Sagu makanan tradisional Luwu

Serba Sagu Dari Tana Luwu

Serba Sagu Dari Tana Luwu
5 (100%) 1 vote

Tana Luwu, yang juga bergelar Bumi Sawerigading merupakan daerah bekas Kerajaan Luwu yang secara administratif terbagi menjadi 4 kabupaten dan kota yaitu Kabupaten Luwu dengan ibukota Belopa, Kota Palopo (otonom), Kabupaten Luwu Utara dengan ibukota Masamba dan Kabupaten Luwu Timur dengan ibukota Malili.

Tana Luwu terkenal dengan beragam makanan dengan bahan dasar sagu. Yang paling banyak dikenal tentu saja adalah kapurung, dange dan bagea. Padahal selain itu, ada beberapa jenis makanan tradisional Luwu lainnya yang juga terbuat dari sagu, rasanya unik dan enak.

Dalam bahasa Tae’ (bahasa yang digunakan di Palopo), sagu disebut tabaro. Di pasar-pasar tradisional, tabaro dijual dalam bentuk balabba yaitu wadah untuk menyimpan tepung sagu basah yang terbuat dari anyaman daun sagu berbentuk tabung. Ada balabba besar dan ada juga balabba kecil. Untuk satu balabba besar biasanya berisi 15 sampai 40 kilo sagu basah. Beberapa pedagang juga yang menjual sagu per liter atau katti-katti untuk pembeli yang ingin membeli dalam jumlah sedikit saja.

Di beberapa daerah yang dilintasi jalur Makassar – Sorowako, sagu juga dijual di pinggir jalan raya dalam balabba besar dan kecil. Misalnya di daerah Baliase dan Sabbang yang terletak di Kabupaten Luwu Utara atau di Desa Komba dan Sampano, Kabupaten Luwu.

Jika ingin menyimpan sagu dalam waktu yang lama, sebaiknya biarkan tetap dalam balabba-nya atau jemur hingga kering. Sagu yang disimpan di balabba dapat bertahan hingga 3 bulan asal kelembabannya terjaga dengan baik. Sedangkan jika sagu dikeringkan tentu dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama lagi.

Sagu kaya akan karbohidrat, dahulu merupakan makanan pokok bagi masyarakat Luwu karena padi hanya dikonsumsi oleh golongan tertentu. Nah apa saja makanan tradisional Luwu yang menggunakan sagu sebagai bahan dasarnya? Bagaimana membuatnya? Simak yuk berikut ini.

Makanan Tradisional Luwu

Sumber gambar : niank1908.blogspot(dot)com

Pugalu

Pugalu atau yang terkenal dengan nama kapurung adalah makanan tradisional Luwu berbahan dasar sagu yang paling populer sebagai kuliner khas Palopo. Saat bulan Ramadhan, kapurung ini merupakan salah satu menu buka puasa yang hampir setiap hari disajikan oleh mamak saya di kampung. Segar dan mengenyangkan 😀

Makanan ini mengenyangkan dan kaya akan gizi karena mengandung karbohidrat, protein dan sayur-sayuran. Bisa menggunakan kerang, ikan, ayam atau daging merah untuk proteinnya, sedangkan untuk sayurannya bisa beragam misalnya kacang panjang, jagung manis, jantung pisang, terong, katuk, kangkung, bayam, dan sayuran hijau lainnya. Perasan jeruk nipis dan sambal merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari semangkok kapurung. Umumnya kapurung disajikan bersama dange atau lawa’.

Makanan Tradisional Luwu

Sumber gambar : alfianwidi(dot)com

Sinole

Sinole memang tidak sepopuler pugalu alias kapurung sebagai sajian kuliner khas Luwu. Jaman dulu, saat beras masih susah didapatkan, pugalu dan sinole menjadi makanan pokok masyarakat Luwu. Cara membuatnya adalah mencampur sagu basah dengan kelapa parut lalu masukkan ke dalam wajan atau penggorengan yang sudah dipanaskan lebih dulu, aduk dengan kesepatan sedang hingga berubah warna jadi kecoklatan. Tambahkan garam halus secukupnya, terus aduk hingga tercampur rata dan matang.

Makanan Tradisional Luwu

Sumber gambar : alfianwidi(dot)com

Dange

Makanan tradisional Luwu ini menggunakan bahas baku utama sagu yang dibakar dalam sebuah cetakan dari tanah liat yang mirip dengan cetakan buroncong atau kue pancong hanya saja dalam ukuran yang lebih tipis dan berbentuk kotak. Cetakan ini dibakar menggunakan kayu bakar hingga sagu berubah warna menjadi abu-abu dan butirannya saling melekat. Dange sudah matang dan siap disantap.

Dange ini memiliki cita rasa hambar dan kenyal karena tidak ada tambahan bumbu lainnya. Karena itulah dange lebih nikmat dimakan bersama kapurung, parede, lawa’ atau pacco. Dange dapat menjadi pengganti nasi karena kaya akan karbohidrat. Selain itu kandungan gulanya jauh lebih rendah jika dibandingkan nasi sehingga baik untuk para penderita diabetes.

Makanan Tradisional Luwu

Sumber gambar : Tribunnews(dot)com

Ongol-ongol

Ongol-ongol ini salah satu penganan favorit saya saat kecil dulu. Saya paling suka saat dimakan panas-panas. Sejauh ini sih saya belum pernah liat ada yang jual di pasar tradisional. Cara buatnya mudah hanya dengan menggunakan bahas dasar sagu basah, gula merah dan kelapa parut. Didihkan gula merah. Larutkan sagu dengan air secukupnya dan masukkan ke dalam air gula merah yang sudah mendidih lalu aduk hingga tercampur merata dan mengental. Ga usah lama-lama nanti gosong 😀 Dalam keadaan masih panas dibentuk bulat seperti onde-onde lalu digulingkan di kelapa parut. Siap dinikmati.

Makanan Tradisional Luwu

Sumber gambar : instagram(dot)com/ajiira9

Lanya’

Seperti halnya ongol-ongol, lanya’ juga berbahan dasar sagu, kelapa parut dan gula merah akan tetapi cara pembuatannya sedikit berbeda. Sagu basah disangrai di wajan bersama kelapa parut lalu dibuat lingkaran sambil ditekan-tekan. Pada sagu yang telah menyatu membentuk lingkaran diberi isian gula merah yang sudah disisir lalu ditumpuk atau digulung. Lanya’ siap disantap.

Makanan Tradisional Luwu

Sumber gambar : alfianwidi(dot)com

Bagea

Bagea adalah kue kering berbahan dasar sagu yang sering dijadikan sebagai salah satu ole-ole khas Palopo. Kue ini terbuat dari sagu yang dicampur beberapa bahan lainnya lalu dipanggang. Ada berbagai jenis rasa kue bagea yang ditawarkan yaitu kenari, kacang dan wijen. Rasanya gurih dan renyah, sangat nikmat disantap sore hari bersama secangkir kopi atau teh panas.

Makanan Tradisional Luwu

Sumber gambar : makassar.tribunnews(dot)com

Baccilaung

Jaman saya masih SD dulu, baccilaung atau disebut juga cakko-cakko adalah jajanan favorit kami. Jangan berseda gurau atau tertawa saat makan baccilaung ini, karena bisa tersedak. Kadangkala mamak juga membuatnya dalam jumlah banyak untuk disimpan di rumah. Saya sudah lupa cara buatnya bagaimana, jadi untuk merefresh ingatan, saya menelpon mamak saya untuk menanyakan resepnya xD

Temukan berbagai penawaran wisata menarik di sini Pilihan hotel murah , Hotel murah di Makassar, dan Beragam paket wisata

Pada dasarnya baccilaung ini mirip dengan sinole, perbedaannya terletak pada sagu yang digunakan. Sinole menggunakan sagu basah sedangkan sagu kering untuk baccilaung. Sagu kering diberi air kelapa lalu diaduk, ditambahkan sepotong jahe (jika suka) dan garam secukupnya. Adonan ini lalu dimasak di wajan dengan api kecil. Harus terus diaduk sampai mengering dan matang. Saat akan dikonsumsi, dicampurkan dengan gula pasir atau gula merah.

**

Nah, dari beberapa jenis makanan tradisional Luwu berbahan dasar sagu di atas, ada berapa macam yang sudah kalian cicipi? Atau mungkin ada makanan tradisional Luwu lainnya yang juga menggunakan sagu tapi belum saya masukkan di list di atas? Berbagi di kolom komentar yuk 🙂

(Visited 1,496 times, 1 visits today)


About

Mother of #BabyJo || Blogger http://nanie.me || Traveller and Food Lover http://jokkajokka.com || Find me at IG @naniekoe


'Serba Sagu Dari Tana Luwu' have 1 comment

  1. January 31, 2017 @ 7:02 am Intan

    Ongol2 kesukaanku paling enak semput jualan juga dulu waktu baru nikah sejak itu belon buat lg karna bahan baku disini gak tau jualnya dimana.. 🙁

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool