Sehari Di Jeneponto

Vote Us

Jika bukan karena pernikahan teman terbaik, mungkin hingga saat ini saya akan mengenal Jeneponto begitu-begitu saja. Sabtu kemarin kami mengadakan perjalanan singkat ke Jeneponto guna memenuhi undangan pernikahan. Sejauh yang saya kenal, Jeneponto adalah salah satu kabupaten dari Sulawesi Selatan yang tidak hijau. Beberapa kali saya hanya melewatinya saja ketika ingin pergi ke daerah lainnya yang mengarah ke selatan. Kabupaten ini berjarak lebih kurang 90 kilometer dari Kota Makassar.

Tambak garam berjejer sepanjang jalan poros kabupaten. Sejak dulu Jeneponto memang terkenal sebagai sentra garam di Sulawesi Selatan. Banyak warga yang berprofesi sebagai petambak garam. Untuk ke Jeneponto kami memerlukan waktu lebih kurang 3 jam perjalanan darat dengan kecepatan 60-80km/jam.

Jeneponto memiliki luas wilayah 749,79 km2, dan berpenduduk sebanyak 330.735 jiwa. Dengan kondisi tanah ( topografi ) pada bagian utara terdiri dari dataran tinggi dengan ketinggian 500 sampai dengan 1400 meter, bahagian tengah 100 sampai dengan 500 meter dan pada bahagian selatan 0 sampai dengan 150 meter di atas permukaan laut dan memiliki pelabuhan yang besar terletak di desa Bungeng.

Hari itu kami berangkat pagi, tadinya kami akan berangkat lebih pagi, setelah shalat subuh. Tapi tidak berjalan dengan lancar karena riweh dengan anak-anak. Jadilah kami berangkat pagi itu tanpa mandi pagi, hemat kami ketika sampai di tempat istirahat nanti barulah kami akan mandi, dan sarapan. Nyatanya baru setengah jam perjalanan saja kami sudah kelaparan XD. Beruntung pagi itu di jalan poros Gowa-Takalar kami menemukan penjual buah dan penjual putu cangkir dengan beragam varian; pandan, ketan hitam, ketan putih dan original gula merah.

putu-cangkirDan putu cangkir hangat, wangi dan lezat itu pun mampu mengganjal perut kami, dengan harga yang tidak mahal, 2000 rupiah per bijinya.

Rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan poros kabupaten Jeneponto ini sangat rapih berjajar di sepanjang jalan dengan model yang hampir mirip satu sama lain, rumah panggung. Jujur, saya tidak pernah menyangka jika keadaan di Jeneponto se-menyenang-kan ini, turun dari angkot bisa langsung masuk rumah, karena begitu dekatnya jalan raya dengan rumah warga.

Tujuan kami saat itu adalah Desa Rumbia, yang mana jalan poros untuk menuju Desa Rumbia merupakan jalan menanjak, karena memang Desa Rumbia terletak di dataran tinggi. Tak heran semakin masuk ke dalam desa udara semakin terasa sejuk dan segar dengan pemandangan cukup membuatmu lupa jika liburmu hanya sehari saja.

Tompokelara

Tompokelara

3 jam 30 menit, lebih kurang, akhirnya kami sampai ke tempat tujuan setelah sebelumnya disuguhi tak kurang dari 10 pesta pernikahan sepanjang perjalanan, dengan rumah-rumah yang dihiasi “ Tappere “ –hiasan kain dengan payet dan manik-manik yang dibentang sepanjang dinding- warna-warni.

Menurut Heman teman kami, dulunya musim nikah akan datang seiring datangnya masa panen. Tapi saat ini sepertinya hal tersebut tidak lagi berlaku, melainkan saat musim tanam-lah akan banyak keluarga-keluarga yang mengadakan pesta pernikahan putra-putri mereka.

Uniknya dalam pesta-pesta pernikahan di kabupaten ini, setiap tamu yang datang ke pesta tersebut membawa hantaran berupa bakul besar yang terbungkus kain, yang isinya bisa beragam; beras, gula ataupun kebutuhan pokok lainnya.

Tak hanya itu, tamu-tamu yang datang tersebut juga membawa sarung yang cantik-cantik untuk diberikan kepada pengantin wanita. Bisa dibayangkan berapa sarung yang kamu dapatkan jika misalnya saya separuh penduduk desa datang memenuhi undangan jamuanmu –mungkin kamu bisa buka toko sarung XD-.

Beberapa dari sarung-sarung itu akan dibawa oleh pasangan pengantin ketika bersilahturahim ke rumah-rumah sanak keluarga dan family dan diberikan kepada orang yang dituakan.

Ohya, Selain dikenal sebagai penghasil garam, Jeneponto juga dikenal dengan masakan-masakan yang berbahan daging kuda. Ya, di daerah ini kuda tidak hanya dijadikan sebagai tunggangan atau membantu dalam pertanian dan perkebunan, melainkan juga ternak yang dikhususkan sebagai hewan potong untuk dikonsumsi. Masyarakat setempat memang lebih mencintai daging kuda dibandingkan daging sapi atau kerbau. Maka untuk setiap perayaan yang ada rasanya kurang lengkap jika tidak ada sajian khusus dari daging kuda. Penyembelihan kuda pada perayaan-perayaan tersebut juga dianggap dapat menaikkan status sosial yang punya hajatan.

gantala-jarang

Begitu pula dengan teman terbaik kami ini, keluarganya juga menyembelih kuda untuk dijadikan masakan spesial di hari perayaan pernikahannya. Dan harga seekor kuda pun tak main-main bisa 10 hingga 20 juta-an satu ekornya. Khasnya, masakan berbahan kuda ini oleh peduduk setempat dimasak tanpa bumbu apapun, kecuali garam kasar dan bumbu dari akar-akar kayu. Bagaimana rasanya? Rasanya sangat gurih dengan aroma yang khas, daging kudanya pun sangat empuk. Jenis masakan ini terkenal dengan nama Gantala Jarang. Menurut saya, Gantala Jarang ini akan sangat lezat dinikmati dengan nasi hangat, irisan jeruk nipis dan irisan cabe rawit.

Itulah sekilas tentang Jeneponto, jika kamu memiliki waktu yang lebih lapang, ada banyak tempat menarik yang dapat kamu kunjungi dari Jeneponto.

desa-rumbia2

Musholah di salah satu wisata alam Desa Rumbia

(Visited 163 times, 1 visits today)



'Sehari Di Jeneponto' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool