Menyusuri Jejak Kejayaan Kerajaan Gowa

Menyusuri Jejak Kejayaan Kerajaan Gowa
5 (100%) 1 vote

Di tepian kabupaten Gowa yang berbatasan langsung dengan kota Makassar, berserakan susunan beberapa batu bata tebal yang sepintas seperti sebuah tembok. Batu bata ini adalah sebagian isi benteng Somba Opu yang jejaknya masih bisa dilihat sampai saat ini.

Benteng Somba Opu adalah sisa kejayaan kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan yang sempat berjaya di abad ke 16. Tidak ada catatan pasti kapan kerajaan ini berdiri. Beberapa cerita mengatakan kalau kerajaan ini didirikan oleh Tumanurung, manusia pilihan para dewa yang memang ditugaskan untuk turun ke bumi dan menata kehidupan di bumi. Peristiwa ini konon berlangsung di abad ke-14. Dalam silsilah kerajaan Gowapun nama Tumanurung ditempatkan paling atas sebagai nenek moyang para raja Gowa.

Kerajaan Gowa baru mulai terdengar dan masuk dalam catatan sejak diperintah oleh Raja Gowa IX Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna Daeng Matanro (1510- 1546). Suatu hari sang raja mendapatkan mimpi untuk memindahkan pusat kerajaan Gowa yang sebelumnya berada di dataran tinggi ke delta Sungai Jeneberang. Keputusan ini adalah keputusan yang brilian. Perlahan tapi pasti kerajaan Gowa mulai tumbuh sebagai salah satu kerajaan besar di Nusantara kala itu.

Di daerah tersebut sang Raja memerintahkan pembangunan benteng Somba Opu di awal abad ke-16. Benteng ini sekaligus menjadi pusat kerajaan Gowa. Di dalam benteng terdapat komplesk istana Raja Gowa beserta para pemuka kerajaan dan keluarga mereka masing-masing. Tahun 1545 benteng Somba Opu diperkuat strukturnya oleh Raja Gowa ke X Tunipallangga Ri Passukki.

Gambaran kerajaan Gowa tahun 1750

Gambaran kerajaan Gowa tahun 1750

Sejak kepindahan pusat pemerintahan itu kerajaan Gowa berkembang sangat pesat. Perlahan-lahan kerajaan Gowa menjadi pusat perdagangan yang maju dan sangat terkenal. Pelabuhan di Benteng Somba Opu mengundang perhatian banyak pedagang asing, bahkan tercatat ada negara-negara yang membangun perwakilan dagang mereka di Somba Opu seperti; China, Denmark, Portugis dan Arab.

Kemajuan kerajaan Gowa akibat dampak dari jatuhnya kerajaan Malaka perlahan menarik perhatian VOC. Dengan nafsu menguasai yang tinggi, VOC berusaha mengambil alih kerajaan Gowa baik lewat jalur diplomasi hingga peperangan yang berlangsung sangat lama.

Perang Makassar akhirnya terhenti 18 November 1667, kerajaan Gowa di bawah Raja Gowa ke XVI Sultan Hasanuddin menandatangai perjanjian Bongayya yang sekaligus menandai akhir masa keemasan kerajaan Gowa. Dari 11 benteng yang dimiliki oleh kerajaan Gowa, 9 di antaranya harus dimusnahkan dan hanya menyisakan 2 benteng saja. Benteng Jumpandang diambil alih oleh VOC dan diubah namanya menjadi Fort Rotterdam dan benteng Somba Opu tetap dimiliki oleh kerajaan Gowa.

Kekalahan kerajaan Gowa atas VOC perlahan-lahan memang menyurutkan kejayaan kerajaan ini. Benteng Somba Opu perlahan ditinggalkan, redup dan tak lagi seramai dulu. Hingga beratus-ratus tahun kemudian, jejak-jejak kejayaan kerajaan ini samar terlihat. Beberapa di antara jejak sisa kejayaannya adalah sebagai berikut:

Benteng Somba Opu

Sejak penandatanganan perjanjian Bongayya, kerajaan Gowa memang terus mengalami kemunduran. Benteng Somba Opu yang dulu gemerlap sebagai pusat pemerintahan dan kejayaan kerajaan Gowa makin meredup. Sultan Hasanuddin bahkan memerintahkan untuk memindahkan pusat kerajaannya kembali ke Bukit Tamalate. Benteng Somba Opu perlahan tenggelam dalam sunyi dan terlupakan. Hilang ditelan jaman.

Ratusan tahun kemudian sisa-sisa benteng itu ditemukan kembali. Di sekitar periode 1980an para arkeolog berhasil menemukan sisa-sisa benteng Somba Opu dan perlahan atas inisiatif pemerintah daerah Sulawesi Selatan kawasan benteng ini direstorari.

Sisa-sisa benteng Somba Opu

Sisa-sisa benteng Somba Opu

Di tahun 1990an kawasan benteng Somba Opu bahkan sempat dijadikan sebagai miniatur Sulawesi Selatan. Di dalamnya ada rumah-rumah adat yang mewakili suku dan etnis yang ada di Sulawesi Selatan. Acara-acara budaya skala lokal dan nasionalpun rajin digelar di kawasan benteng tersebut. Semua terjadi di bawah masa pemerintahan gubernur Alm. Ahmad Amiruddin.

Benteng Somba Opu terasa mulai menemukan kembali kejayaannya.

Sayang, kejayaan itu hanya berlangsung sebentar. Tak lama setelahnya benteng Somba Opu kembali ditelan kesunyian. Memasuki akhir periode 1990an benteng Somba Opu kembali ditinggalkan, benteng yang berada di kawasan Jl. Daeng Tata di pesisir Barat pantai kota Makassar ini tak lagi menarik karena lokasinya yang cenderung lumayan jauh dari pusat kota.

Rumah-rumah adat yang dulu sangat ramai dikunjungi perlahan sepi dan mulai tak terawat. Jalanan paving block yang dulu licin dan mengilap perlahan mulai rusak dan berantakan. Di tahun 2010 benteng Somba Opu sempat jadi pembicaraan lagi, tapi bukan karena kejayaan dan pesonanya tapi karena adanya usaha seorang investor membangun wahana permainan air dalam kawasan bersejarah tersebut.

Saat ini sisa-sisa benteng Somba Opu beserta beberapa rumah adat masih berdiri tegak dan bisa dilihat langsung, tapi tentu saja bayangan kejayaan kerajaan Gowa di abad 16 sudah sangat sulit untuk ditemui.

Balla Lompoa di Jantung Sungguminasa.

Sekitar 6 km sebelah Timur benteng Somba Opu ada satu lagi bangunan yang jadi saksi sejarah masa akhir kerajaan Gowa. Namanya Balla Lompoa, terletak di pusat kota Sungguminasa, ibu kota kabupaten Gowa.

Balla Lompoa dalam bahasa Makassar berarti rumah besar, merujuk kepada sebuah rumah panggung besar yang sempat menjadi istana kerajaan Gowa di akhir masa kejayaan kerajaan tersebut. Balla Lompoa dibangun oleh Raja Gowa ke-35 I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri Sungguminasa pada tahun 1936. Istana ini sekaligus menggantikan istana Tamalate yang sebelumnya digunakan turun temurun sejak Sultan Hasanuddin berpindah dari Benteng Somba Opu.

Kawasan Balla Lompoa hari ini

Kawasan Balla Lompoa hari ini

Istana Balla Lompoa seperti umumnya rumah adat suku Bugis-Makassar yang berbentuk rumah panggung dari kayu. Bangunan ini sekarang dijadikan sebagai museum yang menyimpan beragam benda-benda kerajaan seperti badik, payung kebesaran sampai kitab-kitab tua dalam aksara lontara. Bangunan Balla Lompoa dengan halaman yang luas dulu sering dijadikan sebagai alun-alun kota Sungguminasa, di depannya warga memanfaatkan lapangan luas itu sebagai tempat berolahraga.

Tahun 2007 pemerintah kabupaten Gowa membangun satu istana besar tepat di samping Balla Lompoa. Bentuknya hampir sama dengan besaran yang jauh lebih besar. Bangunan baru ini diberi nama Istana Tamalate dan dijadikan sebagai auditorium atau ruang serbaguna.

Benteng Somba Opu dan istana Balla Lompoa memang hanya sedikit yang tersisa dari kejayaan kerajaan Gowa. Sangat disayangkan bahwa kerajaan yang dulu pernah sangat terkenal di Nusantara dan bahkan di dunia ini hanya menyisakan sedikit sisa-sisa kejayaannya. Sebelum semua benar-benar hilang, ada baiknya meluangkan waktu untuk melihat sisa-sisa kejayaan tersebut. [dG]

(Visited 772 times, 1 visits today)


About

Blogger ~ Suka jalan-jalan gratisan ~ Sedang belajar motret ~ Mengasuh http://daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri


'Menyusuri Jejak Kejayaan Kerajaan Gowa' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool