Prosesi Pernikahan Adat Bugis

Prosesi Pernikahan Adat Bugis

Prosesi Pernikahan Adat Bugis
Vote Us

Pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral. Bagi suku Bugis, perkawinan bukan sekedar menyatukan dua mempelai dalam hubungan suami-istri, tetapi pernikahan Bugis merupakan suatu upacara yang bertujuan untuk menyatukan dua keluarga besar. Untuk melangsungkan pernikahan ada berbagai prosesi pernikahan adat Bugis yang harus dilalui demi tercapainya tujuan pernikahan itu sendiri.

Secara umum, prosesi pernikahan adat Bugis terbagi atas tiga tahapan yaitu pra nikah, akad nikah, dan setelah nikah. Berikut ringkasannya;

Kue apa saja yang wajib ada dalam pesta pernikahan Bugis? Baca di sini

Tahapan Pranikah Pernikahan Bugis

Sebelum melangsungkan pernikahan, ada banyak tahapan yang umum dilakukan suku Bugis. Bagi yang lelaki yang belum dijodohkan maka biasanya pihak keluarga akan mencarikan pasangan yang dianggap pantas dan sesuai.

Tahap pertama dalam pernikahan Bugis yang dilakukan adalah mammanu’-manu’, semacam kegiatan penyelidikan yang biasanya dilakukan secara rahasia oleh seorang perempuan dari pihak laki-laki untuk memastikan apakah gadis yang telah dipilih sudah ada yang mengikatnya atau belum. Mammanu’-manu’ juga untuk mengenali jati diri gadis itu dan kedua orang tuanya. Jika hasil mammanu—manu’ ini menunjukkan bahwa si gadis memang pantas dan belum ada yang mengikat maka pihak keluarga laki-laki memberikan kabar kepada pihak keluarga gadis bahwa mereka akan datang menyampaikan pinangan.

Proses pinangan dalam suku Bugis disebut madduta atau lao lettu. Dalam madduta biasanya dibicarakan di antaranya dui’ menré (uang belanja) dan sompa (mahar). Jika kedua belah pihak telah sepakat dengan jumlah mahar dan uang belanja, maka dilanjutkan dengan mappettu ada atau memutuskan dan memilih hari pernikahan yang dalam bahasa Bugis disebut tanré esso (penentuan hari).

Setelah kedua belah pihak sepakat dalam proses madduta dan mappettu ada atau peminangan, kedua pihak keluarga calon mempelai akan menyampaikan kabar mengenai pernikahan ini pada keluarga dekat, tokoh masyarakat yang dituakan, serta tetangga-tetangga dekat atau orang yang dirasa akan mengambil peran terhadap kesuksesan semua rangkaian upacara pernikahan ini. Proses ini disebut mappaisseng atau memberitahukan.

Langkah selanjutnya dalam pernikahan Bugis adalah mengundang seluruh kerabat, sanak saudara dan teman-teman kedua mempelai. Kegiatan menyebarkan undangan tertulis ini disebut mappalettu selleng atau menyampaikan salam karena pada saat penyampaian undangan selalu diiringi dengan kalimat “ada salam dari (menyebut nama pihak pengundang)”. Biasanya penyebaran undangan tertulis ini dilaksanakan kira-kira 10 atau 1 minggu sebelum resepsi pernikahan dilangsungkan.

Malam menjelang acara akad nikah/ijab kabul adalah malam mappacci. Ritual mappacci ini menggunakan doppacci atau daun pacar.  Pelaksanaan mappacci ini mengandung makna akan kebersihan raga dan kesucian jiwa, sesuai dengan makna paccing (bersih, suci) yang berasal dari kata  pacci.

Mappacci, salah satu prosesi pernikahan Bugis | foto Mappacci qiahladkiya(dot)com

Mappacci, salah satu prosesi pernikahan adat Bugis | foto Mappacci qiahladkiya(dot)com

Akad Nikah

Upacara akad nikah atau esso botting juga memiliki beberapa rangkaian acara,  antara lain:

Akad nikah di suku Bugis biasanya diadakan di rumah pengantin perempuan. Proses mengantar pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan untuk melaksanakan akad nikah itu disebut mappénré botting. Sebelum pengantin laki-laki berangkat ke rumah perempuan, terlebih dahulu rombongan tersebut menunggu penjemput dari pihak perempuan yang menyampaikan kepada pihak laki-laki bahwa pihak perempuan telah siap menerima kedatangan pihak laki-laki.

Puncak prosesi pernikahan Bugis adalah akad nikah. Prosesi akad nikah bagi suku Bugis mengikuti cara Islam mengingat hampir semua suku Bugis menganut agama Islam. Akad nikah dilakukan oleh bapak atau wali calon mempelai perempuan atau imam kampung atau salah seorang yang ditunjuk oleh Kantor Urusan Agama, disertai dua orang saksi dari kedua belah pihak.

pernikahan-bugis

Setelah akad nikah

Setelah proses akad nikah selesai, acara selanjutnya adalah mappasikarawa, yaitu mempertemukan mempelai laki-laki dengan pasangannya. Pengantin laki-laki diantar oleh seseorang yang dituakan oleh keluarganya menuju kamar pengantin. Setiba di kamar, pengantin laki-laki dituntun untuk menyentuh bagian tertentu tubuh pengantin perempuan.

Proses selanjutnya adalah memohon maaf atau mellawu dampeng kepada orang tua pengantin perempuan dan seluruh keluarga dekat yang sempat hadir pada akad nikah tersebut. Setelah itu biasanya kedua pengantin menuju pelaminan untuk bersanding guna menerima ucapan selamat dan doa restu dari segenap tamu dan keluarga yang hadir. Acara ini biasanya dilanjutkan dengan resepsi di malam hari untuk menerima tamu yang belum sempat datang di acara akad nikah.

Setelah Akad Nikah

Rangkaian selanjutnya setelah akad nikah dalam pernikahan Bugis adalah mapparola, yaitu kunjungan balasan dari pihak perempuan kepada pihak lak-laki. Mapparola biasanya dilaksanakan sehari atau beberapa hari setelah upacara akad nikah dilaksanakan. Pada hari mapparola yang disepakati kedua belah pihak kemudian mengundang kembali keluarga dan kaum kerabat untuk hadir dan meramaikan. Prosesi ini biasanya dilakukan dua kali yang disebut mapporola wekkadua.

Kegiatan selanjutnya adalah massiara kibburu’ atau ziarah kubur lalu lao cemme-cemme atau rekreasi bersama. Kedua acara ini ini sebenarnya bukan rangkaian prosesi pernikahan adat Bugis namun sampai saat ini kegiatan tersebut masih sering dilakukan karena merupakan tradisi atau adat kebiasaan bagi masyarakat Bugis, yaitu lima hari atau seminggu setelah kedua belah pihak melaksanakan upacara perkawinan.

Demikianlah prosesi pernikahan Bugis yang mungkin di jaman sekarang sudah semakin jarang dilakukan tahap demi tahapnya. Dengan alasan efektivitas, beberapa di antaranya memang sudah mengalami penyerdehanaan dan tidak lagi dilakukan. Bagaimanapun, prosesi tersebut adalah kekayaan budaya Nusantara.

(Visited 1,396 times, 3 visits today)

About

sharing is caring | bebas merdeka 100% | writer and traveller wannabe | peneliti paruh waktu | social media enthusiast |


'Prosesi Pernikahan Adat Bugis' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool