Melarutkan Kegalauan di Aliran Sungai Jeneberang

Melarutkan Kegalauan di Aliran Sungai Jeneberang
5 (100%) 1 vote

Suara ribut-ribut memecah kesunyian pagi. Sekelompok lelaki bertubuh kekar bersama-sama mendorong perahu turun ke sungai.Setelah mendorong beberapa lama,  “cassssshhhh..” perahu besar itu pun terjun ke sungai. Pemandangan ini adalah salah satu dari banyak hal yang bisa dinikmati di Sungai Jeneberang dan begitulah kami menikmati pagi di pinggiran sungai.

Menapaki tepian Sungai Jeneberang

Menapaki tepian Sungai Jeneberang

Ketika saya dan sahabat saya Ari hanya memiliki beberapa jam sebelum datang ke sebuah acara di sabtu pagi, kami tak kurang akal memanfaatkan waktu yang sempit ini. Setelah mengelilingi kota Makassar dengan sepeda, perjalanan membawa kami ke sisi barat kota Makassar. Sisi barat Kota Makassar menyajikan pantai dan beberapa kawasan yang berbenah dalam pembangunan.

Minggu sebelumnya saya telah melakukan perjalanan menyusuri pantai. Minggu ini saya kembali ke tempat ini dan berharap sebuah perjalanan yang berbeda.Untuk itu rute perjalanannya pun dibalik dengan menyusuri muara ke hulu sungai Jeneberang. Sungai Jeneberang yang panjang 80 km ini  dalam sepertinya sulit untuk disusuri dalam waktu yang hanya beberapa jam. Namun kami tetap melakukannya di sependek waktu yang kami punya.

Ada cinta di dermaga

Ada cinta di dermaga

Nama Jeneberang sendiri berasal dua suku kata dalam bahasa Makassar. Jene’ berarti air dan berang berasal dari kata parang.Disebut demikian karena air sungai yang memiliki debit air yang besar ini seringkali menerabas apa saja yang ada di hadapannya seperti parang.Sungai ini berhulu di tiga tempat di pegunungan Lompo Battang kemudian mengalir kearah Barat sebelum akhirnya bermuara di dua tempat di Selat Makassar.

Di delta Sungai Jeneberang terletak sebuah benteng yang merupakan peninggalan kerajaan Gowa-Tallo. Benteng ini bernama Benteng Somba Opu.Benteng ini sempat hancur dalam pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan pasukan Sultan Hasanuddin ditahun 1669.Kejatuhan benteng ini sekaligus merupakan kejatuhan kerajaan Gowa.

Silent Time

Silent Time

Sungai Jeneberang merupakan salah satu nadi perekonomian masyarakat Gowa dan Makassar. Air Sungai Jeneberang di bendung Bili-Bili. Bendungan Bili-bili ini terletak sekitar 30 km disebelah timur kota makassar dan kearah hulu pertemuan sungai Jeneberang dengan sengai Jenelata. Bendungan ini membendung sungai Jeneberang di desa Bili-bili Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan.

Tiba di jembatan Barombong setelah melewati Tanjung kami berbelok kearah kiri menuruni jembatan. Sebuah tanggul setinggi kira-kira 7 meter membentengi sungai dengan kawasan perumahan yang ada disebelahnya. Kami memanggul sepeda dan menaiki tanggul tersebut. Sejenak kami memperhatikan aliran sungai jeneberang yang mengalir ke laut nampak kebiruan dan semakin ke hulu semakin kecoklatan.

Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan

Godaan duduk santai ditepian sungai sungguh terlalu sulit untuk ditampik. Sejenak ingatan saya berlabuh pada sungai Musi dan kota Palembang. Matahari semakin tinggi dan beberapa sudah duduk di tepi sungai dengan alat pancingnya.

Menarik perahu biduk

Menarik perahu biduk

Ada yang percaya bahwa kegalauan hati bisa terobati dengan duduk memandangi aliran sungai yang mengalir. Biarkanlah kegalauan-kegalauan hati itu luntur dan hanyut bersama aliran sungai.

Matahari semakin meninggi dan waktunya untuk pulang.

(Visited 559 times, 1 visits today)


About

Coffe Holic | Suka menggambar | suka menghayal | lagi belajar motret | suka grogi dekat cewe cantik | mengasuh http://daengadda.com/ |


'Melarutkan Kegalauan di Aliran Sungai Jeneberang' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool