Mappassili Kalompoang

Mappassili Kalompoang
Vote Us
budaya bugis makassar

Tarian Pembuka

Mappasili atau Pasili atau Cemme Mappepacing adalah salah satu budaya Bugis Makassar yang menjadi tradisi dari suku Bugis-Makassar, memiliki makna membersihkan. Di beberapa daerah ritual serupa kerap dikenal dengan istilah siraman; memiliki filosofi yang sama, yakni bertujuan untuk membersihkan dan meluruhkan segala keburukan dari jasad dan jiwa. Tradisi-tradisi sarat makna semacam ini memang masih sering dilakukan dan lekat dengan kehidupan sehari-hari walau dengan istilah yang juga berbeda-beda.

Mau tahu sebagian tarian khas suku Bugis Makassar? Cari tahu di sini.

Khususnya di Sulawesi Selatan untuk masyarakat bersuku Bugis-Makassar, budaya Bugis Makassar membersihkan diri ini termasuk acara adat dengan berbagai ritual yang sarat akan makna, kerap dilakukan untuk mengharapkan hasil yang dipahami dapat meluruhkan segala bentuk keburukan yang ada di diri. Ritual-ritual tersebut biasanya dilakukan dalam beberapa tahapan, melibatkan para Bissu (orang yang diyakini suci hingga dipercayakan dapat memimpin upacara-upacara adat).

Berbeda dengan Mappasili, “Mappasili Kalompoang” adalah salah satu budaya Bugis Makassar dengan ritual siraman yang dilakukan serta dikhususkan untuk para raja beserta kerabatnya saja dan dilakukan secara tertutup. Ritual ini biasanya dilakukan pada saat akan atau setelah ada hajatan tertentu, seperti; setelah pencucian benda-benda pusaka, untuk menyambut keluarga baru yang akan lahir, ataupun acara-acara seremonial lainnya yang bersifat keagamaan.

Prosesi acara biasanya diawali dengan doa-doa, puji-pujian, dan penceritaan riwayat Rasulullah Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada, kegiatan ini dikenal dengan barzanji-wikipedia. Demikianlah, sedikit banyak memang ritual-ritual yang ada dalam masyarakat Bugis-Makassar dipengaruhi oleh masuknya Islam.

Kali ajah kalian mau mencobanya, alat dan bahan yang biasa digunakan sebagai berikut:

  • Pammaja lompo (gentong)
  • Timba (gayung)
  • Baki (tatakan)
  • Air, sebagai media yang suci dan mensucikan.
  • Bunga tujuh rupanna (tujuh macam bunga)
  • Wewangian
  • Ja’jakkang (wadah anyaman), terdiri dari segantang (setara 4 liter) beras yang diletakkan dalam sebuah bakul.
  • Kanjoli’ (lilin), biasanya menggunakan lilin berwarna merah dengan jumlah yang gangil, 7 buah lilin atau 9 buah lilin.
  • Kelapa tunas.
  • Gula merah.
  • Pa’dupang (perangkat dupa dan dupa itu sendiri).
  • Leko’ passili (daun yang dipercaya dapat membersihkan).

Namun dewasa ini seiring dengan berkembangnya Islam sebagai kepercayaan yang diterima sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis-Makassar, budaya Bugis Makassar peninggalan “ibu” seperti ini sedikit banyak mulai bergeser menjadi ajang silaturahim; halal bi halal atau cari jodoh –eh XD-.

tiket mudik murah

Seperti yang dilakukan pada tanggal 18 April baru-baru ini yang bertempat di rumah adat Kerajaan Bone di jalan Kumala, kecamatan Tamalate, Mappasilli Kalompoang telah berganti menjadi halal bi halal yang dirangkaikan dengan berbagai peringatan lainnya seperti haul –peringatan setahun sekali wafatnya seseorang yang ditokohkan oleh masyarakat, baik tokoh perjuangan atau tokoh agama/ ulama keagamaan- 50 tahun wafatnya almarhum H. Andi La Tenri Sukki Mappanyukki Sultan Ibrahim, raja terakhir kerajaan Bone sebelum melebur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang mana beliau juga mendapat gelar penghargaan sebagai pahlawan nasional asal SulSel.

Selain dihadiri oleh para kerabat dan jajaran pemerintah Kota Makassar sebagai wujud dukungan atas perkembangan budaya dan pariwisata yang ada, acara ini juga dihadiri oleh raja-raja se-nusantara serta dipenuhi oleh para tamu dan undangan yang begitu antusias. Acara dibuka dengan makan malam bersama, pembacaan doa, sambutan dari keluarga yang mengundang, pengisahan kembali riwayat ManurungE’ (4 titisan dewata yang menjadi cikal bakal kerajaan-kerajaan besar yang ada di Sulawesi Selatan), seremonial munculnnya Bissu’ dan perannya dalam kegiatan-kegiatan budaya Bugis Makassar, serta pengukuhan beberapa perangkat pemerintahan sebagai bagian dari keragaman budaya itu sendiri.

budaya bugis makassar

Pemain gendang

Ohya, kalian tahu tidak? Ada hal yang menarik dari setiap pagelaran atau ritual adat budaya yang dilakukan oleh masyarakat Bugis-Makassar dalam setiap hajatannya; baik itu pernikahan, siraman, sunatan, pengislaman atau yang lainnya, yaitu adanya live music dari tabuhan gendang yang bertalu-talu dan tabuhan puipui –alat musik tiup tradisional khas Makassar yang terbuat dari bambu- yang dimainkan oleh sekelompok orang dengan menggunakan pakaian adat. Juga ditampilkannya berbagai tari-tarian, salah satunya yang cukup popular adalah tari Empat Etnis. Tarian ini memang sering ditampilkan dalam acara yang bertajuk budaya, diperuntukan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan.

budaya bugis makassar

Tarian empat etnis

Yuk keliling Makassar! Eits, ambil promo tiket murahpaket tour & jangan lupa pesan hotel murah juga!

Keunikan dari tari ini terlihat pada gerakan tari yang cukup aktraktif, kostum berupa baju-baju tradisonal dari keempat etnis dan musik khas tradisi dari daerah masing-masing yang mengiringinya. Setiap berganti tarian, musik pun turut berganti menyesuaikan ciri khas etnik masing-masing. Sungguh indah pluralisme, mereka hidup bersama serta membuahkan hasil tanpa konflik asimilasi… Semoga menginspirasi.

budaya bugis makassar

Raja dan kerabat kerajaan Luwu, Gowa, Bone beserta perangkat adat dan pemerintah Kota Makassar

 

(Visited 302 times, 1 visits today)


About

Mommy dua anak hebat – perajut dan crafter – sesekali curhat di ungatawwa.wordpress.com


'Mappassili Kalompoang' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool