Puncak Tallung Makassar

Perjuangan Mencari Danau Tanralili (Part 1)

Perjuangan Mencari Danau Tanralili (Part 1)
5 (100%) 1 vote

Mendaki gunung beberapa tahun belakangan menjadi trend di kalangan anak muda. Kegiatan ini tidak lagi hanya dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa pecinta alam, tetapi hampir semua kalangan terkhusus anak muda. Banyak yang bilang hal ini dipengaruhi oleh salah satu film Indonesia yang diangkat dari novel 5 centimeter dengan judul yang sama. Entah anggapan itu benar atau tidak. Di Makassar sendiri, animo anak muda untuk mendaki gunung juga meningkat. Ini dibuktikan dengan semakin banyaknya foto teman-teman yang diposting saat sudah mencapai puncak gunung. Foto dengan pose tertentu dan memegang poster atau tulisan dengan pesan tertentu.

Saya sendiri baru sekali melakukan pendakian yaitu saat menuju danau Tanralili. Lokasinya terletak di kaki gunung Bawakaraeng. Sebelum kesana, ada banyak persipan yang dilakukan, terutama untuk saya yang baru pertama kali melakukan pendakian. Olahraga menjadi ritual wajib  calon pendaki.  Kata teman yang menjadi guide kami, lari keliling lapangan selama minimal 3 minggu sebelum keberangkatan sangat diperlukan. Hal ini supaya badan tidak ‘kaget’ dan bisa tetap fit selama perjalanan.

Saya dan 4 teman lainnya meninggalkan Makassar dan menuju Malino, Kabupaten Gowa pada sore hari dan sampai di Desa Lembanna sekitar jam 11 malam. Perjalanan yang tergolong lambat karena kami mengendarai motor dan singgah berkali-kali untuk makan dan shalat. Desa Lembanna adalah desa tempat memulai pendakian, sekaligus memarkir motor. Saat kami tiba, sudah banyak sekali kendaraan yang parkir di depan rumah-rumah warga. Menandakan kalau bukan hanya kelompok kami yang melakukan pendakian. Benar saja, beberapa kilometer perjalanan, kami mendapati rombongan yang juga sedang mendaki. Jumlah mereka jauh lebih banyak dari kami. Sedikit bertegur sapa, kami melanjutkan perjalanan.

Keuntungan mendaki malam hari adalah terhindar dari sinar matahari, perjalanan juga tidak begitu terasa jauhnya. Sayang, kita tidak bisa menikmati pemandangan alam karena yang ada adalah gelap dan hutan di pinggir kiri dan kanan jalan. Sumber penerangan cuma headlamp.  Agak seram , tapi saya lebih fokus mengatur nafas yang mulai ngos-ngosan dibandingkan memikirkan hal tersebut.

Ada sedikit penyesalan sebenarnya, karena kesibukan membuat saya tidak maksimal melakukan persiapan fisik sebelum keberangkatan. Tidak heran kalau nafas saya tak begitu kuat. Bebrapa kali saya harus berhenti dan mengambil nafas dalam-dalam. Mungkin hal ini juga yang memperlambat perjalanan kami. Bersyukur, saya ditemani oleh kawan-kawan yang pengertian dan sudah berpengalaman mendaki. Selain melatih fisik, mendaki juga melatih kesabaran. Terutama untuk kawan-kawan saya.

Karena kelelahan saya tak memperhatikan  lagi berapa jumlah pos yang terlewati. Yang saya tahu, perjalanan menanjak, turunan, menanjak lagi, turunan lagi sambil terus bertanya, kapan akan tiba di di tempat peristirahatan yang katanya bernama Puncak Tallung. Saya hampir-hampir kehilangan tenaga.

“Ayo Ifa, semangat. Sebentar lagi. Udah deket koq” kawan yang menjadi guide kami terus menyemangati. Saya sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Cuma melempar senyum di kegelapan. Akhirnya sampai juga di tempat yang bernama Puncak Tallung. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Setelah membuat tenda. Saya langsung terlelap dalam dekapan sleeping bag yang hangat.

Pukul 05.30 saya terbangun. Cuaca begitu dingin disertai angin kencang. Saya mencari-cari air untuk wudhu. Setelah itu, menunggu terbitnya matahari. Pemandangan di puncak Tallung begitu indah. Semua pemandangan tersaji secara live tanpa penghalang awan. Maklum saja, kami mendaki di musim kemarau.

Puncak Tallung Makassar

Menyaksikan matahari terbit dari Puncak Tallung

Puncak Tallung Makassar

Beberapa pendaki sedang mersiap-siap menuju lembah Ramma

Perjalanan masih jauh untuk sampai di lokasi tujuan kami, danau Tanralili. Pelajaran yang saya petik, jangan pernah meremehkan latihan fisik sebelum melakukan pendakian.

(Visited 1,510 times, 1 visits today)


About

andiarifayani.blogspot.com | Sobat LemINA | Penyala Makassar


'Perjuangan Mencari Danau Tanralili (Part 1)' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool