Serunya Perjalanan Makassar-Palopo Dengan Sepeda Motor

Vote Us

Tidak banyak negara yang mengalami fenomena seperti yang dialami Indonesia setiap setahun sekali. Di waktu itu, jutaan orang turun ke jalan, bersamaan ataupun secara bergelombang. Mereka bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Fenomena ini menyebabkan banyak jalan yang menjadi sangat padat. Kemacetan jadi tidak terhindarkan, kadang malah menyebabkan korban jiwa.

Namanya mudik, dan terjadi setahun sekali menjelang Idul Fitri.

Salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan libur lebaran adalah tradisi mudik. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mudik. Bisa menggunakan bis, kereta, pesawat, mobil pribadi maupun sepeda motor. Sebagian besar kota-kota besar di Indonesia memang dihuni para perantau. Tak heran, ketika masa libur panjang seperti lebaran Idul Fitri tiba, itulah waktu yang tepat untuk kembali ke kampung halaman, berkumpul bersama keluarga besar merayakan hari kemenangan, serta bersilaturahmi dengan teman-teman lama. Saya dan keluarga kecil kami termasuk di antara sekian banyak masyarakat Indonesia yang merasakan tradisi mudik tahun ini.

Sebelum menikah, daerah tujuan mudik lebaran keluarga kami adalah Kota Watampone. Di sana merupakan kampung halaman Ibu. Di sana juga keluarga besar kami banyak berdomisili. Namun sejak menikah tahun 2013, otomatis saya punya tujuan mudik yang lain yaitu Palopo, kampung istri. Ketika tiba musim mudik lebaran, tiap tahun tujuan mudik kami selalu berganti. Jika tahun sebelumnya ke Bone, maka tahun beriikutnya ke Palopo. Begitu seterusnya.

Lebaran Idul Fitri tahun ini kami sudah sepakat untuk mudik ke Palopo. Awalnya kami sekeluarga sepakat untuk ikut dengan keluarga yang juga akan mudik dengan mobil. Namun berhubung kakak sepupu si kecil juga mau mudik dengan sepeda motor, terpaksa saya menemaninya. Jadi #BabyJo dan Bundanya ikut mobil keluarga, sementara saya dan sepupunya #BabyJo naik sepeda motor.

Mudik dengan sepeda motor sebenarnya bukan hal baru. Namun baru tahun ini lagi saya melakukannya. Beberapa tahun belakangan kami biasanya mudik dengan bis. Terakhir kali kami mudik naik sepeda motor waktu lebaran tahun 2013, beberapa bulan setelah kami menikah dan si kecil belum lahir. Waktu itu kami mudik ke Bone di malam takbiran. 2 hari sesudah lebaran kami melanjutkan perjalanan ke Palopo. Pulangnya jarak hampir 400 KM kami tempuh berdua dari Palopo kembali ke Makassar.

Kami sepakat berangkat jauh hari sebelum lebaran, yaitu H-5 lebaran atau di hari Jum’at. Mengingat kerjaan sudah libur dan kami ingin menghabiskan banyak waktu di kampung. Beberapa barang bawaan ringan dan seperlunya kami bawa di tas ransel. Sementara perlengkapan lainnya, terutama pakaian diikutkan di mobil. Seusai sholat Jum’at, perjalanan kami mulai dari rumah di Maros. Perjalanan ini akan melalui beberapa kabupaten, di antaranya Maros, Pangkep, Barru, Pare-pare, Sidrap, Wajo, Luwu dan Palopo.

Di awal perjalanan, saya memilih dibonceng. Jalanan lumayan lancar, hanya agak macet di daerah Maros karena memang jalannya agak sempit dan banyak mobil singgah membeli ole-ole. Rute Maros hingga Pare-pare perjalanan lancar karena jalanannya sudah mulus dan lebar. Hampir tidak ada kemacetan yang kami lalui. Setelah 2 jam lebih perjalanan, kami memilih singgah di sebuah SPBU di perbatasan Barru dan Pare-pare untuk mengisi bensin, sholat ashar dan istirahat sejenak. Mungkin karena tidak terbiasa dibonceng kaki jadi pegal, apalagi stang kaki terlalu tinggi. Dari sini saya akhirnya memilih mengambil alih kemudi motor.

Poros Maros - Parepare jalanan mulus dan lebar (sumber: panoramio)

Poros Maros – Parepare jalanan mulus dan lebar (sumber: panoramio)

Di daerah Pare-pare, saya memilih masuk kota karena harus mengantar titipan barang. Beberapa titik macet pun harus dilewati di pusat kota. Yah sebagian warga Pare-pare sepertinya sudah mulai sibuk berbelanja persiapan lebaran karena ramainya pusat-pusat perbelanjaan yang kami lewati. Setelah mengantar titipan, kami kembali ke jalur utama menuju ke Kab. Sidrap.

Jalur Pare-pare menuju Sidrap jalanannya lebih sempit dan ramai. Kami sempat singgah ke bengkel untuk mengisi angin ban depan motor karena agak kempes. Setelah melanjutkan perjalanan, ternyata ban depan tersebut kembali mulai kekurangan angin lagi. Motor pun harus berjalan pelan, apalagi tidak ada bengkel sama sekali. Memasuki daerah Sidrap kemacetan panjang terlihat. Kami pun mencoba mengikuti motor di depan yang lewat di bahu jalan sambil menjaga keseimbangan motor yang oleng karena kekurangan angin.

Ternyata ada pohon tumbang di poros Pare-pare-Sidrap. Kabar baiknya pohon tumbang tersebut ada di depan tempat wisata Taman Rekreasi DataE, sehingga kendaraan kemudian diarahkan masuk ke dalam tempat wisata tersebut dan keluar di pintu satunya. Warga sekitar turun tangan membantu mengatur buka tutup jalur tersebut. Namun jalur menuju ke Sidrap malah tertutup oleh pengendara yang dari arah Sidrap yang tidak sabar dan mengambil jalur sebaliknya. Untunglah sepeda motor masih bisa lewat. Kemacetan panjang kendaraan dari Sidrap mengular lebih 1 km.

SPBU Sudirman di Sidrap terkenal sebagai SPBU terbesar di Indonesia Timur. Letaknya sangat strategis, tepat di persimpangan jalur ke Toraja. Di sinilah kami singgah menjelang maghrib. Ban motor yang bocor pun diganti di bengkel di depan SPBU ini. Masih ada waktu sebelum masuk waktu maghrib untuk berbuka puasa jadi perjalanan dilanjutkan ke kota Pangkajene Sidrap. Kami pun berbuka puasa di rumah makan padang di depan Mesjid Raya Pangkajene Sidrap. Kami telah selesai makan ketika #BabyJo dan rombongan juga singgah di rumah makan padang tersebut. Ternyata mereka cukup lama terjebak macet di tempat tadi.

Perjalanan belum sampai setengahnya ketika kami harus melalui perjalanan malam. Dengan pencahayaan seadanya, motor dipacu tidak maksimal. Setelah melewati daerah Tanru Tedong (Sidrap) dan Ana’Banua (Wajo), jalanan mulai sepi. Poros Ana’Banua – Tarrumpakkae memang sepi dan gelap. Untunglah jalanannya sangat mulus seperti baru diaspal ulang. Motor pun kami pacu hingga tembus 100 kpj. Karena sepinya, kami berpapasan tidak lebih dari 10 mobil dan motor di jalan poros sepanjang lebih 17 km tersebut. Beberapa perkampungan yang kami lewati hanya ramai di sekitar mesjid oleh warga yang akan menunaikan sholat tarwih. Daerah Tarrumpakkae lumayan ramai dengan banyaknya kendaraan yang singgah istirahat, terutama mobil dan truk besar. Daerah ini memang sebagai tempat persinggahan, karenanya banyak berdiri warung-warung kecil di pinggir jalan.

Tarrumpakkae, waktu mudik lebaran 2013 lalu

Tarrumpakkae, waktu mudik lebaran 2013 lalu

Kami memilih tidak singgah di Tarrumpakkae, namun langsung melanjutkan perjalanan. Beberapa daerah selanjutnya yang kami lewati seperti Salobulo dan Keera, sebagian jalanannya sudah mulus namun sebagian masih tahap pelebaran dan pengerasan jalan. Di daerah Siwa kami akhirnya singgah di sebuah minimarket untuk meluruskan badan dan membeli minuman kopi instant karena mata sedikit berat.

Jam 9 malam kami akhirnya memasuki gerbang selamat datang di Tanah Luwu. Di daerah perbatasan ini jalanan mulus sehingga motor bisa dipacu maksimal. Namun hanya beberapa kilometer jalanannya kembali bergelombang. Setelah singgah mengisi isi bensin di sekitar Larompong (Luwu), perjalanan ke Palopo motor dibawa dengan pelan. Melewati Kota Belopa (ibu kota Kab. Luwu), Kamanre, Padang Sappa, jalanan tidak terlalu ramai. Sebelum memasuki Kota Palopo, deretan warung di daerah Bukit Sampoddo sempat menggoda untuk singgah. Namun karena sudah dekat kami tetap melanjutkan perjalanan.

Sekitar jam 11 malam kami memasuki Kota Palopo, jalanan sudah mulai sepi. Rumah yang jadi tujuan kami masih ada sekitar 20 km ke utara. Kami tetap membawa motor dengan pelan, walaupun ingin rasanya cepat sampai di rumah. Kami akhirnya betul-betul tiba di rumah ketika jam menunjukkan lewat setengah 12 malam. Artinya lebih 10 jam perjalanan dari Maros ke Palopo Utara. #BabyJo dan rombongan menyusul tiba beberapa menit kemudian. Saya memeriksa speedometer di motor, sepertinya ngaco. Masa jarak tempuhnya hampir 500 km 😀

 

(Visited 1,063 times, 1 visits today)


About

anbhar.net | AngingMammiri.Org | AC Milan | PSM | Sobatpadi | Suka Dunia Militer & Penerbangan | Berenang & Snorkeling | Ngemil | Jalan2 | | AB+


'Serunya Perjalanan Makassar-Palopo Dengan Sepeda Motor' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool