Budaya Makassar

Ritual, Adat dan Budaya

Ritual, Adat dan Budaya
Vote Us

Hai kamu, apa kabar? Kali ini saya akan mengajak kamu untuk mengetahui beberapa ritual adat yang ada di Sulawesi Selatan yaitu budaya Makassar, yang dalam bahasa setempat, atau bahasa Makassar-nya adalah Accera’ Kalompoang. Acara ini adalah sebuah tradisi yang dilakukan secara turun temurun dari satu garis kekeluargaan atau sistem kekerabatan. Accera’ Kalompoang yang dilakukan di Gowa, sebuah Daerah Tingkat II dari Sulawesi Selatan dan Maccera’ Kalompoang yang dilakukan –masih di daerah Tingkat II juga, dari Sulawesi Selatan- kabupaten Enrekang.

Keduanya adalah sebuah budaya Makassar yang berkembang secara turun temurun. Menitikberatkan pada kebaikan dan keberkahan hidup, sebuah ritual yang dibangun dari kepercayaan masyarakat tentang penghormatan pada leluhur dan pusaka serta dianggap sakral. Hihi agak sedikit horor memang, tapi terlalu sayang untuk dilewatkan.

Jika di Makassar, ritual adat ini dilaksanakan hampir setiap setahun sekali, tepatnya pada hari ke-sepuluh bulan Dzulhijjah dalam penanggalan Islam dan mengambil momentum Hari Raya Qurban, Idul Adha.

Acara Accera’ Kalompoang ini biasanya diselenggarakan oleh anak keturunan dan kerabat dari Raja Gowa yang melibatkan pemerintah setempat atau pun tidak di Istana Tamalate kabupaten Gowa secara bergantian. Berlangsung setelah sholat Idul Adha dan pemotongan qurban di alun-alun Istana. Sorenya akan ada parade Pasukan Tubarani kerajaan Gowa sore harinya dan pembukaan Museum Balla Lompoa Gowa untuk umum.

Beranjak dari Gowa, kita akan ada di Enrekang sekarang, sebuah ritual adat serupa juga kerap dilakukan masyarakat setempat untuk mengangkat nilai-nilai kebajikan sarat makna. Perbedaannya jika di kabupaten Gowa melakukan ritual adat dalam sekali setahun, di kabupaten Enrekang melakukannya delapan tahun sekali. Inilah yang menyebabkan hasrat (deeu.. hasrat XD) orang banyak untuk melihat langsung acara ini memuncak, sebut saja penasaran. Dan memang tidak dapat dipungkiri kegiatan-kegiatan dengan nuansa-nuansa magis seperti ini membuat kita penasaran.

Tradisi budaya Makassar yang juga dilakukan secara turun menurun ini dilakukan oleh masyarakat Enrekang khususnya di daerah Kaluppini. Acara ini diperuntukkan untuk mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan pertanian masyarakat setempat. Maccera Manurung ini berlangsung selama beberapa hari berturut-turut. Ritual budaya yang memang sangat ditunggu-tunggu, bukan hanya oleh masyarakat setempat tapi juga oleh masyarakat luar provinsi.

Budaya Makassar

Dalam acara ini, ada beberapa budaya Makassar dengan ritual yang biasa dipimpin oleh petua adat setempat, yaitu di antaranya adalah menabuh gendang semalam suntuk, bertujuan membangunkan tanah. Hal ini mempunyai filosofi menghormati tanah sebagai inti dari seluruh jagad dengan harapan mendapatkan keselamatan dan rezeki yang berlimpah di kehidupan yang akan datang.

Ritual ini dikenal dengan  nama “Mappanongo Gandang” artinya menurunkan gendang; sebuah gendang dari salah satu masjid yang ada dibawa keluar untuk dijemur di atas batu yang merupakan tempat menghilangnya sembilan Tomanurung –dewa yang dipercaya turun dari langit- kemudian digantung dalam posisi tertentu untuk ditabuh sekali saja sebagai bagian dari pembukaan acara.

Gendang ini mempunyai pasak 42 kali 6 lingkaran, terbuat dari kayu Cena’ dan kulit kerbau, yang mana kulit tersebut diganti setiap delapan kali setahun.

Budaya Makassar

Kemudian ada ritual yang dikenal dalam budaya Makassar dengan sebutan “Liang Wae”, ada sebuah mata air yang dipercaya merupakan air dewata, bahwa airnya dapat membawa berkah dan air yang keluar dari mata air ini diyakini merupakan air langsung dari pusat bumi, yang massanya tidak akan bertambah atau berkurang walau diambil dalam jumlah yang banyak. Biasanya sebelum melakukan ritual ini diadakan doa bersama. Dan untuk sampai ke lokasi ini, kamu akan melewati medan yang cukup sulit. Tapi rasanya akan terbayar jika memang tingkat ke-kepoan-mu cukup tinggi seperti saya, hihi.

Ritual lainnya adalah Ma’ Peong, ritual yang dilakukan di hari berikutnya ini adalah ritual masak bersama; sebuah penganan yang disebut “Peong” yaitu beras ketan yang dimasukkan dalam bambu, kemudian diberi santan dan dibakar. Wuuiih… kebayang yah wangi dan gurihnya penganan yang satu ini. Dibeberapa daerah biasa disebut lemang atau piong di Toraja, tetangga dari Enrekang. Maksud dari ritual ini juga ungkapan syukur atas rezki yang berlimpah dan kebersamaan.

Lalu setelah itu akan ada penyembelihan hewan-hewan qurban yang jumlahnya sangat banyak; kerbau, sapi dan ayam, kemudian akan dibagikan untuk makan bersama. Asyiiik.. makan-makan.

Budaya Makassar

Oh iya, jangan lupa… ada larangan yang beredar dari penduduk setempat jika ingin mengikuti prosesi ini, yaitu:

  1. Dilarang memakai pakaian berwarna kuning.
  2. Dilarang merokok. Nah, bener nih yang ini… sebab merokok dapat menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan dan janin XD.
  3. Dilarang memakai emas. Berabe kalo hilang kamu bakal susah nyarinya, soalnya banyak orang.
  4. Dilarang memakan ubi jalar, kacang tanah, kambing dan kerbau putih. Antisipasi ajah, kali-kali ajah kamu alergi, mangkanya dilarang hoho.
  5. Dilarang menyalakan lampu senter atau lampu sorot lainnya. Iyah, biar hemat energi dong…
  6. Dilarang membawa sejata tajam.

Nah, itu seputar budaya Makassar, sudah siap ikutan acaranya? Yuk, kita pergi bareng-bareng!

Penyewaan mobil mainan di KMB
Mau liburan ke Makassar dan sekitarnya? Cari di sini: tiket pesawat dan hotel
(Visited 2,229 times, 1 visits today)


About

Mommy dua anak hebat - perajut dan crafter - sesekali curhat di ungatawwa.wordpress.com


'Ritual, Adat dan Budaya' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool