Danau Tanralili

Perjuangan Mencari Danau Tanralili (Part 2)

Perjuangan Mencari Danau Tanralili (Part 2)
5 (100%) 1 vote

Sebelumnya saya sudah menuliskan separuh dari perjuangan mencari danau Tanralili di kabupaten Gowa, Sulawesi selatan. Tulisan tersebut berhenti saat saya dan teman-teman sependakian telah mencapai puncak Tallung. Dari tempat ini, bisa terlihat jelas pemandangan lembah Ramma’ yang indah serta gunung-gunung yang mengelilinginya. Di Puncak Tallung juga terdapat batu dan satu pohon Pinus sebagai penanda. Sayangnya, di batu dan pohon pinus tersebut sudah banyak tulisan-tulisan tangan jahil yang saya tidak tahu untuk alasan apa menuliskan nama mereka disana. Tindakan yang menurut saya (maaf) kekanak-kanakan dan merusak pemandangan. Hal-hal seperti itu yang harus dihindari saat melakukan pendakian.

Lembah Ramma

Berfoto Sebelum Melanjutkan Perjalanan

Menikmati pemandangan matahari terbit di puncak Tallung sudah kami lakukan, setelah beres-beres tenda  dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan mencari danau Tanralili. rute yang dilalui tidak terlalu sulit karena berupa turunan yang ‘ramah’. Jalan setapak yang dipenuhi bebatuan yang susunannya sudah pas untuk  dipijak. Di sisi kiri jalan, kami sering menemui mata air yang segar, jadi jangan takut kehabisan air saat ke sini ya.

Dari Puncak Tallung ke lembah Ramma’ memakan waktu sekitar satu jam. Sudah banyak tenda yang ‘parkir’ di lembah Ramma’ saat kami tiba. Tapi tempat ini bukan tujuan akhir dari perjalan saya dan teman-teman. Jadi setelah berfoto dan sedikit mencuci kaki di sungai-sungai kecil Ramma’, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Lembah Ramma

Lembah Ramma, Salah Satu Lokasi Camping Favorit di Daerah Sulawesi Selatan

Saya sudah tak menghitung waktu lagi saat menuju Danau Tanralili karena rute yang ‘ekstreme’ dan membuat saya shock. Ada beberapa turunan yang benar-benar terjal. Ditambah lagi, tanah dan bebatuan tempat  kami berpijak sangat rawan longsor. Bersyukur, kami bisa melalui semua itu dengan selamat.

Rute Pencarian Danau Tanralili

Sungai Kering Yang Penuh Bebatuan Menjadi Salah Satu Rute Pencarian Danau Tanralili

Semua lelah perjalanan terbayar ketika sampai di danau Tanralili. Pemandangannya danau yang indah dan pohon pinus yang berjajar rapi diatas ketinggian gunung serta udara yang segar merupakan paduan komplit yang disajikan alam.

Kata tanralili sendiri merupakan nama salah satu kerajaan di sulawesi selatan yang terkenal keras dan pemberani. Dari asal kata ‘tenri’ dan ‘lili’ yang artinya tidak dapat ditundukkan. Sayangnya saya tak  bertanya pada masyarakat setempat mengenai sejarah pemberian nama danau Tanralili. Mungkin karena jalur yang ekstrim dan tidak mudah ditaklukkan sehingga diberi nama demikian. Ini hanya dugaan saya saja.

Danau Tanralili mempunyai luas sekitar 2 hektar. Airnya yang dingin tentu bukan teman yang pas buat mandi. Tapi, ada saja teman yang berani menyelam dan berenang di pinggiran danau. Hasilnya bisa dipastikan, mereka keluar dari danau dengan gigi bergeletuk kedinginan.

Di dekat danau Tanralili kami membangun dua tenda untuk persiapan menginap semalaman. Tenda dibuat terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Untuk kegiatan masak mememasak, kami melakukannya tidak jauh dari tenda. Ada banyak pilihan makanan yang bisa dicoba, termasuk makanan instan seperti spageti dan mi goreng. Di pagi hari kami memasak bubur kacang ijo yang bahan-bahannya sudah dipersiapkan jauh hari. Selain proses pembuatannya yang gampang, bubur kacang ijo mempunyai kandungan karbohidrat, protein dan vitamin yang tinggi. Paduan yang lengkap umenambah tenaga untuk kembali ke kota.

Saat malam hari, pemandangan di danau Tanralili semakin indah dengan pemandangan langit yang penuh bintang-bintang. Karena berada di ketinggian dan jauh dari polusi cahaya, penampangan rasi bintang di langit bisa begitu jelas.

Keesokan harinya kami mengunjungi air terjun yang tidak jauh dari danau Tanralili. Dengan menyusuri bebatuan besar dari sungai yang mengairi Danau Tanralili, kami memulai perjalanan. Tidak butuh banyak waktu, tapi cukup menyita tenaga.

Puas melihat air terjun, kami kembali ke camp dan segera bersiap untuk pulang. Tentunya  tak lupa kami berfoto di hadapan danau Tanralili.

Danau Tanralili

Berfoto Bersama dan Berharap Bisa Kesini Lagi Beberapa Tahun kedepan

Yang perlu diperhatikan saat melakukan travelling ke alam adalah  jangan sekali-kali meninggalkan sampah di tempat berkemah atau sepanjang perjalanan. Masukkan ke dalam kantong plastik dan jangan lupa dibawa pulang. Ingat aturan saat naik gunung, jangan mengambil apapun selain gambar, dan tidak meninggalkkan apapun selain jejak.

(Visited 2,554 times, 1 visits today)


About

andiarifayani.blogspot.com | Sobat LemINA | Penyala Makassar


'Perjuangan Mencari Danau Tanralili (Part 2)' have 1 comment

  1. June 24, 2015 @ 7:21 pm Baso Hamdani

    Keren. Semoga segala perjalanan yang dilakukan bisa diambil hikmahnya dari capek2nya hingga pelajaran yang didapat dari alam. Keindahan alam berupa pemandangan yang dirasakan hanya sbagian kecil dari segala keindahan yang Tuhan berikan.

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool