Dangkot khas Toraja Sulawesi Selatan

Pedasnya Dangkot khas Toraja, Sulawesi Selatan

Pedasnya Dangkot khas Toraja, Sulawesi Selatan
5 (100%) 3 votes

“Kalau ke Makassar, siapkan lambung yang kosong yaa!”

Seperti itulah sepenggal kalimat penutup chatting dengan teman saya yang berencana menikmati wisata ke Makassar.

Bagi pelancong, yang terlintas pertama kali saat menyebut kota Makassar biasanya Pantai Losari dan Coto Makassar. Coto Makassar merupakan makanan khas kota Makassar yang selalu menjadi primadona. Tak heran, penjual Coto Makassar sudah mencapai 400an warung yang tersebar di seluruh wilayah Makassar dan sekitarnya.

Tak hanya Coto, kuliner khas Makassar memang identik dengan daging-dagingan. Sop Konro, Konro Bakar, Sop Saudara, Pallubasa, dan berbagai masakan lainnya. Makanya, kalau ke Makassar harus siap-siap kena kolesterol.

Seporsi Dangkot

Seporsi Dangkot

Lupakan soal Coto, kali ini saya akan membahas makanan khas Toraja, Dangkot Bebek. Warung Dangkot di Makassar memang tak sepopuler warung Coto, tapi kamu layak mencobanya. Kalau kamu bepergian ke daerah menuju ke Palu (Sulawesi Tengah), Luwu Timur, Kendari (Sulawesi Tenggara) dan antara kota Palopo – Masamba (Luwu Utara) – Malili (Luwu Timur), warung Dangkot sangat mudah kamu temui.

Dangkot merupakan singkatan dari daging kotte. Kotte atau kotek yang berarti itik atau bebek. Sekilas terlihat tidak ada yang istimewa apalagi dagingnya tergolong alot dan amis, tapi tunggu dulu sebelum kamu merasakan sensasi kepedisan dan kelezatan di setiap gigitan daging itiknya.

Warung Dangkot 53 Makassar

Warung Dangkot 53 Makassar

HOTEL MURAH DI UJUNGPANDANG

Salah satu warung Dangkot yang saya rekomendasikan di Makassar adalah Warung Bebek 53. Berawal dari kesukaan Bu Erni makan Dangkot akhirnya beliau bersama suaminya, Pak Yersi memberani diri memasak dan menjual Dangkot di rumahnya yang berukuran kurang lebih 3×5 meter itu. Dengan bermodalkan 2 wajan besar untuk memasak daging bebek dan daging ayam serta beberapa buah kursi dan meja kayu rumah makan kecil itu mampu bertahan selama 5 tahun.

Menurut pengakuan Pak Yersi, Dangkot olahannya mampu bertahan sampai 1 minggu jika disimpan di lemari pendingin. Makanya tak sedikit pelancong yang membawa Dangkot sebagai buah tangan. Pak Yersi juga membocorkan sedikit resepnya kepada saya bagaimana mengolah daging bebek agar empuk dan tidak amis.

Sereh, jahe, lengkuas, daun jeruk, bawang merah, cabai merah, cabai hijau, merica, dan garam merupakan bumbu dasar masakan ini. Daging bebek yang sebelumnya dibakar, dicincang-cincang kecil lalu ditumis dengan bumbu yang sudah diblender. Sangat mudah kelihatannya tapi sebenarnya butuh keahlian khusus dalam mengolah daging bebek tersebut.

Bu Erni bercerita bahwa mereka baru 2 bulan membuka warung yang terletak di Jalan Sungai Limboto No. 47. Warung tersebut buka dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam, begitupun warung di rumahnya. Harga per porsi Dangkot hanya Rp 12.000,- dan nasi putih Rp 3.000,-. Sangat murah!

So, bagi yang mau merasakan sensasi pedas Dangkot dengan keringat bercucuran, silakan saja datang pada jam makan siang!

(Visited 11,352 times, 3 visits today)


About

Social Media Junkie | Urban Farmer | Moody Chef | Moody Blogger | Admitted as a Backpacker


'Pedasnya Dangkot khas Toraja, Sulawesi Selatan' have 2 comments

  1. April 29, 2015 @ 1:42 pm enal d' dactylon

    Camgih meman. Tapi nda sukaka bebeb apalagi pedis, hehe

    Reply

    • April 30, 2015 @ 11:10 pm Febrianty Utami

      Tak suka bebeb? Eh, bebek? Coba dangkot ayamnya. Tidak sepedas dangkot bebeknya. 🙂

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool