Roti Maros

Roma, Ole-ole Wajib dari Maros

Vote Us

“Makan roti buaya, dengar lagu kita..”

Mungkin kita masih ingat sama potongan lagu Piknik 76 dari band Naif itu. Roti buaya memang jadi salah satu roti khas dari Jakarta, tepatnya roti khas dalam budaya orang Betawi. Roti ini biasanya hadir sebagai pelengkap dalam upacara pernikahan. Terinspirasi dari sifat buaya yang selama hidupnya hanya kawin sekali. Diharapkan kedua mempelai akan meniru sifat buaya, hanya kawin sekali seumur hidupnya.

Jika Jakarta punya roti buaya dan Bogor punya Roti Unyil, Maros yang terletak di utara Kota Makassar juga punya roti khas. Roti yang jadi salah satu ole-ole wajib jika singgah di daerah Maros. Namanya Roma, tapi ini bukan merek biskuit yah. Roma sendiri merupakan akronim dari Roti Maros.

Konon, roti ini dulunya hanya makanan kampung yang dikonsumsi masyarakat menengah ke bawah. Namun seiring perkembangan zaman, industri rumahan ini menjadi industri yang potensial bagi warga Maros.

Roti Maros cukup populer di tahun 90-an. Dulu roti ini merupakan ole-ole favorit mereka yang berpergian jauh atau yang ingin pulang kampung. Sebenarnya saat ini pun roti Maros masih punya banyak penggemar, namun mulai berkurang atau tersisihkan seiring bertambahnya ragam kuliner modern yang ada di Sulsel.

Roti Maros

Roti maros di etalase kedai roti

Penjual roti Maros mudah dijumpai di sepanjang jalan poros Makassar-Maros. Daerah ini memang strategis karena merupakan jalur trans Sulawesi yang banyak dilewati pengendara yang akan keluar daerah ke arah utara. Beberapa kedai roti yang terkenal dengan roti marosnya antara lain : Anugerah, Setia Kawan, Sanggalea, Zazyl Bakery, Kedai 189, Mahkota dll. berada di jalan poros ini. Rata-rata kedai roti tersebut menempati ruko yang memiliki parkiran luas (3-5 ruko).

Untuk menarik pembeli, kedai-kedai roti tersebut menjalin kerja sama dengan PO (perusahaan otobus). Biasanya mereka merangkap sebagai agen atau perwakilan PO, sehingga nantinya bus-bus PO tersebut akan singgah di kedai roti. Nah, para penumpang bus antar kota tersebutlah yang mayoritas menjadi pelanggan mereka. Kedai-kedai roti yang letaknya saling berdekatan menyebabkan bus-bus yang singgah membeli ole-ole seperti membentuk barisan bus yang panjang. Ini pula yang sering jadi penyebab macet di jalan poros Makassar-Maros di malam hari.

Roti Maros

Antrian bus di kedai roti maros

Dulu roti maros awalnya berbentuk seperti bakpao. Cara pembuatannya pun menggunakan alat pemanggang roti dari batu bata serta pompa untuk pembakaran. Namun sekarang pemanggangannya menggunakan oven berbahan bakar gas. Proses pembuatannya pun semakin cepat dengan adanya mixer, rak roti, dan peralatan modern lainnya.

Roti maros yang sekarang kita kenal memiliki bentuk seperti roti kasur dan memiliki rasa yang sama dengan roti pada umumnya. Yang membedakannya adalah isian atau selainya. Selai yang digunakan adalah selai kaya yang merupakan resep khusus yang dibuat secara turun-temurun. Tentu setiap kedai roti memiliki resep rahasia masing-masing dan inilah yang membedakan “Roma” dari kedai satu satu dengan kedai yang lainnya. Namun secara umum selai kaya ini terbuat dari kuning telur, santan, dan gula, sehingga rasanya manis, gurih, dan enak.

Kedai roti yang menjual roti Maros biasanya sekaligus juga sebagai tempat produksi. Tak heran saat membeli roti Maros, kita akan mendapatkannya masih dalam keadaan hangat. Beberapa penjual juga biasanya membiarkan roti tanpa selai. Roti baru diisi selai jika ada pembeli yang datang.

Roti Maros

Selainya baru dioles kalau ada pembeli

Dalam pengemasan, dulu roti Maros hanya dibungkus plastik dan kertas roti, kemudian berganti menjadi kertas koran. Kemasan dengan kertas koran ini justru populer dan menjadi ciri khasnya. Namun saat ini beberapa kedai roti mulai mengganti kemasan roti maros dengan plastik mika dan snack box. Harga per kemasan biasanya bervariasi, mulai Rp. 8.000 sampai Rp. 15.000.

Saat yang paling enak menikmati roti Maros adalah dalam keadaan hangat karena teksturnya yang lembut akan sangat terasa, apalagi jika ditemani teh atau kopi hangat di sore hari. Kekurangan roti ini adalah tidak tahan lama jika ditempatkan di suhu ruangan. Mungkin itu pula yang menyebabkan penggemarnya semakin berkurang. Jika sudah dingin, biasanya teksturnya agak keras. Namun berdasarkan pengalaman pribadi, agar bisa tahan lama sebaiknya disimpan di kulkas (tahan seminggu) dan sebelum dihidangkan bisa dikukus kembali atau dimasukkan ke dalam pemanas nasi agar teksturnya jadi lembut kembali.

Jadi, sudah siap berburu roti maros?

ref: id.wikipedia & gosulsel.com

(Visited 550 times, 1 visits today)


About

anbhar.net | AngingMammiri.Org | AC Milan | PSM | Sobatpadi | Suka Dunia Militer & Penerbangan | Berenang & Snorkeling | Ngemil | Jalan2 | | AB+


'Roma, Ole-ole Wajib dari Maros' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool