penyusunan benang benang untuk di tenun

Mesin Menenun Harapan Indo Hasna dari Sulsel

Mesin Menenun Harapan Indo Hasna dari Sulsel
Vote Us

Bila anda sedang atau ingin melakukan wisata Sulsel, destinasi wisata Sengkang – Wajo sebaiknya menjadi salah satu pilihan tujuan anda selain wisata Makassar. Sengkang – Wajo sendiri berjarak sekitar kurang lebih 200 kilometer dari kota Makassar, kota tersebut memilki banyak destinasi favorit untuk dijadikan pilihan para pelancong yang datang ke sana. selain dapat melihat keindahan eksotis Danau Tempe, anda pun dapat melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan kain sutera Bugis yang sudah terkenal sejak abad ke-13 di Nusantara negeri ini.

Jejeran rumah panggung khas Bugis tak henti-henti selalu memanjakan retina mata, ritme hentakan-hentakan kayu tenunan yang berasal dari rumah-rumah warga sekitar seakan menjadi penyambut setiap tamu yang masuk dalam kampung yang berjarak 3 kilometer dari Kecamatan Tempe – Wajo tersebut, seperti itulah suasana saat memasuki wilayah Kampung Pakkanna – Sengkang.

Langkah saya terhenti pada sebuah rumah panggung yang irama hentakan-hentakan kayunya yang terdengar nyaring dan ramai, bunyi itu berasal dari hentakan kayu alat tenun yang bertempat di bawah rumah panggung berdinding bambu. Seorang perempuan kecil dan kurus keluar dari pintu dinding-dinding bambu tersebut, perempuan itu Indo Hasna, 46 tahun.

“maaf, boleh saya masuk dan melihat-lihat aktifitas di dalam bu ?” tanya saya pada Indo Hasna menggunakan bahasa Bugis, “silahkan masuk nak” balas Indo Hasna. Kami pun masuk dalam ruang sumber bunyi hentakan-hentakan kayu yang berirama tersebut untuk melihat-lihat bagaimana proses pembuatan sarung sutera bugis di Pakkanna.

Penenun Bugis Sengkang

Indo Hasna adalah salah satu dari sekian banyak punggawa (bos/pengumpul) penenun di Pakkanna, di bawah rumahnya saat ini ia memiliki 7 alat tenun yang tersebut dari kayu, 1 di antara alat tersebut terlihat sudah usang dan tidak berfungsi lagu. Sejak umur 15 tahun Indo Hasna sudah menjadi wanita penenun di kampung tersebut, ilmu menenun didapatnya dari Ibunya yang juga sebagai penenun. Beliau adalah generasi ke-3 penenun dari keluarganya, ilmu menenun yang dimiliki ibunya pun didapatkan dari Nenek beliau.

Aktifitas menenun di desa Pakkana dimulai setiap jam 10 – 11 pagi setiap harinya, hal tersebut disebabkan semua penenun di desa tersebut adalah perempuan dan mereka harus menyelesaikan kewajibannya sebagai istri yakni mempersiapkan makanan untuk keluarga dan bersih-bersih rumah sebelum memulai aktifitas menenun, ujar Indo Hasna.

Industri rumahan Sutera di Sengkang – Wajo sudah sangat dikenal di Nusantara sejak tahun 1785 berdasarkan sebuah catatan dari Thommas Forrest, dalam catatan tersebut Forrest menuliskan “penduduk sulawesi sangat terampil dalam hal menenun kain umumnya kain kapas bergaya kambai (kain kapas berkotak-kotak yang mula-mula diimpor dari kota cambay india), selain itu mereka juga memproduksi sarung sutera tempat menyelipkan badik bagi para bangsawannya.” Keterampilan orang Bugis dalam menenun juga disebutkan dalam tulisan Pelras pada tahun 1996 “keterampilan menenun orang bugis yang dijadikan sebagai pendapatan tambahan untuk keluarga sudah lama dikenal sejak dahulu”

Orang Bugis Sengkang pertama kali mengenal alat tenun pada abad ke-13, pada masa tersebut perempuan Bugis Sengkang menenun dengan menggunakan “Tennungwalida” atau yang biasa disebut dengan Gedogan, yang dimana proses kerja alat tenun tersebut dilakukan dengan posisi duduk dengan meluruskan ke dua kaki kedepan dan alat penenun ditepatkan tepat di atas kaki yang lurus. Sedang pada tahun 1950 orang Bugis Sengkang baru mengenal alat tenun otomatis dari kayu, orang biasa menyebutnya dengan alat tenun bukan mesin, nanti di tahun 2004 mereka baru mengenal alat tenun mesin.

Menyiapkan benang-benang untuk ditenun

Enam alat tenun yang saling bersahutan melalui hentakan-hentakannya di bawah rumah panggung Indo Hasna merupakan alat tenun generasi kedua atau alat tenun otomatis dari kayu, alat tenun tersebut dijalankan oleh pekerja beliau yang tidak lain adalah keluarga dekatnya sendiri.

Kaki penggerak pedal alat penenun

Tepat di sudut kiri bagian belakang, seorang perempuan berumur sekitar 50an tahun dengan telaten membuat pola-pola sarung yang ia tenun, Nur Cahaya nama beliau ketika memperkenalkan namanya pada saya. Ketika pola-pola telah ia susun, kaki perempuan berdaster hijau tersebut sesekali menginjak pedal kayu alat tenun otomatisnya untuk merapatkan benang-benang, hal tersebut pun ia ulang terus menerus hingga menjadi sebuah satu kesatuan kain sutera yang indah khas Bugis Sengkang.

Penenunan kain sutera bugis

BOOKING TIKET MURAH KE MAKASSAR

Nur Cahaya merupakan sepupu satu kali Indo Hasna dan sudah 10 tahun menjadi tenaga penenun beliau. Perjalanan bisnis tenun beliau sangat panjang, pada tahun 1983 Indo Hasna menyambung usaha rumahan orang tuanya dengan bermodalkan 1 alat tenun otomatis dari kayu peninggalan keluarganya, ujar Ibu Nur bercerita kisah Indo Hasna.

Alat penenun kayu otomatis yang sudah lapuk dan rusak itu adalah alat tenun pertama yang mempunyai nilai histori besar dalam hidup Indo Hasna. Dulu sudah ada yang pernah mau beli alat tersebut, tapi beliau tidak ingin menjualnya, ujar Ibu Nur bercerita.

Saat umur 17 tahun Indo Hasna sudah menikah dengan salah satu lelaki di kampung tersebut, 6 tahun setelah pernikahan, mereka bercerai dan Indo Hasna harus merawat dan membesarkan ke-3 anaknya sendiri. Berbekal keahlian menenun yang diwariskan dari orang tuanya, ia mulai mencari penghidupan dengan serius pada bisnis rumahan tersebut. Tahun 1993 Indo Hasna menjual satu dari dua kebun warisan orang tuanya untuk membeli 3 alat tenun baru beserta bahan-bahan untuk menenun kain lainnya.

Bagi perempuan Bugis yang telah ditinggal suami, saya sangat merasa bersyukur bisa mengenal dan menekuni tenun Bugis Sengkang. Entah bagaimana jadinya bila sejak kecil saya tidak membantu Ibu menenun untuk pendapatan tambahan dari hasil Bapak berkebun dulu, mungkin aktifitas saya pun akan berakhir di kebun untuk menyambung hidup. Ujar Indo Hasna.

Selain melihat bagaimana proses penenun kain sutera di bawah rumah panggung Indo Hasna, hari itu pun saya seakan menyaksikan sebuah proses hidup dari perempuan Bugis yang bertahan hidup melalui tradisi yang diwariskan turun temurun dari orang tuanya. Hari itu di bawah rumah panggung kayu khas Bugis, saya seakan lagi mendengarkan sebuah lagu syahdu yang melebihi lagu Mesin Penenun Hujan milik Frau, sebuah lagu yang diiringi musik dari hentakan-hentakan kayu tenunan dan lirik lagu proses hidup Indo Hasna yang berjudul – Mesin Menenun Harapan. [LB]

(Visited 1,132 times, 1 visits today)


About

Blogger yang juga senang jalan dan fotografi, sibuk jadi buruh online.


'Mesin Menenun Harapan Indo Hasna dari Sulsel' have 4 comments

  1. April 28, 2015 @ 5:26 am Dwi Pramono

    Artikelnya yang bagus, tapi ssaya tertarik kalimat “Nur Cahaya merupakan sepupu satu kali Indo Hasna…” Nampaknya istilah khas Makassar, ya? Ada berapa macam sepupu? *Keep posting, salam dari Semarang.

    Reply

    • April 28, 2015 @ 2:43 pm iPul Gassing

      hahaha..sepertinya itu memang istilah khas pak DP

      sepupu satu kali adalah sepupu yang orang tuanya bersaudara kandung/tiri dengan dengan orang tua kita
      sepupu dua kali adalah sepupu yang orang tuanya bersepupu dengan orang tua kita (nenek/kakeknya yang bersaudara langsung dengan nenek/kakek kita)
      sepupu tiga kali adalah sepupu yang nenek/kakeknya bersepupu dengan nenek/kakek kita (buyutnya yang bersaudara langsung dengan buyut kita)

      kira-kira begitu hihi

      Reply

    • April 28, 2015 @ 2:55 pm Made

      Dalam sistem kekerabatan pada masyarakat Bugis menggolongkan 2 sistem kerabat sepupu, yakni sepupu dekat dan sepupu jauh. Sepupu dekat tergolong dari sepupu satu kali hingga sepupu tiga kali, sedang sepupu tergolong jauh biasa disebut sepupu empat kali dan sepupu lima kali mas 🙂

      Reply

  2. May 4, 2015 @ 2:10 pm Kamaruddin Azis

    Sappiseng?

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool