arak-arakan jenazah toraja

“Rambu Solo”, Sakralnya Makna Kematian di Toraja

“Rambu Solo”, Sakralnya Makna Kematian di Toraja
5 (100%) 1 vote

Hawa dingin yang menyengat seakan masuk menggerogoti pori-pori kulit, orang-orang dengan menggunakan sarung seakan tak hentinya hilir mudik sembari melempas senyum pagi itu. Di kelilingi bukit-bukit hijau yang menjulang angkuh dari kejauhan serta sambutan hangat rumah tongkonan seakan memberitahukan bahwa tanah ini indah dan ramah. Begitulah cara pagi menyapa kami saat baru tiba di Toraja, sebuah kabupaten yang berjarak sekitar 330an kilometer dari kota Makassar yang menjadi destinasi favorit wisata di Sulsel.

Jenazah yang diarak

Jenazah yang diarak

Terlihat orang-orang yang berpakaian serba hitam memenuhi jalan-jalan desa Randang Batu, mobil-mobil yang terparkir panjang di sisi jalan membuat akses satu-satunya jalan di desa bagian selatan Toraja tersebut terlihat betul-betul sibuk. Sebuah upacara adat Rambu Solo sedang digelar di desa tersebut. Berdasarkan literasi yang ada menjelaskan bahwa, upacara Adat Rambu Solo adalah ritual upacara pemakaman di Tana Toraja, yang dimana ritual ini bermakna mengantarkan arwah mendiang yang telah meninggal hingga ketujuan akhirnya, yakni alam roh.

Sebelum masuknya Agama di Toraja, masyarakat di sana masih menganut kepercayaan Aluk todolo atau yang dikenal dengan animisme tua. Berdasarkan kepercayaan Aluk Todolo, bagi mereka yang baru meninggal belum bisa dianggap benar-benar meninggal, mereka hanya dianggap sedang to makula atau orang yang sedang sakit/lemah, sehingga makanan, minuman dan kebutuhan lainnya tetap disediakan untuk mendiang karena dianggap masih hidup. Nanti mendiang benar-benar dianggap telah meninggal saat keluarga sudah melaksanakan prosesi Upacara pemakaman adat Rambu Solo, dalam upacara pemakaman tersebut mendiang dibekali dengan segala perlengkapan upacara, hewan kurban, hingga harta benda oleh keluarganya untuk menuju ke alam roh.

Sang Istri Dan Suaminya Dalam Peti Jenazah

Sang Istri Dan Suaminya Dalam Peti Jenazah

Ketika keluarga mendiang mengadakan upacara adat, sanak keluarga lainnya berdatangan dengan menggunakan pakaian hitam, mereka pun ikut membantu menyumbangkan hewan kurban berupa babi dan kerbau sebagai bekal mendiang yang ingin diantar ke alam roh. Makanya jangan heran ketika mendengar upacara pemakaman di Toraja itu bisa menghabiskan ratusan juta hingga milyaran rupiah hanya untuk satu Upacara Rambu Solo saja, karena perhitungan biaya tersebut diakumulasikan dengan sumbangan-sumbangan hewan kurban dari sanak keluarga mereka.

Salah Seorang Kerabat Mendiang

Salah Seorang Kerabat Mendiang

*****

Rumah-rumah bambu beratap rumbia menjadi penyambut saat memasuki area upacara, kain-kain merah yang menjulang panjang dengan ukiran-ukiran khasnya menghiasi atap dan pagar rumah-rumah tersebut. Pembatas-pembatas dari kain dalam rumah tersebut seakan menjadi penanda batas wilayah tamu yang digolongkan berdasarkan marganya, rumah perjamuan tamu karena dalam rumah tersebutlah para tamu yang datang akan dijamu oleh pelaksana acara.

Penjemputan Tamu

Memuliakan Tamu Dengan Menjemputnya

“Silahkan masuk ke dalam” seorang pria kumis dengan pakaian hitamnya mengajak masuk ke dalam rumah bambu. Semua yang datang di sini adalah tamu bagi kami, dan tamu harus dijamu dengan baik agar mendiang keluarga kami lekas sampai di tujuannya. Sambung pria yang berumur kisaran 60an tersebut, pria berkumis lebat itu bernama Pak Rambe. Pak Rambe sendiri yakni seorang To sipalakuan (orang yang bertugas memenuhi semua kebutuhan perawatan jenazah dan upacara) dalam acara Rambu Solo siang itu.

Dengan beralaskan lantai bambu saya pun duduk bergabung dengan tamu lainnya yang ternyata telah dipersilahkan masuk terlebih dahulu oleh sang tuan hajatan. “karena mendiang adalah tana’ bulan (bangsawan tinggi), maka acara ini diadakan minimal selama 7 hari, acara bisa semakin lama tergantung keluarga tamu yang datang” ujar pak Rambe menjelaskan dengan ramah pada tamu di rumah bambu tersebut. Sekarang ini sudah terkumpul sekitar 45 ekor kerbau, 5 di antaranya adalah Tedong Bonga (kerbau belang) dan sekitar 30 babi. Lanjutnya.

Orang Toraja dan Kerbau Tak Terpisahkan

Orang Toraja dan Kerbau Tak Terpisahkan

Mengurbankan kerbau dalam setiap ritual upacara pemakaman Rambu Solo adalah sebuah kewajiban, berdasarkan kepercayaan masyarakat Toraja kerbau-kerbau yang dikurbankan inilah nantinya yang menjadi kendaraan mending menuju alam roh, semakin banyak kerbau semakin cepat ia sampai di tujuan. Bagi keluarga bangsawan, keharusan mengurbankan kerbau belang (kerbau albino berbintik hitam dan bertanduk kuning emas) juga merupakan sebuah kewajiban.

Kerbau Rp. 200Juta VS Kerbau Rp. 200Juta

Kerbau Rp. 200Juta VS Kerbau Rp. 200Juta

TIKET TERMURAH KE MAKASSAR

Harga kerbau belang atau yang biasa orang Toraja sebut tedong bonga ini tidak main-main, harga satu ekor kerbau tersebut sekitaran Rp. 150juta – Rp. 250juta, ujar pak Rambe. Yah sebuah kendaraan yang sangat mahal menuju alam roh. Sebelum kerbau-kerbau tersebut dikurbankan saat hari terakhir dalam rangkaian upacara ini, setiap sorenya mereka melakukan passilaga tedong atau adu kerbau sebagai hiburan bagi tamu yang datang dalam acara tersebut.

Dari luar rumah perjamuan tamu, terdengar gemah suara orang bernyanyi yang diiringi musik-musik khas, mereka membentuk sebuah lingkaran serta saling mengaitkan jari kelingkingnya. Mereka lagi melakukan ritual Ma’Badong, sebuah tarian dan nyanyian kedukaan yang diberikan untuk mendiang, setiap orang yang ingin mengungkapkan doa dan kesedihannya bergabung dalam tarian tersebut ujar pak Rambe. Mendengarkan mereka menyanyikan syair-syair kedukaannya saja bulu kudu saya sudah merinding, begitu sakralnya orang Toraja mengantarkan keluarga mereka menuju alam terakhir dalam perjalanan hidupnya. kami pun bergegas keluar dari rumah perjamuan tamu untuk menyaksikan prosesi tarian duka tersebut.

Berdasarkan Saroenggalo: 2008 dalam prosesi acara pemakan Rambu Solo terdapat dalam dua bagian, yakni Aluk Pia / Aluk Banua dan Aluk Palao / Aluk Rante.

Prosesi Aluk Pia / Aluk Banua Dan Aluk Palao / Aluk Rante

Dalam prosesi Aluk Pia / Aluk Banua ini digelar selama 4 hari berturut-turut.

  • Hari Pertama : Mempersembahkan hewan kurban berupa kerbau dan babi, dengan diiringi nyanyian kedukaan semalam suntuk (ma’badong ). Di hari pertama ini, dilakukan juga perubahan letak posisi mendiang untuk berubah statusnya menjadi to makula, yaitu orang yang dianggap benar-benar telah wafat.
  • Hari Kedua: Menerima kerabat yang biasanya datang dengan membawa sumbangan berupa hewan kurban atau uang. Sumbangan ini sebagai tanda bahwa kelak jika sang penyumbang juga menyelenggarakan upacara, maka yang disumbang harus mengembalikannya, meskipun tidak dianggap sebagai hutang. Para tamu biasanya akan memperkenalkan kerabat masing-masing sehingga dari sini mereka akhirnya saling mengetahui jalinan kekerabatan mereka.
  • Hari Ketiga: Mengadakan 2 ritual. Pertama yaitu ma’bolong, yakni sebuah ritual penyembelihan babi di pagi hari oleh to mebalun di mana semua orang berpakaian hitam sebagai tanda berkabung. Kedua, ma’batang, penyembelihan kerbau di lapangan dan dilanjutkan dengan pembacaan mantra pujian pada leluhur dari atas bala’kayan (menara daging).
  • Hari Keempat: Melaksanakan ritual memasukkan jenazah ke dalam sebuah peti kayu. Kayu yang digunakan harus kayu yang sudah mati (kayu mate) dan menjadi simbol bahwa jenazah telah benar-benar mati.

 

Setelah prosesi aluk pia / aluk banua selesai dilakukan, dilanjutkan lagi dengan prosesi Aluk Palao atau Aluk Rante

  • Ma’ palao, jenazah dari lumbung dipindahkan di lapangan dan dibawa dengan iringan arak-arakan. Sesampai di lapangan, kerbau dipotong dengan ditebas langsung lehernya. Daging kerbau lalu dibagikan kepada yang hadir dengan sebelumnya didendangkan syair-syair kedukaan.
  • Allo katongkkonan, keluarga menerima tamu yang datang dan mencatat pemberian sumbangan.
  • Allo katorroan, keluarga dan petugas istirahat sejenak untuk membicarakan persiapan acara puncak pesta pemakaman. Pada tahap ini, disepakati lagi berapa kerbau yang akan dipotong.
  • Mantaa’ padang, acara puncak yaitu pemotongan kerbau yang telah disepakati sebelumnya. Daging kerbau kemudian dibagikan kepada keluarga dan kerabat sesuai adat. Terkadang ada kerbau yang dibiarkan hidup tapi sudah diniatkan untuk disembelih dan disumbangkan untuk masyarakat.
  • Me aa’, jenazah diturunkan dari lakian atau ke tempat pemakaman, kemudian digelar ibadah pemakaman, ungkapan belasungkawa, ucapan terima kasih dari keluarga, dan prosesi pemakaman jenazah.
  • Upacara pemamakan Rambu solo ini benar-benar dianggap selesai ketika jenazah sudah benar-benar dimakamkan.

Ritual upacara pemakaman Rambu Solo adalah sebuah kekayaan budaya yang masih terus dipertahankan di era modern saat ini di Tanah Toraja, kesakralan dalam upacara pengantaran sanak keluarga mereka menuju alam roh tidak akan pernah bisa dinilai dari materi saja. Kepergian bukan hanya perihal tentang kesedihan, tapi juga silaturahmi yang selalu terjaga dari sebuah momen pengantaran, begitulah saya memahaminya setelah melihat prosesi upacara pemakaman Rambu Solo di Toraja. [LB]

(Visited 3,061 times, 4 visits today)


About

Blogger yang juga senang jalan dan fotografi, sibuk jadi buruh online.


'“Rambu Solo”, Sakralnya Makna Kematian di Toraja' have 10 comments

  1. May 4, 2015 @ 2:02 pm Kamaruddin Azis

    Suka tulisan ini. Bebmen nampaknya meriset dengan tekun. Keren!

    Reply

    • May 4, 2015 @ 2:13 pm Made

      #kurrusumange, semoga bermanfaat daeng. Cuman yah masih perlu teliti melihat kesalahan tulis sepertinya 🙂

      Terima kasih koreksinya via japri *salim

      Reply

  2. May 4, 2015 @ 5:39 pm iRa

    Keren tawwa tulisannya kaka bebmen. Efek kaka afaath kah? Hahaha

    Reply

    • May 4, 2015 @ 7:33 pm Made

      Faktornya tak beralasan 🙂

      Reply

  3. May 4, 2015 @ 7:59 pm Vby Utami

    Wuih! Keren tulisannya Kak Ahmad..

    Reply

    • May 5, 2015 @ 2:44 am Made

      Harus, masa jelek terus :))

      Makasih kk Vby

      Reply

  4. May 5, 2015 @ 4:52 am Bimo Aji Widyantoro

    bagus informasinya, ternyata seperti ini adatnya orang toraja

    Reply

    • May 5, 2015 @ 9:09 am Made

      Makasih om Bimo 🙂

      Reply

  5. May 25, 2015 @ 5:59 am rudi

    Ya mo disanga kasianggaran tee…salut buat penulis atas informasi ini. Tp tulisannya mmg ada yg kurang tp kita bs maklumi terutama nama tempat..pisssssssss

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool