Warkop di Makassar

Menyesap Secangkir Kopi Warkop Tong San Makassar

Menyesap Secangkir Kopi Warkop Tong San Makassar
5 (100%) 3 votes

Ratusan tahun yang lalu, orang-orang dari Hainan (Tiongkok) mulai bermigrasi ke berbagai belahan dunia. Mereka selain terkenal sebagai orang-orang yang tangguh, juga terkenal sebagai penyeduh kopi yang selalu bisa menghadirkan seduhan kopi yang nikmat. Salah satu teknik seduhan yang terkenal adalah seduhan menggunakan kain tipis yang dimasukkan ke dalam ceret. Orang-orang kadang menyebutnya sebagai teknik seduhan “kaos kaki”, mungkin karena kain tipis yang dipakai kadang mirip dengan kaos kaki.

Nusantara juga tidak luput dari kedatangan orang-orang Hainan ini. Salah satunya adalah Makassar. Kota di selatan jazirah Sulawesi ini mulai kedatangan orang-orang Hainan sejak abad 14 dan makin banyak sekira abad 15. Jejak-jejak mereka sangat jelas, terutama bagi para pecinta kopi.

Bagi pecinta kopi, menyebut kata warkop dan Makassar, mungkin akan langsung teringat pada warung kopi (warkop) Phoenam. Warung kopi Phoenam ini, Phoe Nam berarti terminal atau tempat persinggahan selatan, sudah ada sejak tahun 1946 di Makasar.  Namun, ada satu warung kopi yang lebih tua dari warkop ini, yaitu warkop Tong San.

Warkop Tong San ini termasuk salah satu warkop tertua di Makassar, telah ada sejak tahun 1943. Selain Phoenam dan Tong San, ada satu lagi warkop yang termasuk warkop tertua yaitu warkop Hai Hong yang terletak perempatan Jalan Bonerate-Jalan Serui, Makassar, yang berdiri sejak tahun 1945.

Dulunya, warkop Tong San dibuka pertama kali oleh Liem Sie bersama suaminya. Namun, suami Liem Sie meninggal terkena bom yang berasal dari kapal Jepang. Jadilah, Liem Sie menjalankan warkop ini turun temurun hingga sekarang oleh generasi ketiga atau cucunya, Tuty Holis. Awalnya warkop Tong San berada di sekitar daerah Pecinan, tepatnya di Jalan Banda. Karena kejadian yang merenggut nyawa suaminya itu, Liem Sie kemudian membawa anak-anaknya pindah ke sekitar Pantai Losari dan bertahan hingga sekarang.

Racikan kopi Liem Sie inilah yang dipakai hingga sekarang. Liem Sie dan suaminya adalah orang Hainan, dan seperti kebanyakan orang Hainan, mereka juga diberkahi kemampuan meracik dan menyeduh kopi. Kemampuan itulah yang kemudian mereka jadikan mata pencaharian dengan membuka warung kopi.

Warkop di Makassar

Tuty Holis, Generasi Ketiga Warkop Tong San Makassar sedang menyeduh kopi pesanan pengunjung.

Nama Tong San berarti Matahari Terbit dalam bahasa Tionghoa. Nama itu diberikan karena awalnya warkop ini buka sejak pukul 04:00 dini hari sampai sore hari. Pelanggan utama mereka saat itu adalah nelayan dan penjual ikan. Dahulu, jalan di mana warkop ini berada masih bernama Jl. Boulevard dan di depan warkop ini ada tempat pelelangan ikan. Maklum saja, pada tahun-tahun tersebut Pantai Losari, (sekarang Jl. Penghibur dan Pasar Ikan), adalah tempat bersandarnya para nelayan dan pencari ikan. Adanya pelelangan ikan itulah yang membuat nama jalan ini berubah menjadi Jalan Pasar Ikan.

Sangat mudah menemukan warkop ini. Letaknya di pertigaan Jalan Pasar Ikan dan Jalan Haji Bora. Untuk lebih mudahnya lagi, ada Makassar Golden Hotel (MGH) yang menjadi patokan untuk mencari posisi pasti letak warkop Tong San. Setahun lalu ada plang nama sebagai penanda warkop ini dari sebuah produsen rokok, sayangnya plang itu kini sudah tak ada.

Konstruksi bangunan warkop ini masih mempertahankan model lama dengan dua lantai yang bercat merah-putih tulang. Pada teras lantai dua kita bisa melihat jendela-jendela tinggi dengan susunan bilah kayu khas jendela tempo dulu.

Pada bagian dalam warkop, bagian tengah terdapat 3 (tiga) set meja dengan kursi yang mengelilinginya. Ada satu set meja dengan dua kursi di depan kasir dan ada satu set meja dengan dua kursi sebelah kiri. Agak ke dalam, bagian kiri warkop ada satu set meja dengan 4 (empat kursi) dekat jendela.  Meja dekat jendela ini adalah tempat favorit saya jika berkunjung ke sini.

Warkop di Makassar

Sarapan ala Warkop Tong San. Pilih mana; kopi dan buroncong atau kopi dan nasi kuning?

Warkop di Makassar ini memiliki dua pintu yang lebarnya kurang lebih sama; satu pintu yang menghadap Jl. Pasar Ikan dan satu pintu yang menghadap Jl. Haji Bora. Aroma kopi menguapkan wangi ketika kita ruang utama warkop. Memasuki warkop melalui salah satu pintu ini kita akan langsung melihat pantry warkop ini karena terletak di pojok depan. Sudut pantry terlihat bersih dan rapi. Di pantry inilah kopi hitam, kopi susu dan telur setengah matang diolah.

Menu warkop ini memang sangat sederhana; hanya kopi hitam, kopi susu dan telur setengah matang. Namun, bentuk asli bangunan dan interior termasuk cangkir, meja dan kursinya yang masih asli membawa suasana seakan kita meneguk kopi di masa lalu. Sebagai kudapan peneman kopi, tersedia kue tradisional seperti apam paranggi, roko’ cangkuning, pawa’ dan lain-lain.

Di bagian depan warkop, ada gerobak penjual buroncong (kue pancong). Pengunjung warkop bisa menikmati kopi sambil makan buroncong hangat. Di pagi hari, di samping warkop, di sisi Jl Haji Bora, ada gerobak penjual nasi campur, nasi kuning dan songkolo. Pengunjung pun bebas membeli dan menikmatinya di dalam warkop meski bukan jualan warkop ini.

Warkop di Makassar

Bagian dalam warkop Tong San

Waktu terbaik untuk ke warkop ini adalah di hari Minggu pagi. Warkop Tong San ini biasanya penuh oleh orang-orang yang datang untuk sarapan dengan kopi dan kue tradisional atau dengan nasi kuning selepas berolahraga di car free day yang berlangsung setiap hari Minggu di sepanjang Jl. Penghibur dan Jl. Pasar Ikan.

Di tengah serbuan coffee shop moderen, warkop Tong San masih berdiri tegak dan diteruskan dari generasi ke generasi. Racikan kopi yang berbalut romantika masa lalu masih menjadi alasan kenapa warkop ini masih terus didatangi orang-orang. Duduk menyeruput kopi, menikmati cemilan, membaca koran dan bertukar sapa dengan sesama pelanggan adalah rutinitas yang bisa kita lihat di warkop Tong san. Kalau Anda pecinta kopi dan kebetulan sedang ada di Makassar, mampirlah ke salah satu warkop di Makassar tertua ini.

Mau liburan ke Makassar dan sekitarnya? Cari di sini: tiket pesawat dan hotel
(Visited 546 times, 1 visits today)


About

sharing is caring | bebas merdeka 100% | writer and traveller wannabe | peneliti paruh waktu | social media enthusiast |


'Menyesap Secangkir Kopi Warkop Tong San Makassar' have 1 comment

  1. January 8, 2017 @ 8:20 am Arka

    Thx ’bout your review. I’m her now! 🙂

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool