Mengenal Pete-Pete, Penguasa Jalanan Makassar

Mengenal Pete-Pete, Penguasa Jalanan Makassar
5 (100%) 1 vote

Berbicara tentang suatu kota, maka kita akan berhadapan dengan sistem transportasi. Karena sistem berhubungan dengan banyak hal, baik ekonomi, pariwisata, pendidikan dan lainnya. Salah satu sistem transportasi yang ada hampir di setiap daerah di Indonesia adalah angkutan kota yang biasa disingkat Angkot.

Seperti kata pepatah “lain ladang, lain ilalang, lain pula belalangnya” angkot di setiap daerah memiliki nama dan keunikan sendiri-sendiri. Di beberapa daerah tetap menyebutnya angkot (bahkan walaupun beroperasi di pedesaan), tapi ada juga yang menyebutnya mikrolet, oplet sampai taksi. Namun di Makassar dan Sulawesi Selatan umumnya, angkutan kota lebih dikenal dengan sebutan pete-pete. Bahkan ada ungkapan bahwa di Makassar tidak ada angkot, yang ada hanya pete-pete.

pete2-1

Pete-pete kode B dengan strip warna putih yang melintas di dekat Dermaga Kayu Bangkoa

Ada beberapa versi mengapa angkot di Makassar disebut pete-pete. Ada yang mengatakan pete-pete itu merupakan singkatan dari istilah bahasa Inggris, public transportation atau transportasi umum yang disingkat PT. Namun versi yang lebih populer adalah, pete-pete merupakan istilah untuk uang receh pecahan Rp. 5 dan Rp. 10 yang dulu digunakan untuk membayar jasa angkot ini. Walaupun pecahan dengan nominal demikian sudah lama hilang, istilah pete-pete sudah melekat di masyarakat. Istilah pete-pete ini bahkan digunakan juga untuk angkot di Kendari (Sulawesi Tenggara), mungkin dibawa para perantau dari Sulawesi Selatan 😀

Pete-pete boleh dibilang sebagai transportasi publik yang paling utama bagi penduduk Makassar. Selain karena mudah ditemui dan meng-cover hampir seluruh wilayah Kota Makassar, juga karena belum ada moda transportasi lain yang murah, nyaman, cepat, terintegrasi, memadai dan tersedia setiap saat. BRT yang sudah diresmikan beberapa waktu lalu bahkan jarang kelihatan armadanya. Kalaupun ada, hanya melayani rute tertentu saja. Tak adanya moda transportasi lain membuat pete-pete seakan jadi raja jalanan di Makassar.

Jumlah pete-pete di Makassar yang mencapai lebih 5.000 unit tak jarang dicap sebagai penyebab macet. Hal ini diperparah dengan supir-supir yang tidak taat aturan. Kebanyakan pete-pete memang dimiliki atas nama pribadi dan menerapkan sistem setoran yang menyebabkan para supir tidak taat aturan lalu lintas. Menerobos lampu merah, ngebut dan ugal-ugalan, serta yang paling sering adalah berhenti sembarangan mengambil/menurunkan penumpang. Sehingga ada anekdot yang mengatakan “hanya Tuhan dan supir yang tahu kapan pete-pete berhenti” ini karena pete-pete terkadang berhenti tiba-tiba tanpa menyalakan lampu sein ketika ada penumpang yang akan naik/turun.

pete2

Sekitar Lapangan Karebosi biasanya jadi salah satu titik macet karena banyak pete-pete berhenti

Angkot atau pete-pete yang beroperasi di Makassar memiliki warna yang seragam, yaitu biru langit. Untuk membedakan trayek/jalurnya menggunakan ‘kode huruf dan rute’ yang pasang di kaca depan bagian atas serta ‘warna strip yang berbeda’ di sisi badan mobil. Kecuali trayek yang berasal dari Sungguminasa (kota di Selatan Makassar) menggunakan pete-pete dengan warna merah. Hampir semua trayek terhubung sampai ke pasar sentral (Makassar Mall), kecuali pete-pete jurusan kampus. Rute yang tertera di kaca depan mobil tidak bersifat mutlak, karena kadang keluar jalur sesuai dengan permintaan penumpang. Jadi sebelum naik pete-pete bisa bertanya atau negosiasi dulu, terutama jika berdekatan dengan rute yang dilaluinya.

pete2-merahdankampus

Pete-pete kode F1 dan angka 02, jurusan kampus Unhas – Veteran serta Pete-pete merah jurusan Sungguminasa

Umumnya mobil pete-pete di Makassar menggunakan Suzuki Carry, Futura atau Mitsubishi T120. Belum ada yang menggunakan Suzuki APV, Daihatsu GrandMax/Luxio, apalagi Toyota Kijang seperti angkot di daerah lainnya di Indonesia. Seperti angkot kebanyakan, tempat duduknya saling berhadapan (di Balikpapan, kursi angkot menghadap ke depan). Normalnya bisa mengangkut hingga 12 penumpang (di luar Supir) dengan formasi, 1 di depan, 1 dekat pintu, 6 di kiri dan 4 di kanan. Namun terkadang kursi di samping supir juga diisi 2 penumpang. Tempat duduk favorit biasanya yang cepat akses naik/turunnya dan bisa melihat pemandangan sepanjang perjalanan, yaitu kursi depan samping supir dan kursi sebelah kanan dekat pintu masuk pete-pete. Tempat duduk favorit lainnya adalah tepat di belakang supir. Namun ada juga penumpang yang lebih suka duduk di kursi paling belakang karena bisa melihat pemandangan dari kaca jendela belakang pete-pete.

Cara turun dari pete-pete cukup bilang “kiri” atau “kiri depan”, maka sang supir akan meminggirkan kendaraannya (tidak peduli apakah ada rambu larangan berhenti atau di dekat persimpangan :D). Tarif pete-pete di Makassar terhitung mahal, Rp.4000-Rp.5.000. Dan itu berlaku untuk rute jauh maupun dekat. Tarif mahal ini salah satu pemicunya karena kenaikan BBM. Jika BBM naik, mereka menaikkan tarif sepihak sebelum ada tarif resmi dari organda. Dan tarif tersebut tetap bertahan walaupun harga BBM sudah diturunkan.

Namun bagi sebagian warga Makassar, ketiadaan pete-pete bisa menyengsarakan. Beberapa kali sopir pete-pete mogok beroperasi karena protes dengan kebijakan kenaikan harga BBM tersebut. Atau supir pete-pete kampus yang protes dengan kebijakan kampus. Imbasnya warga dan mahasiswa yang mengandalkan jasa pete-petepun kesulitan beraktivitas. Jika tidak dapat taksi atau tumpangan dari teman, mau tidak mau harus jalan kaki. Pemandangan ini beberapa kali terjadi, kiri kanan jalan ramai dengan pejalan kaki, efek dari mogoknya para supir pete-pete.

pete2-mogok

Pete2 Mogok

Supir pete-pete mogok beroperasi dan memarkir kendaraannya di pinggir jalan (Sumber: Antara)

Dengan segala kekurangannya, naik pete-pete di Makassar tetap memiliki sensasi yang berbeda. Tak jarang ditemui pete-pete dengan interior dan sound system yang tidak umum. Ada yang menghiasi bagian belakang dengan deretan botol-botol bekas miras, bahkan beberapa melengkapinya dengan LCD TV untuk memanjakan penumpang. Sangat jarang ditemui pete-pete yang tidak melengkapi dirinya dengan musik dengan lagu-lagu yang sedang hits. Biasanya supir memutar musik dari flash disk atau bahkan langsung dari HP yang dihubungkan dengan audio system. Dan yang lucu, jika ada telpon masuk semua penumpang akan mendengarkan bunyi ringtonenya sehingga supir buru-buru mencabut kabel dari audio system.

pete2-tv

Pete-pete dengan LCD TV (Sumber: SkyscraperCity)

Itulah penguasa jalanan Makassar yang terkenal dengan slogannya “Naik Gratis Turun Bayar”. Yang jika dipikir-pikir sudah memiliki banyak jasa. Mengantar pedagang menuju tempat jualannya, anak sekolah ke sekolahnya atau mengantarkan mahasiswa ke kampus sehingga bisa mendapat gelar sarjana hingga professor.

Jadi jika ingin berkeliling Makassar dan menikmatinya dengan cara yang berbeda, coba melihatnya dari jendela pete-pete. Jika beruntung siapa tahu dapat pete-pete yang dilengkapi LCD TV dan lagu-lagu yang lagi hits jadi jadi favoritmu 😀

Kredit foto : mediamakassar.com

(Visited 1,602 times, 1 visits today)


About

anbhar.net | AngingMammiri.Org | AC Milan | PSM | Sobatpadi | Suka Dunia Militer & Penerbangan | Berenang & Snorkeling | Ngemil | Jalan2 | | AB+


'Mengenal Pete-Pete, Penguasa Jalanan Makassar' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool