Sejarah Pasar Senggol Makassar

Vote Us

Beberapa minggu lalu saya kedatangan seorang teman yang sedang berlibur di Makassar. Berhubung ia tak punya teman lain di kota ini ia meminta saya untuk menemaninya ke beberapa tempat-tempat menarik, termasuk ke Pasar Senggol. Untunglah saya lahir dan besar di kota ini, jadi sedikit tahu seluk beluk kota yang digelari kota Anging Mammiri ini.

Beberapa komunitas jalan-jalan di Makassar ini mungkin bisa menemanimu berkeliling.

Teman ini rupanya penasaran dengan Pasar Senggol karena pernah membaca sekilas ulasan pasar ini di blog saya. Maka pergilah kami menuju pasar yang terletak di Kel Tamarunang Kec. Mariso ini. Sekaligus untuk membeli ikan yang rencananya akan kami bakar.

Setibanya di pasar ini, saya agak kebingungan memarkir motor soalnya lokasi parkir Pasar Senggol sangat terbatas sementara untuk membawa masuk motor sangat susah. Gerobak-gerobak berisi pakaian-pakaian, sepatu, aneka barang kebutuhan sehari-hari bahkan alat-alat elektronik memenuhi badan dan sisi kanan kiri jalan.

Kami, juga pengunjung lainnya, tidak bisa berjalan dengan agak cepat karena harus memelankan langkah. Sangat susah untuk menembus keramaian pengunjung di jalan yang dijejali gerobak itu. Entah berapa kali saya harus bersenggolan dengan pengunjung lain.

Mungkin karena malam itu malam minggu sehingga pasar ini dipadati pengunjung yang rata-rata remaja. Katanya, pasar ini memang selalu dipadati pemuda-pemudi  yang datang sekedar untuk jalan-jalan atau window shopping layaknya di mall. Adapula yang memanfaatkan untuk mencari kenalan baru, khususnya lawan jenis. Seorang pedagang bahkan berkelakar begini: “Kalau mau cari jodoh, datang aja ke sini malam minggu”.

Area pasar yang tidak terlalu luas membuat para pengunjung yang datang harus saling bersenggolan. Tak sedikit pula pengunjung, khususnya pemuda-pemudi, yang memang sengaja menyenggol lawan jenisnya. Hal inilah yang kemudian menjadikan pasar ini diberi nama Pasar Senggol.

Awalnya pasar ini dimulai sekitar tahun 1962 dimana para nelayan yang melaut di sekitar Selat Makassar yanng berisi kepulauan Spermonde menjual hasil tangkapannya setiap sore di Pantai Losari, sekitar Jl. Pasar Ikan sekarang. Aktivitas jual beli yang berlangsung sore sampai malam hari itu kemudian memancing kehadiran pedagang-pedagang yang menjajakan aneka barang kebutuhan sehari-hari. Kehadiran penjual-penjual ikan dan pedagang kaki lima ini kemudian secara perlahan-lahan menjadikan aktivitas ini sebagai sebuah pasar tanpa nama.

Hampir semua kebutuhan sehari-hari tersedia di Pasar Senggol dengan harga murah. foto - Ammang detikTravel

Hampir semua kebutuhan sehari-hari tersedia di Pasar Senggol dengan harga murah. foto – Ammang detikTravel

Pasar ini hanya bertahan selama tiga tahun. Pada tahun 1965, Dg.Patompo Walikota Makassar waktu itu, membongkar pasar ini. Para penjual ikan dan pedagang kaki lima ini kemudian dipindahkan kedua tempat. Sebagian dipindahkan ke Jl. Hati Mulia, sebagian lainnya dipindahkan ke Jl. H.O.S Cokroaminoto. Setahun kemudian, pada tahun 1966, para penjual ikan dan pedagang kaki lima yang berada di Jl. Hati Mulia dipindahkan lagi. Mereka kemudian ditempatkan di sisi utara Stadion Mattoanging. Pada tahun 1967, mereka kemudian dipindahkan lagi ke Jl. Merpati.

Di lokasi ini mereka sempat bertahan agak lama, sekitar sembilan tahun. Namun pada tahun 1976, mereka kemudian dipindahkan lagi ke Jl. Cendrawasih, depan Stadion Mattoanging. Di lokasi ini mereka hanya berlangsung selama dua tahun karena pada tahun 1978 mereka kemudian dipindahkan lagi ke Jl. DR. Sam Ratulangi, belakang Stadion Mattoanging.

Pada tahun 1980, mereka kemudian dikembalikan lagi ke bagian selatan lokasi awal mereka di Pantai Losari di yaitu di depan rumah jabatan Walikota sekarang. Lokasi baru ini  ternyata tidak dapat menampung semua penjual ikan dan pedagang kaki lima itu.

Atas usulan Bapak HM Nur Muslim, Ketua Yayasan Keluarga Pengusaha Lemah yang membina para penjual ikan dan pedagang kaki lima waktu itu, Pemda yang kesulitan mencari lokasi akhirnya memindahkan mereka ke depan Pasar Sambung Jawa di Jl. Hati Murni yang terletak di Kel. Tamarunang Kec. Mariso.

Sementara itu, para penjual ikan dan pedagang kaki lima yang dipindahkan ke Jl. H.O.S Cokroaminoto mengalami nasib yang sama. Mereka dipindahkan lagi ke area Taman Hiburan Rakyat di Jl. Kerung-Kerung. Pemindahan lokasi ini bukannya mengangkat nasib mereka. Secara perlahan-lahan pasar ini mati karena pembeli semakin berkurang. Kondisi ini membuat para penjual ikan dan pedagang kaki lima itu memilih untuk kembali bergabung dengan teman-teman mereka yang berjualan di Jl. Hati Mulia.

Meski lokasi mereka berkali-kali dipindahkan, nama dan ciri khas pasar tetap bertahan. Orang masih mengenal dan menyebutnya sebagai Pasar Senggol. Pemerintah Kota pun sepertinya tidak punya perhatian terhadap keberadaan pasar ini. Pemberian nama resmi pun tak pernah diberikan. Itulah sebabnya nama Pasar Senggol terus bertahan. Waktu berjualan pun masih sama ketika pertama kali Pasar Senggol hadir yaitu sekitar Pukul 16:00 sampai 22.00 wita.

Di ujung Jl. Hati Murni, kami menjumpai sekitar 20-an penjual yang menggelar ikan segar di atas meja setinggi satu meter berjejer di sepanjang Jl.K.S Tubun Buntu. Penjual-penjual ikan segar yang menjadi ciri khas pasar ini sejak dulu juga masih tetap bertahan. Ikan-ikan segar itu mereka ambil di Tempat Pelelangan Ikan di Jl. Rajawali, sekitar tiga kilometer sebelah utara Pasar Senggol.

Ada juga penjual ikan yang mengambil langsung dari Pantai Barombong, sekitar 10 km ke arah tenggara. Berbagai jenis ikan dan hasil laut yang segar dapat kita jumpai, misalnya; ikang bolu (bandeng), cakalang, layang (makarel), lamuru, baronang, sunu dan berbagai jenis ikan segarnya lainnya.

Temukan berbagai penawaran wisata menarik di sini Booking tiket pesawat, Pilihan penginapan yang murah, dan Beragam paket wisata

Kami memilih membeli seekor Baronang tanpa menawar. Harga ikan dan barang-barang lain di pasar ini katanya memang lebih murah dibanding tempat lain, makanya saya berpikir tak perlu menawar. Setelah membeli ikan kami pun bergegas pulang. Tak lupa saya juga membeli arang untuk membakar ikan. Saat meninggalkan pasar yang semakin ramai oleh anak-anak muda, saya melihat sepasang remaja yang saling berkenalan setelah sebelumnya sempat bersenggolan.

(Visited 140 times, 1 visits today)


About

sharing is caring | bebas merdeka 100% | writer and traveller wannabe | peneliti paruh waktu | social media enthusiast |


'Sejarah Pasar Senggol Makassar' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool