naik becak di makassar

Melintasi Makassar Tempo Dulu dengan Becak

Melintasi Makassar Tempo Dulu dengan Becak
5 (100%) 1 vote

Dari belakang, napasnya terdengar terengah-engah, sesekali pria yang berperawakan agak kurus itu membasu karingatnya dengan handuk kecil putih yang ditaruhnya pada sela-sela besi tempatnya mengontrol kendaraan becak. Pria itu bernama Daeng Rewa yang berumur sekitar 65 tahun, warga Jeneponto yang mengadu nasib ke Makassar dengan bekerja sebagai mengayun roda tiga – Becak.

Siang itu saya ingin ke Benteng Rotterdam yang bertempat di Jalan Penghibur, karena sudah lama tak lagi mengendarai becak, saya pun memakai jasa Daeng Rewa yang beroperasi di sekitar wilayah Jalan Bawakaraeng untuk mengantar saya hingga tempat wisata andalan kota Makassar itu.

Becak di Makassar

Foto: Daeng Rewa yang terlihat dari spion becaknya

Berbicara tentang becak yang berasal dari bahasa Tiongkok: betjakkuda dan gerobak, berdasarkan catatan yang berjudul “Pen to Kamera” terbitan 1937 yang ditulis oleh salah seorang wartawan Jepang, dalam catatan itu menjelaskan bahwa becak pertama ditemukan oleh Seiko-san penjual sepeda di Makassar yang berketurunan Jepang. Karena saat itu kurangnya penjualan sepeda yang menyebabkan menumpuknya stok kendaraan dua roda tersebut di tokonya, karena hal tersebutlah Seiko-san memutar otak agar sepeda yang terkumpul di tokonya tidak menumpuk terlalu lama. Dari situlah Seiko-san membuat kendaraan roda tiga dari sepeda, dan terciptalah becak. Berdasarkan surat kabar Jawa Shimbun terbitan 20 Januari 1943, “becak diperkenalkan dari Makassar dan datang ke Batavia pada akhir 1930-an”.(sumber: historia.id – Mengayuh Sejarah Becak)

“Sejak kapan’ki bawa becak daeng (sejak kapan pengayuh becak pak)” tanya saya pada Daeng Rewa dengan logat Makassar yang kental. Sambil meroda pedal becaknya yang berwarna merah yang berpadu dengan kuning tersebut ia menjawab dengan singkat pertanyaan yang saya lemparkan tadi, “ai lama’mi, sekitar tahun 1997 sepertinya (wah sudah lama, tahun 1997 sepertinya)” dengan mimik yang berusaha mengingat-ngingat.

Gereja Imanuel

Foto: Menikmati Gereja Katedral dari atas becak

“Yah kalau ada lagi pekerjaan kasar (tukang batu/bangunan), saya biasa berhenti dulu menarik becak karena bayaran pekerjaan bangun agak besar, tapi pekerjaan seperti itu sangat jarang didapat”, ujar Daeng Rewa. “Bagaimana mau bagus hasil menarik becak selama ini kalau orang-orang di Makassar sekarang lebih memilih beralih ke becak motor (bentor) atau pete-pete (angkot), apa lagi saya ini hanya ana’ bua (karyawan) bos pemilik becak” lanjutnya bercerita, sambil membasu mukanya dengan handuk putihnya kembali.

Daeng Rewa wajib menyetor uang sewa becak yang dipakainya sebesar Rp. 20.000 / hari pada seorang punggawa (bos) becak di wilayah Jalan Veteran. “Kadang setiap harinya saya hanya mendapatkan 2 hingga 3 penumpang, kadang juga cuman 1 penumpang”, ujar Daeng Rewa bercerita di atas becaknya.

Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan adalah salah satu penyumbang pengayuh becak terbanyak di Makassar. Hal itu terjadi karena kondisi geografis salah satu kabupaten di tanah Celebes ini kering hingga warganya kesulitan untuk mencari pendapatan dari bertani atau bersawah seperti hanya daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan. Hal yang paling bisa dilakukan kebanyakan warga Jeneponto yakni mengadu nasib ke Makassar dengan menjadi pengayuh becak, becak motor atau pekerja bangunan.

Mengenal Bangunan Lama Makassar

Berdasarkan penuturan Asmunandar yang merupakan seorang Arkeolog Makassar, “Bangunan tua Makassar terbagi dalam 3 periode perkembangan, yakni [1]. Akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18, [2]. Awal abad ke-18 hingga akhir abad ke-19 dan [3]. Akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.”

benteng rotterdam

Foto: Benteng Rotterdam / Jumpandang tempo dulu

Periode akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18:

  • Benteng Rotterdam dibagun pada tahun 1673
  • Jaringan Jalan : Abad ke-17

Periode kedua, awal abad ke-18 hingga akhir abad ke-19

gereja katedral

Foto: Gereja Katedral dari tahun ke tahun

  • Klenteng Ma Tjo Poh Ibu Agung Bahari dibagun pada tahun 1738,
  • Rumah Abu Famili Nio dibagun pada tahun 1750-an
  • Klenteng Kwan Kong dibagun pada tahun 1810
  • Vihara Istana Naga Sakti dibagun pada tahun 1860
  • Gereja Immanuel dibagun pada tahun 1885
  • Rumah Kediaman Gubernur dibagun pada tahun 1885
  • Societeit de Harmonie dibagun pada tahun 1896
  • Rumah Leluhur Marga Thoeng dibagun pada tahun 1898
  • Rumah Abu Tung Abadi dibagun pada tahun 1898
  • Rumah Mayor Thoeng dibagun pada akhir abad ke-19
  • ‘Apartemen’ Sarang Lebah dibagun pada akhir abad ke-19

Periode ketiga, akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20

  • SMA Negeri 16 dibangun pada tahun 1910
  • Kompleks Purn. Kodam VII dibagun pada tahun 1915
  • Museum Kota Makassar dibagun pada tahun 1918
  • Menara air dibagun pada tahun 1920
  • Rathkamp dibagun pada tahun 1920
  • Kantor Pos Divisi Ekspedisi dibagun pada tahun 1925
  • Gedung MULO dibagun pada tahun 1927
  • Wisma Corimac dibagun pada tahun 1927
  • Kantor Walikota Makassar dibagun pada tahun 1938
  • Queenshead dibagun pada tahun 1946

Sambil bercerita dengan Daeng Rewa, saya menikmati nuansa Makassar dari Jalan Bawakaraeng hingga ke Benteng Rotterdam. Kami melalui lapangan Karebosi yang dulunya pernah menjadi titik nol kilo meter kota Makassar (kini sudah berpindah), melihat keindahan arsitektur Gereja Katedral yang dibangun pada tahun 1898 yang terletak di ujung jalan Kartini, menelusuri kemegahan bangunan Kantor Pos Divisi Ekspedisi yang dibangun pada tahun 1925 dan perjalanan ini berakhir di Benteng Rotterdam, bekas tempat pemerintahan VOC saat menundukkan kerajaan Gowa.

Perjalanan mengendarai becak bersama Daeng Rewa ini seakan membawa saya pada wisata kota tua Makassar. Bila mengunjungi Makassar untuk berwisata, cukup dengan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 15.000 – Rp. 25.000 teman-teman sudah bisa menikmati kota anging mammiri, dari Bawakaraeng hingga ke benteng Rotterdam dari atas kendaraan roda tiga bernama Becak.

Andai saja ada paket Jelajah kota tua Makassar dengan menggunakan becak, siang itu mungkin saya sudah mengambil paket tersebut agar dapat mendengar kisah Daeng Rewa lebih lama serta menikmati kota tua Makassar dari atas kendaraan khas kota Daeng tersebut. [LB]

(Visited 1,263 times, 1 visits today)


About

Blogger yang juga senang jalan dan fotografi, sibuk jadi buruh online.


'Melintasi Makassar Tempo Dulu dengan Becak' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool