Pahlawan-Pahlawan Nasional Asal Sulsel

Vote Us

Menyambut Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November ini, tim HelloMakassar.com ingin memperkenalkan Pahlawan-Pahlawan Nasional Asal Sulsel. Siapa saja mereka?

Pahlawan Nasional adalah gelar penghargaan tingkat tertinggi di Indonesia. Gelar ini diberikan oleh Pemerintahan Indonesia atas tindakan atau perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa bagi warga masyarakat lainnya. Gelar Pahlawan Nasional juga diberikan bagi mereka yang berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

Setidaknya ada  12 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, berikut daftarnya;

  1. Andi Abdullah Bau Massepe

Letnan Jenderal TNI Andi Abdullah Bau Massepe adalah pejuang heroik dari daerah Sulawesi Selatan. Ia merupakan panglima pertama Tentara Rakyat Indonesia Divisi Hasanuddin. Andi Abdullah Bau Massepe adalah putra dari Andi Mappanyukki (yang juga merupakan salah satu pahlawan Nasional dari Sulawesi Selatan) dan ibunya Besse Arung Bulo (putri Raja Sidenreng).

Andi Abdulllah Bau Massepe lahir di Massepe, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, pada tahun 1918 Kabupaten Sidenreng Rappang. Massepe dahulunya merupakan salah satu pusat kerajan Addatuang (kerajaan) Sidenreng.

Pewaris tahta dari dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu Kerajaan Bone dan Gowa wafat di Pare-pare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 2 Februari 1947 pada umur 29 Tahun dan dianugerahi gelar Pahlawan nasional Indonesia oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2005 dalam kaitan peringatan Hari Pahlawan 10 November 2005.

  1. Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Setelah menaiki Tahta sebagai Sultan, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana namun lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja.

Raja Gowa ke 16 ini lahir 12 Januari 1631 dan meninggal pada 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun. Beliau dimakamkan di Katangka, Kabupaten Gowa. Sultan Hasanuddin yang gigih melakukan perlawanan terhadap VOC Belanda ini dijuluki De Haantjes van Het Osten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/ Jago dari Timur karena keberaniannya.

Sultan Hasanuddin diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973.

Patung Sultan Hasanuddin, salah satu Pahlawan Nasional Asal Sulsel

Patung Sultan Hasanuddin, salah satu Pahlawan Nasional Asal Sulsel, berdiri tegak di Bandara Internasional Soekarno – Hatta Makassar

  1. Andi Jemma

Andi Djemma adalah Datu (Raja) Luwu yang juga seorang tokoh Indonesia dan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia tanggal 8 November 2002. Andi Jemma yang lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, 15 Januari 1901 ini menjelang kemerdekaan Indonesia yaitu pada tanggal 15 Agustus memimpin ‘Gerakan Soekarno Muda’.

Pahlawan Nasional Asal Sulsel ini juga memimpin Perlawanan Semesta Rakyat Luwu pada 23 Januari 1946. Tanggal itu sekarang diperingati sebagai Hari Perlawanan Rakyat Semesta. Andi Djemma yang mempunyai lima putera tertangkap Belanda pada 3 Juli 1946 dan diasingkan ke Ternate. Ia akhirnya meninggal di Makassar pada 23 Februari 1965 pada umur 64 tahun.

Baca artikel menarik lainnya: Mereka Yang Bisu di Makassar
  1. La Maddukelleng

La Maddukelleng adalah Arung Matowa (Raja) Wajo XXXIV. Ia lahir di Wajo, Sulawesi Selatan pada tahun 1700 dan wafat di Wajo, Sulawesi Selatan, pada tahun 1765. Sebelum menjadi Raja Wajo, La Maddukelleng sempat merantau ke Kalimantan. La Maddukkelleng dan pengikut-pengikutnya, mula-mula berlayar dan menetap di Tanah Malaka (Malaysia Barat), kemudian pindah dan menetap di kerajaan Pasir, Kaltim. Dalam perantauan ini juga La Maddukkelleng kawin dengan puteri Raja Pasir.

Setelah 10 tahun memerintah sebagai Sultan Pasir ia kembali ke Wajo dan menjadi Raja Wajo. Dalam pemerintahannya, tercatat berhasil menciptakan strategi pemerintahan yang cemerlang yang terus menerus melawan dominasi Belanda. La Maddukkelleng dijuluki “Petta Pamaradekangi Wajona To Wajoe” yang artinya tuan/ orang yang memerdekakan tanah Wajo dan rakyatnya. Ia diangkat jadi pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia pada 6 November 1996.

  1. Andi Mappanyukki

Andi Mappanyukki adalah bangsawan Bugis yang memimpin penyerangan melawan pasukan Belanda pada 1920an dan 30an. Pada tahun 1931 atas usulan dewan adat ia diangkat menjadi Raja Bone ke-XXXII dengan gelar Sultan Ibrahim, sehingga ia bernama lengkap Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim.

Putra dari Raja Gowa ke XXXIV yaitu I’Makkulau Daeng Serang Karaengta Lembang Parang Sultan Husain Tu Ilang ri Bundu’na (Somba Ilang) dan I Cella We’tenripadang Arung Alita, putri tertua dari La Parenrengi Paduka Sri Sultan Ahmad, Arumpone Bone ini mewarisi dua kerajaan besar yaitu Gowa dan Bone.

Karena menolak bersekutu dengan Belanda Ia pun diturunkan dari sebagai raja Bone oleh kekuatan dan kekuasaan Belanda. Ia kemudian diasingkan bersama Istri permaisurinya I’ Mane’ne Karaengta Ballasari dan putra-putrinya selama 3,5 tahun di Rantepao, Tana Toraja. Ayah dari Andi Abdullah Bau Massepe ini meninggal pada tanggal 18 April 1967 di Jongaya (sekarang sekitar Jl. Kumala, Makassar).

Makam Pahlawan Nasional Asal Sulsel ini tidak diletakkan di pemakaman raja-raja Gowa atau Bone lazimnya, tetapi oleh masyarakat dan pemerintah Republik Indonesia Makamnya diletakkan di Taman makam Pahlawan Panaikang Makassar. Andi Mappanyukki ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2004.

Opu Daeng Risaju, salah satu Pahlawan Nasional Asal Sulsel

Opu Daeng Risaju, salah satu Pahlawan Nasional Asal Sulsel | foto Iyakan(dot)com

  1. Opu Daeng Risaju

Opu Daeng Risaju adalah politisi wanita awal yang melakukan perlawanan terhadap Belanda saat Revolusi Nasional. Beliau terlahir dengan kecil Famajjah. Opu Daeng Risaju itu sendiri merupakan gelar kebangsawanan Kerajaan Luwu yang disematkan padanya karena ia merupakan anggota keluarga bangsawan Luwu.

Opu Daeng Risaju yang lahir tahun 1880 ini merupakan wanita yang aktif dalam Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII). Opu Daeng Risaju kemudian mendirikan cabang PSII Palopo yang diresmikan pada 14 Januari 1930. Opu Daeng Risaju mulai kembali aktif pada masa revolusi di Luwu. Revolusi ini diawali dengan kedatangan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) di Sulawesi Selatan yang berkeinginan untuk menjajah kembali Indonesia.

Peran Opu Daeng Risaju dalam perlawanan terhadap tentara NICA di Belopa sangatlah besar. Opu Daeng Risaju membangkitkan dan memobilisasi para pemuda untuk melakukan perlawanan terhadap tentara NICA. Tindakan ini membuat tentara NICA kewalahan dan mengupayakan berbagai cara untuk menangkap dan menghentikan aksi Opu Daeng Risaju.

Saatnya jalan-jalan ke Makassar, yuk Cari tiket pesawat murah, Cari hotel murah, dan Tur Keliling Indonesia sekarang!

Opu Daeng Risaju kemudian tertangkap oleh tentara NICA di Lantoro dan dibawa menuju Watampone dengan cara berjalan kaki sepanjang 40 km. Opu Daeng Risaju lalu ditahan di penjara Bone selama satu bulan tanpa diadili, kemudian dipindahkan ke penjara Sengkang, lalu dipindahkan lagi ke Bajo. Opu Daeng Risaju wafat di usianya yang ke 84, tepatnya pada 10 Februari 1964.

Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Opu Daeng Risaju sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006.

Nama-nama di atas adalah 6 (enam) dari 12 Pahlawan Nasional Asal Sulsel. Semoga kita bisa terus meneladani dan mengikuti jejak mereka. Tentu dengan cara berbeda sesuai dengan konteks kekinian.

(Visited 3,336 times, 9 visits today)


About

sharing is caring | bebas merdeka 100% | writer and traveller wannabe | peneliti paruh waktu | social media enthusiast |


'Pahlawan-Pahlawan Nasional Asal Sulsel' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool