Mengunjungi Monumen 40.000 Jiwa di Makassar

Mengunjungi Monumen 40.000 Jiwa di Makassar
5 (100%) 1 vote

Bertahun-tahun tinggal di Makassar tak serta merta membuat saya mengetahui seluk beluk kota ini, termasuk tempat-tempat bersejarah atau pun monumen-monumennya. Hingga suatu hari, salah seorang sahabat bercerita tentang keberadaan monumen 40.000 jiwa. Monumen yang mengingatkan sejarah kelam pembunuhan massal penduduk pribumi Makassar oleh penjajah belanda.

Sejarah mencatat  Indonesia dijajah selama kurang lebih 350 tahun oleh bangsa Belanda. Penjajahan yang panjang dan bergenerasi yang menelan banyak nyawa pejuang Indonesia. Siapa saja yang berani melawan tentara Belanda ataupun menyuarakan kemerdekaan, akan dipenjara bahkan dibunuh saat itu. Seperti yang dilakukan oleh Raymon Pierre Westerling dan tentaranya, atau lebih dikenal dengan tentara Westerling.

insert foto pembantaian

Proses pembantaian yang dilakukan oleh tentara Westerling (sumber : google)

Westerling dan tentaranya melakukan pembantaian di daerah sulawesi selatan, termasuk Makassar, gowa, pare-pare sampai Enrekang. Dari hasil investigasi, korban  mencapai 40.000 jiwa, meskipun pihak belanda  dalam hal ini westerling mengaku ‘hanya’ membunuh 600 jiwa (wik.)

Untuk mengenang kejadian tersebut, pada tahun 1994 dibangunlah monumen 40.000 jiwa atas inisiatif HM Endong Patompo yang saat itu menjabat sebagai walikota Makassar.

insert jalan

Penunjuk arah lokasi monumen 40.000 jiwa

insert1

Gerbang masuk monumen 40.000 jiwa

insert 3

Patung dan relief yang menggambarkan pembantaian rakyat Sulawesi Selatan

Untuk sampai ke monumen 40.000 jiwa, bisa melalui angkot atau pete’ pete’ berwarna biru dengan kode B. Lokasi monumen yang sedikit jauh dari jalan besar membuat pengunjung yang mengendarai kendaraan umum harus melanjutkan perjalanan sekitar 10 menit untuk mencapai monumen.

insert 2Monumen 40.000 jiwa berada diatas tanah seluas lapangan sepak bola. Terdapat sebuah patung laki-laki dengan satu lengan dan satu kaki serta memakai tongkat. Disampingnya, berdiri sebuah pendopo seluas kurang lebih 36 meter  kubik. Disamping kanan patung laki-laki dengan tongkat tadi terdapat juga relief yang menggambarkan situasi saat pembantaian terjadi.

Menurut informasi, daerah tempat monumen 40.000 jiwa sekarang dulunya adalah daerah sawah dan rawa yang menjadi tempat menguburkan mayat-mayat dari hasil pembantaian tentara westerling. Mayat-mayat tersebut dikumpulka dalam satu lobang kemudian ditimbun.

Kejadian penyerangan tentara westerling dulu sekali pernah diceritakan oleh almarhumah Nenek yang hobi bercerita. Dengan bahasa Enrekang yang fasih, nenek menceritakan kalau usianya saat itu masih sangat muda. Nenek dan penduduk kampung harus larang (mengungsi) untuk menghindari tentara westerling. Sebuah pengalaman yang menyisakan trauma dan luka sejarah bagi bangasa Indonesia khususnya rakyat Sulawesi selatan.

Pembantaian oleh westerling dan tentaranya dikategorikan sebagai kejahatan sejarah. Pihak belanda sendiri sudah meminta maaf secara resmi dan berjanji memberikan kompensasi kepada janda yang suaminya menjadi  korban pembantaian.

Keberadaan monumen 40.000 jiwa mengingatkan kita betapa banyak nyawa yang hilang sebelum kita menikmati kemerdekaan seperti sekarang ini. Betapa beruntung kita terlahir dimasa tak ada lagi darah yang tumpah untuk mengibarkan sehelai kain berwarna merah putih. Betapa kita harus bersyukur tugas kita tak seberat mereka. Serta tidak lupa meski hanya sesekali mendoakan mereka tenang disisiNya.

(Visited 366 times, 1 visits today)


About

andiarifayani.blogspot.com | Sobat LemINA | Penyala Makassar


'Mengunjungi Monumen 40.000 Jiwa di Makassar' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool