Mengenal “Daeng” Dalam Tradisi Bugis-Makassar

Mengenal “Daeng” Dalam Tradisi Bugis-Makassar
5 (100%) 3 votes

“Daeng itu panggilan buat orang bangsawan ya?”

Pertanyaan itu sudah sering saya dengar, tentunya dari teman-teman yang tidak berasal dari Makassar atau Sulawesi Selatan. Masih banyak yang tidak mengerti tentang apa itu daeng, meski mereka tentu saja tahu kalau daeng itu adalah panggilan khas untuk orang Makassar.

Beberapa tahun lalu sebuah keributan kecil juga terjadi karena sebutan “daeng” ini. Waktu itu suhu politik sedang memanas menjelang pertarungan menuju RI-1 di tahun 2009. Ruhut Sitompul yang jadi salah satu pendukung Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah rapat resmi di DPR-RI memanggil Jusuf Kalla dengan sebutan “daeng”.

Kejadian ini memantik api kecil di kota Makassar. Ratusan orang turun ke jalan memprotes perlakuan Ruhut Sitompul yang dianggap melecehkan Jusuf Kalla yang adalah salah seorang yang sangat dihormati di Sulawesi Selatan. Sialnya, protes itu ada yang tidak sesuai dengan konteks. Beberapa pelaku demonstrasi menganggap Ruhut tidak sopan karena menyematkan “daeng” untuk Jusuf Kalla yang mereka anggap merendahkan posisi Jusuf Kalla karena menyamakannya dengan tukang becak. Di kota Makassar kami memang biasa menyapa tukang becak dengan sapaan daeng, kadang malah jadi daeng becak.

Duh! Saya geleng-geleng kepala, protes mereka benar-benar salah konteks. Rupanya orang Sulawesi Selatanpun masih ada yang tidak mengerti betul tentang kata “daeng” ini.

Nah, sebagai bahan pencerahan bagi semua orang Indonesia saya akan coba menjelaskan sedikit tentang kata “daeng” yang sebenarnya punya dua makna ini.

Daeng Lawa

Nama sang pedagang adalah: Daeng Lawa

1. Daeng Sebagai Panggilan Hormat.

Untuk arti yang pertama, “daeng” digunakan oleh suku Bugis dan Makassar. Memanggil seseorang dengan “daeng” di depan namanya adalah sebuah penghormatan, sama dengan penggunaan kata “mas” atau “kang” bagi orang Jawa dan Sunda. Dalam budaya Bugis dan Makassar tidak ada pembedaan panggilan bagi pria dan wanita, jadi wanitapun bisa saja dipanggil “daeng” meski kurang jamak terdengar.

“Daeng” tidak ada hubungannya dengan keningratan atau darah bangsawan. Semua berhak menggunakannya karena memang ini istilah umum yang digunakan sebagai bentuk menghormati mereka yang lebih tua.

Untuk kasus protes seperti yang saya cerita di atas, kesalahan konteks protes adalah ketika mereka menganggap derajat Jusuf Kalla direndahkan dengan panggilan “daeng” karena disejajarkan dengan tukang becak. Padahal, orang Bugis-Makassar menyapa tukang becak (atau pekerja informal lainnya) dengan kata “daeng”sebagai sebuah penghargaan kepada manusia, tidak peduli apapun profesi mereka. Karenanya saya sungguh geli melihat protes yang tak sesuai konteks itu.

Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin punya nama paddaengang; Daeng Mattawang

2. Daeng Dalam Suku Makassar.

Selain “daeng” yang digunakan jamak oleh orang Bugis-Makassar, ada juga “daeng” yang khusus dipakai oleh suku Makassar. “Daeng” yang ini adalah bagian dari paddaengang, atau nama halus yang digunakan oleh suku Makassar.

Dalam tradisi suku Makassar, paddaengang yang disematkan setelah nama asli adalah sebuah kebiasaan. Setiap orang dari suku Makassar akan mendapatkan nama “daeng” selain nama aslinya, nama “daeng” ini diambil dari nama leluhur yang biasanya berupa doa atau sesuai ciri fisik si pengguna nama “daeng”.

Contohnya seperti saya. Nama asli saya; Syaifullah dan kemudian karena mengikuti tradisi suku Makassar (suku asal saya) saya menambahkannya dengan nama paddaengang Daeng Gassing. Dalam bahasa Makassar, gassing berarti kuat. Nama itu saya ambil dari nama kakek buyut yang konon terkenal kuat dalam memegang prinsipnya meski harus menjemput ajal karena keteguhan prinsipnya itu. Harapan saya tentu saja agar saya bisa mewarisi sifat-sifat positif beliau.

Nama asli saya disebut sebagai areng kasara’ atau nama kasar, sedang nama Daeng Gassing disebut areng alusu’ atau nama halus. Keluarga yang usianya lebih muda dari saya harus memanggil saya dengan Daeng Gassing kalau tak mau dianggap tidak sopan. Bagi yang seumuran atau lebih tua cukup memanggil saya dengan Gassing atau memanggil nama asli saya.

Begitulah, “daeng” atau paddaengang memang lekat dengan tradisi Bugis-Makassar, khususnya suku Makassar. Seingat saya tradisi ini sempat memudar bertahun-tahun lalu karena generasi muda merasa kalau tradisi ini sudah cukup kuno dan kurang gaul. Beruntung karena derasnya arus media sosial dan internet bisa menumbuhkan kembali kebanggaan akan tradisi ini. Sekarang anak-anak muda kota Makassar tidak segan lagi menyapa mereka yang lebih tua dengan sebutan “daeng”, pun saya bisa bangga menggunakan nama paddaengang saya menjadi nama blog.

(Visited 15,517 times, 1 visits today)


About

Blogger ~ Suka jalan-jalan gratisan ~ Sedang belajar motret ~ Mengasuh http://daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri


'Mengenal “Daeng” Dalam Tradisi Bugis-Makassar' have 22 comments

  1. July 14, 2015 @ 6:32 am ZILQIAH ANGRAINI

    Hihihi saya sapat nama paddaengang ku setelah berumur 17 tahun.. Daeng tajammeng yang katanya artinya kekal.. Tp sy bingungmi.. kenapa saya kekal? Kekal abadi kah? Hhaha
    Tp anak2 saya dari lahir sudah saya kasih paddaengang. Daeng Mannaba dan Daeng Maraja 😀

    Reply

    • July 14, 2015 @ 1:31 pm iPul Gassing

      mungkin maksudnya kecantikannya yang kekal hahaha

      Reply

      • March 9, 2017 @ 7:26 am Rustam daeng mangung

        Bagus sekali daeng gassing boleh saya share agar generasi muda nakassar mengetahui ini?

        Reply

  2. July 14, 2015 @ 9:47 am idil

    Klo menurutku daeng itu adalah panggilan utk org yg lbh tua dr pada kita…

    Reply

  3. July 14, 2015 @ 1:33 pm iPul Gassing

    dari literatur yang saya baca, to maradekaya juga sudah menggunakan paddaengang sejak dulu sedang kaum ata memang tidak punya paddaengang.
    yang membedakan paddaengang sombayya atau kaum karaeng dengan to maradekaya hanya di jenis paddaengangnya saja

    Reply

    • December 4, 2016 @ 11:59 am dhea

      kalau daeng besse apa artinya ya?

      Reply

  4. July 14, 2015 @ 1:33 pm A. Firdaus Mananring

    Tidak semua suku makassar itu punya gelar “Daeng”
    Semuan yang bergelar “Daeng” Adalah bangsawan Makassar
    Tidak semua Daeng bergelar “Karaeng”
    Tetapi Semua yang bergelar “Karaeng” (Raja) Itu adalah “Daeng”

    Reply

    • July 15, 2015 @ 6:02 am syahrul

      sepakatka jg sy sm kanda firdaus,,, klo daeng i2 hanya dr keturunan bangsawan. jd daeng i2 bukan istila ero2… tdk boleh pake daeng klo ata,,, mmg sdh dr dulu seperti i2,,, fenomena skarg di makassar i2 yg bergeser,,,, punna kalumannyangmaki kullemi nia areng daengta,,,,padahal sebenarnya tdk bisa,,,, sy rasa, perlu d kroscek kembali pemaknaan kata daeng diatas,,, harus jg jelas sumbernya,,, krn akan banyak yang tersinggung dengan artikel ini.

      “Dalam tradisi suku Makassar, paddaengang yang disematkan setelah nama asli adalah sebuah kebiasaan. Setiap orang dari suku Makassar akan mendapatkan nama “daeng” selain nama aslinya, nama “daeng” ini diambil dari nama leluhur yang biasanya berupa doa atau sesuai ciri fisik si pengguna nama “daeng”.”

      Reply

      • July 15, 2015 @ 1:31 pm iPul Gassing

        saya akan perbaiki kalimat di postingan di atas karena memang dulu orang dari kalangan ata tidak punya panggilan daeng, terima kasih untuk masukannya.

        tapi sampai sekarang saya belum menemukan literatur yang mengatakan kalau paddaengang hanya untuk strata bangsawan saja. ada literatur yang bisa saya baca?

        Reply

  5. July 14, 2015 @ 7:14 pm Irma_mahyudin

    Sebgai wujud rasa hormat, saya memanggil suamiku dengan “daeng ku”

    Reply

  6. December 6, 2015 @ 2:11 am ikbal daeng lalang

    Saya sangat setuju atas pernyataan dgn saudara kita firdaus dan syahrul. Betul di tempat saya ada salah satu perkampungan yang tidak boleh disematkan paddaengang disana. Kata orang tua saya dUlu memang mereka orang makassar tapi bukan dari bangsawan jadi mereka tidak mempunyai gelar paddaengang. Paddaengang itu hanya disematkan oleh bangsawan makassar.terima kasih

    Reply

  7. December 23, 2015 @ 12:23 am A. Firdaus Mananring

    tabe’ Saudaraku, mungkin bisa di bedakan antara Paddaengang, dengan panggilan Daeng untuk penghormata kepada seseorang yg lebih tua, Untuk Paddaengang Jelas ini adalah Gelar Tu Baji’ atau tu Ruayya arenna untuk orang2 khususnya suku makassar, hanya mereka yg keturunan Daeng lah yg berhak menyematkan gelar tersebut kepada keturunannya kelak, sangat melanggar aturan adat jika misalnya saya, “Firdaus” yg hanya mempunyai 1 nama saja, kemudian memberi paddaengang kepada anak saya kelak, jelas nantinya akan di tertawakan krna melanggar adat kita, “nakana tu towayya riolo, Bassungki punna taenan nasiratang”

    Jadi tdak sembarang saudaraku yg boleh pake Paddaengang…
    Atau coba mki tanyakan sama kakek atau nenekta yg punya gelar Paddaengang, tanyakan bilang kenapaki bisa daeng kita sedangkan tetanggata tdak ada Paddaenganna? “Tentunya mereka akan menjawab ” Ka Katte Teaki tau samara’ nak” .
    Nah cari tau mki lagi perbedaan tu samara’ dan Tu Baji’…

    Tabe’

    Reply

  8. December 23, 2015 @ 12:57 am A. Firdaus Mananring

    Hal ini juga penting saudaraku, supaya tradisi kita tetap terjaga turun temurun, khususnya kita yg suku Makassar. Apalagi sekarang banyak saudara-saudara kita yg bukan dari suku makassar tidak mengetahui siapakah mereka yang bergelar “Daeng”.
    Sudah tentu hanya “Tu Baji”lah yg berhak atas gelar itu…

    Tabe Saudaraku, Semoga bermanfaat

    Reply

  9. January 22, 2016 @ 1:02 am eightyRulis'One

    Semoga baji’baji ngaseng jiki saribattang.

    saya bangga menjadi masyrakt sulawesi selatan khususnya msyrakat/suku makassar, sebab org makassar tidak pernah memandang strata sosial masyrakat. Baik kelas atas, menengah hingga masyrakat klngan bawah. Semua disatupdankan mnjadi satu sebutan… yaitu #daeng.
    knpa dmikian…?
    karena kata #daeng merujuk pada ajaran Islam. biar tdk Riya/tidak memamerkaan kebanggannya. “sperti status dlm kluarganya/golongannya/jabatannya/pangkatnya serta Hartanya dsb”. mkax utk menjaga biar tdk Riya dan tidak membeda-bedakan strata sosial msyarkt suku mkassar maka disebutlah dgn sapaan daeng. yg berarti penghargaan kpd org yg dituakan.
    tdk heran jika suku makassar demikian. Sbab penyebaran Islam di Sulawesi Tercinta ini, pertamakali disebarkan oleh kerajaan Gowa “Tuanta Salamaka” syeikh yusuf.
    jadi unsur keISLAMANnya tetap ada dan insya allah akan terjaga hingga musnahnya jagad raya.
    ______
    contoh: seragam sekolah, Almamater dan sragam instnsi/pemerintahan. Dilihat dr warna sdh ktahuan dia berasal dr sekolah dan tingkatannya, kampus dan instansi mana asalx. namun dr seragam tersebut qt tdk bisa membedakan mana si kaya dan mana si miskin. Itu dikarenakan krn seragamx. benar nggak coy…?
    seperti itulah SUKU MAKASSAR.

    Jadi, panggilan/sapaan, sperti #daeng, itu sdh ktahuan bhwa dia org sulawesi khusunya makassar, namun qt gk tau mana si miskin mana sikaya, klo itu ditinjau dari nama #daeng. bgtu juga dgn panggilan #mas (jawa), #abang (betawi), #kang (sunda), dsb.
    coba brfikir, s’andaix nama daeng itu gk ada. Kira2 apa sebutan utk org sulawesi…??? Jgn bilang Mister.

    jd Lucu klo mw ribut/demo mslh sapaan/panggilan. smentara qt sbenarnya Gak TAu apa arti yg sbenarnya yg kita Ributkan itu. hihihiiiii…..
    sy pikir mreka (yg ribut/demo) s’akan2 mau kluar dr ajaran agama islam. dmn islam sendiri mgajarkan “jangan suka PAMER krn itu sifatnya Riya”. merendah itu lebih baik.
    ni slah satu ayat dlm al-qur’an yg membahas Riya.
    Qs Al-Maa’un : 4-7
    “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.
    arti pendeknya “Riya ialah perbuatan hanya untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat”. bukan mencari keridho-an Allah SWT.
    ___________
    seperti itukah anda…?
    bhkan ad bbrpa org kok petinggi2 negara yg mencabut atributnya sbagai bangsawan. silahkan aj browsing.

    akhirnya jd lucu krn pd sibuk, sewot, aplgi sampai ribut pkai demo sgala. sementara yg bersangkutan woles waew…. heheheheheee…
    itu artinya: Pak JK paham tentang agama. dgn kata lain “tdk suka PAMER…”
    tp knpa ktika ada “nama andi” yg korupsi klian pada gk demo…!!!. Malu…??? hihihiiii. woles wae.

    ni kata #Albert_Einstein:
    ilmu pengetahuan tanpa agama “pincang”. agama tanpa ilmu pengetahuan “Buta”.

    namun perlu anda ketahui bg yg belum tau, bahwa kata #daeng itu sendiri…. betapa mendunianya. sbab sbhagian besar masyarakat sulawesi di perantauan, dia tetaplah di panggil……… #daeng.
    idaeng… banggaku mi deng. suit…suittt…olalaaa….

    maaf jika komentar sy demikian, sbab sy hnyalah manusia biasa yg lg belajar.
    namun jika komentar sy ada yg benar. berti itu dtangx dr Allah SWT.

    wabillahitaufik walhidayah wassalamualaikum warohmatullahi wabarohkatuh.

    Reply

    • August 7, 2016 @ 10:18 pm DaNa Makassat

      Daeng Manribia atau dikenal dengan Sultan Alauddin Raja Makassar pertama.

      Reply

      • September 4, 2016 @ 12:50 pm Rustam

        Kata Daeng yang selama ini saya ketahui berarti kakak sedangkan Andi itu berarti adik, jadi dalam strata sosial orang Bugis Makassar jelas mana yg adik dan mana yang kakak, jd terkait dgn istilah Daeng dan Andi menurut saya itu memang ada kaitannya dengan gelar kebangsawanan di Sulawesi selatan tdk semua org bisa menggunakan kata Daeng maupun Andi tetapi dengan kata “Dg ” tanpa panjang ( Daeng) semua orang boleh menggunakannya karena sudah menjadi kebiasaan Dilingkungan masyarkat Makassar dan bisa kelihatan cara memanggilnya apakah dia keturunan bangsawan apa bukan contoh Daeng magassingi dgn Dg Gassing itu sudah beda, Daeng Marowa dengan Dg rowa maknanya sudah beda, kalau Daeng magassingi atau Daeng Marowa itu sdh bisa dipastikan adalah memiliki silsilah bangsawan tapi kalo cuma pake Dg Gassing atau Dg rowa saja itu cuma panggilan sehari hari sebagai paddaengang sebagai penghargaan terhadap yg lebih tua

        Reply

        • January 12, 2017 @ 5:23 pm Daeng lalang

          Betul sekali tp perlu di ketahui sebelum ada gelar andi.. gelar daeng sdh ada dr dlu.. contoh raja gowa pertama itu sdh memakai nama andi sedangkan anda bs liat raja2 bugis terdahulu blom memakai nama andi.. maaf jika salah sama2 belajar

          Reply

  10. September 16, 2016 @ 11:40 pm gilang

    assalamualaikum, wak daeng,, saya ini keturunan dari bugis bone, dan ibu saya dari melayu, apakah saya bisa mendapatkan gelar daeng, sementara bapak saya tidak menyematkan nama daeng kepada nama saya baik di depan maupun dibelakang nama, tolong penjelasannya, seandainya saya bisa bolehkah saya mengikuti upacara puntuk mendapatkan itu…?

    Reply

  11. December 8, 2016 @ 3:46 pm idrus

    Naku kana Kalengku Karaeng, Nataena atanku.
    Naku kana Kalengku Ata, Nataena Karaengku.
    Passangngalingna se’reji Tojeng iyamiantu Ruayya Kalimat sahadat.
    (To Paropo)

    Reply

  12. May 5, 2017 @ 1:29 pm Armun Dg Panrita

    Melihat garis keturunan, untuk mas gilang. Ayah dri nenek saya adalah panglima perang kerajaan bone, saya adalah cucu dri sulewatang palacari. Tapi karna saya berasal dri garis keturuan perempuan maka saya merasa tidak punya hak untuk bergelar andi. Tpi berhubung ayah saya juga berasal dri garis keturunan teai tau samara, dri bulukumba sana. Maka melekatlah paddaengan dibelakang nama, Muhammad Armin Amir, Dg Panrita. Jdi maksudnya adalah mengikuti garis keturunan ayah.
    Tabe, kalo salah mohon diarahkan kpd kebenaran.

    Reply

  13. May 5, 2017 @ 1:32 pm Armin Dg Panrita

    Melihat garis keturunan, untuk mas gilang. Ayah dri nenek saya adalah panglima perang kerajaan bone, saya adalah cucu dri sulewatang palacari. Tapi karna saya berasal dri garis keturuan perempuan maka saya merasa tidak punya hak untuk bergelar andi. Tpi berhubung ayah saya juga berasal dri garis keturunan teai tau samara, dri bulukumba sana. Maka melekatlah paddaengan dibelakang nama, Muhammad Armin Amir, Dg Panrita. Jdi maksudnya adalah mengikuti garis keturunan ayah.
    Tabe, kalo salah mohon diarahkan kpd kebenaran.

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool