pasar terong makassar

Sejuta Asa di Pasar Terong

Sejuta Asa di Pasar Terong
5 (100%) 1 vote

Suasana yang riuh, obrolan beragam bahasa, teriakan melengking, udara yang sumpek dan gerah, tubuh-tubuh yang saling bersenggolan dan kadang bertubrukan, tanah yang basah dan bau yang beragam. Itulah gambaran yang ada di kepala saya setiap kali mendengar tentang pasar tradisional.

Ada banyak pasar tradisional di Makassar, sayangnya pasar-pasar tersebut sudah banyak yang terlupakan. Saya pun, seringkali memilih untuk belanja di pasar modern ketimbang belanja di pasar tradisional. Alasannya, tentu saja selain memang gak ada waktu belanja pagi hari, pasar moderen lebih nyaman bagi saya.

Tapi pagi itu, saya berubah pikiran. Karena libur dan ada yang bersedia mengantar saya, maka saya pun dengan riang gembira serta berusaha meluruhkan segala ego tentang pasar becek dan penuh kuman, histeria pasar tradisional yang selalu sumpek, bau  dan mengerikan, akhirnya saya memutuskan menghabiskan pagi liburan saya berbelanja di salah satu pasar tradisional yang ada di Makassar.

Maka berangkatlah saya pagi-pagi benar ke Pasar Terong, dihantar udara segar dan sejuk. Pasar yang terletak di jalan Terong, kelurahan Wajo baru, kecamatan Bontoala, Makassar ini, merupakan pasar induk yang menyediakan dan memasok berbagai bahan pangan; sayuran, buah, ikan, daging, telur, beras dan lain-lain. Serta bahan kebutuhan hidup lainnya seperti cakar –Hallah…– Tahu apa itu cakar? Cakar adalah akronim dari Cap Karung, branding untuk pakaian bekas impor. Dari mana Cakar ini? Nah, mungkin akan saya bahas kali lain yah…

pasar terong makassar

Pakaian bekas impor yang juga dijual di Pasar Terong

Pasar Terong ibarat percabangan besar dari proses mengalirnya beragam hasil bumi di tanah Sulawesi Selatan. Hasil-hasil bumi (dan peternakan) itu berkumpul di Pasar Terong, datang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan seperti Gowa, Takalar, Jeneponto, Maros, bahkan sampai Sidrap. Dari Pasar Terong, hasil bumi itu diangkut lagi ke tempat-tempat yang jauh seperti Palu, Kendari, Gorontalo, Manado bahkan hingga lebih ke timur lagi, ke Maluku dan Papua.

Dini hari, aktifitas di pasar ini sudah mulai ramai, ber-truk-truk sayur dan buah dibongkar untuk disalurkan ke para pedagang. Pasar yang telah berdiri sejak tahun 1960 atau akhir tahun 1950-an ini telah beberapa kali mengalami renovasi, beberapa diantaranya karena kebakaran. Pasar ini sudah menjadi salah satu ikon dari Kota Makassar. Perhatian pemerintah setempat pun sudah tersita untuk pemeliharaan pasar-pasar tradisional yang ada, salah satunya dengan rehabilitasi bangunan, pemeliharaan badan jalan serta pemasangan beberapa CCTV.

pasar terong makassar

Salah satu stan di Pasar Terong

Pagi hari di pasar ini ternyata sungguh menyenangkan, satu pengalaman yang tidak akan terlupakan –ternyata-. Keriuhan pasar begitu membuat saya terpesona, diwarnai dengan berbagai karakter orang yang berbeda-beda melakukan transaksi jual-beli; tersenyum puas karena berhasil menawar dan membawa pulang sekatong buah segar nan ranum dengan harga murah atau berlalu dengan tampang masam karena tidak berhasil menawar sambil ngomel-ngomel hehe..

Pasar terong, dengan berbagai interaksi di dalamnya, berkubik-kubik sayur dalam truk, bernampan-nampan terasi potong, berkeranjang-keranjang buah segar dan segala hiruk-pikuknya adalah kesempatan yang dapat kamu rasakan jika berkunjung ke Makassar walau hanya membeli sekantung kue cubit.

Ada banyak asa di sana, ada banyak kepala yang menggantungkan hidupnya di sana, Untuk akses dengan angkutan umum (pete-pete) ke pasar ini; trayek kode C, D, E, H, I, serta pete-pete kampus B1 dan F1.

Harga di pasar ini relatif lebih murah dari pasar lainnya, bahkan tentu saja dari pasar modern. Walaupun tempatnya becek dan kurang nyaman, yaiyalah, namanya juga pasar, saya mulai menjejakkan kaki dengan satai mengikuti alur pasar pagi itu dan berhenti di depan penjual ayam potong setelah sebelumnya telah membeli berkantong-kantong sayur, berkilo-kilo buah segar, daging dan bumbu-bumbu dapur lainnya hanya dengan uang tiga ratus ribu rupiah, jumlah yang sama untuk belanja di pasar modern untuk kebutuhan seminggu saja.

“Berapa ayamnya Pak?”. Tanya saya ketika mendapati penjual ayam potong.
“Empat pulih lima ribu, Bu…”.
Kata orang-orang, menawar adalah hukum wajib saat di pasar. Maka saya coba menawar untuk kesekian kalinya, ala emak-emak yang sudah expert nawar, seperti ibu di depan saya.
“Mahalnya Daeng, 30 ribu moh satu”
Idedeeeh… ndak bisa Bu, ayam abege ji itu Bu, begitu harganya!”

Dan saya pun berlalu, berusaha tegar dan tidak berekspresi aneh sedikitpun.

 

(Visited 498 times, 1 visits today)


About

Mommy dua anak hebat - perajut dan crafter - sesekali curhat di ungatawwa.wordpress.com


'Sejuta Asa di Pasar Terong' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool