarakat disana. Apalagi jika memiliki Tedong Bonga, kerbau belang yang menjadi salah satu ikon Toraja selain Tongkonan, yang harganya bisa mencapai satu miliar untuk harga sekarang. Kerbau yang memiliki kasta tertinggi diantara kerbau-kerbau yang lain di Toraja yang menjadikan pemiliknya pun seperti demikian.

Selain itu, dalam upacara perayaan kematian orang Toraja yang dikenal dengan nama Rambu Solo’, kerbau menjadi hewan yang wajib ada untuk penyembelihan. Kalau yang meninggal itu seorang bangsawan, tak tanggung-tanggung mereka akan menyediakan kerbau hingga berpuluh-puluh atau mungkin ratusan dan didalamnya harus ada tedong bonga pula. Mereka merayakan kematian secara meriah.

Silaga Tedong Toraja

Menarik Kerbau ke Arena

Salah satu dari rangkaian upacara rambu solo’ adalah Silaga Tedong. Salah satu acara yang cukup menarik dan sayang jika dilewatkan jika berkesempatan. Laga antara dua kerbau jantan berduel di dalam arena bak gladiator, tapi bukan pertarungan sampai mati layaknya gladiator sungguhan. Pertarungan untuk mencari kerbau terkuat yang nantinya akan mempengaruhi nilai dari kerbau itu sendiri jika sering menang. Masyarakat Toraja menjadikan kerbau jantan sebagai hewan aduan, berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia yang biasanya menggunakan ayam jantan.

Hari sudah menjelang sore ketika sedang menuju desa Malakiri tempat sedang berlangsungnya Mapasilaga Tedong. Dalam perjalanan ternyata kami sedikit salah arah. Dengan sedikit kebigungan, kami bertanya kepada warga yang kami dapati di perjalanan dan hasilnya bahwa desa yang kami tuju ternyata sudah terlewati. Mau tidak mau kami putar arah kembali mengikuti petunjuk yang sempat diberikan oleh orang yang kami tanya tadi.

Hari sudah semakin sore. Ada sedikit rasa was-was, takut bila acara tersebut selesai. Diperjalanan kami berpapasan satu dua buah mobil pick up atau truk yang mengangkut tedong-tedong usai bertanding dengan arah kembali pulang. Hal itu meyakinkan jalur yang kami ambil sudah benar. Bukannya senang, tetapi menambah was-was, jangan-jangan acaranya sudah selesai dan kami ketinggalan.

Silaga Tedong Toraja

Menuju ke Tengah Arena

Saat tiba di lokasi pertandingan, masih harus berjalan lagi sekitar 300 meter jauhnya. Karena merasa penasaran saya pun bertanya kepada salah seorang pengunjung. “Pak, masih berlangsung acaranya?” tanya saya kepada seorang pengunjung. “Iya, masih”, jawab orang itu sambil sedikit tersenyum. Akhirnya perjalanan menuju desa ini tidak begitu sia-sia, masih ada pertandingan yang tersisa.

Seekor kerbau sedang berlari terbirit-birit ke luar dari arena diikuti beberapa orang dibelakangnya ketika baru saja saya tiba di sekitar arena pertandingan. Saya pun semakin tak sabar menyaksikan pertandingan berikutnya. Lalu mencari posisi yang cukup bagus di tengah keramaian penonton sambil berhimpitan dan sedikit menerobos di tengah kerumunan orang-orang.

Dua ekor kerbau jantan kini sedang berada di tengah arena disertai seorang wasit. Saya yang berada di luar arena sedang menunggu aksi pertarungan yang seru. Dua kerbau itu hanya diam saja, tidak ada tanda-tanda ingin bertarung. Kerbau-kerbau itu saling mengabaikan lawannya, walaupun sesekali terlihat beradu tatap. Sepertinya mereka masih malu-malu. Adegan itu cukup lama, bahkan saking lamanya akhirnya pertandingan dihentikan. Ya, saya sedikit kecewa sambil berharap akan melihat keseruan dipertandingan berikutnya.

Silaga Tedong Toraja

Karena takut akhirnya lari keluar arena

Dua kerbau kembali masuk arena. Saya masih dengan harapan yang sama ingin melihat pertarungan yang hebat. Kejadian yang hampir serupa terulang lagi. Kerbau itu saling diam. Pelatih pun masuk arena menyemangati kerbau petarungnya bahkan sambil mendorong-dorongnya agar bertarung. Kedua kerbau itu berancang-ancang untuk menyerang. Puuukkk…., tiba-tiba dua kepala saling beradu. Saya pikir akan mulai seru. Saat kerbau itu mulai berancang-berancang lagi, satu kerbau memilih lari keluar dari arena.

Hmmm…., pertandingan yang sebenarnya jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya membayangkan dua kerbau itu bertarung dengan gagahnya bagai gladiator dan bertarung hingga semangat terakhir. Semuanya jauh dari bayangan itu. Mungkin saya saja yang belum beruntung.

Dua kerbau berikutnya masuk arena. Saya pun tak berharap banyak. Tak berapa lama, para kerbau beradu kepala. Hantaman kembali terjadi. Saya yang sempat kecewa kembali semangat menyaksikan. Tanduk yang panjang itu saling mengait satu sama lain. Tarik-menarik, lalu terlepas. Si kerbau bersiap bertarung kembali. Namun pertarungan tak cukup berlangsung lama hingga pada akhirnya salah satu kerbau lebih memilih kabur arena daripada melanjutkan pertarungan. Yah, sebuah pertarungan yang cukup seru namun singkat saja. Saya pun tak perlu benar-benar kecewa.

Silaga Tedong Toraja

Beradu Tanduk di Tengah Arena

“Yang seru itu kemarin, penontonnya lebih banyak dari hari ini” salah seorang penonton disamping menyahuti saya. Mungkin dia sempat mendengar celotehan saya yang agak sedikit kecewa. “Kerbau yang bertanding hari ini rata-rata kerbau yang masih belajar” penonton itu melanjutkan sahutannya. Oh…, pantas saja, begitu rupanya.

Di bagian penonton pun tak kalah seru dimana tempat saya berdiri. Beberapa penonton juga melakukan pertaruhan. Pertaruhan nasib pada kerbau yang menang bertanding. Jika kerbau yang dipilihnya menang maka ia memenangkan beberapa uang, begitupun berlaku sebaliknya jika kerbau yang dipilihnya kalah. Judi memang selalu menjadi bumbu di setiap laga pertandingan, tak terkecuali di Silaga Tedong ini. Bukan satu dua yang melakoninya, tapi banyak. Seorang bapak dengan bangganya menggenggam berlembar-lembar uang ratusan ribu dari hasil menang banyak taruhan judi itu, pikir saya.

Saat perjalanan pulang ke luar dari arena di tengah rombongan penonton lain tak sengaja saya mendengar celotehan seorang penonton, “Tunggu-tunggu saja itu, ada yang berkelahi nanti”, celotehan yang ia tujukan pada orang-orang yang kalah pertaruhan nasib judi itu.

(Visited 784 times, 1 visits today)


About

rangkaijejak.wordpress.com | Selalu penasaran dengan tempat baru ~ Blogger Newbie ~ Fotografer Wannabe


'Silaga Tedong Toraja, Ritual Adat yang Berbalut Judi' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool