Mappalette Bola, Tradisi Pindah Rumah Suku Bugis

Mappalette Bola, Tradisi Pindah Rumah Suku Bugis
Vote Us

Rumah baru, semangat baru. Ada yang pernah merasakan juga hal ini? Ketika akan pindah ke rumah baru, baik itu membeli ataupun menyewa, rasa-rasanya semangat jadi lebih tinggi. Mulai deh mempersiapkan diri untuk memngemas barang-barang dan memperkirakan juga berapa biaya pengangkutan barang tersebut dari rumah lama ke rumah baru.

Mengemas barang dan mengangkutnya, ini adalah hal yang umum terjadi saat akan pindah rumah, ya kan? Nah bagaimana jika kata “pindah rumah” betuk-betul terjadi dalam artian mengangkat rumah dan memindahkannya? Kaget? Hihihihi, ini adalah hal yang biasa terjadi di Sulawesi Selatan.

ini isi nya adalah rekomendasi artikel lain di dalam blog

Jadi yaaa pindah rumah bukan hanya sekadar mengangkat barang lalu meninggalkan rumah lama dan pindah ke rumah lain akan tetapi memindahkan rumah tersebut dari lokasi yang lama ke lokasi yang baru. Rumah dipindahkan dalam bentuk utuh dan tidak dipisahkan-pisahkan, dibongkar kemudian disusun ulang. Proses pindah rumah ini bisa berlangsung lebih cepat dan lebih murah dibandingkan harus membangun ulang sebuah rumah baru.

tradisi pindah rumah suku bugis

Tradisi pindah rumah ala Bugis ini disebut dengan nama Mappalette Bola. Ada dua hal yang memungkinkan terjadinya tradisi mengangkat rumah, yaitu bentuk rumah tradisional yang masih berupa rumah panggung dan didukung oleh sifat kegotongroyongan yang masih dimiliki masyarakatnya. Rumah Panggung sudah banyak diadaptasi oleh rumah adat berbagai suku di Indonesia, misalnya Rumah Aceh, Rumah Gadang Minangkabau, Rumah Joglo, Rumah Lamin, Tongkonan, Rumah Baileo, dan termasuk rumah panggung suku Bugis. Akan tetapi dengan semakin banyaknya rumah permanen dengan tembok batu yang dibangun, secara perlahan tradisi pindah rumah inipun mulai ditinggalkan.

Perihal pindah rumah ala suku Bugis ini membangkitkan memori saat kami pindah rumah dahulu. Di kampung saya yang berlokasi di Kabupaten Luwu, tradisi ini sudah sangat jarang dilakukan. Tapi Mamak saya pernah cerita, dahulu setiap rumah yang dipindahkan akan diangkat beramai-ramai oleh warga setelah sebelumnya diumumkan di masjid atau oleh perangkat desa. Kami sendiri pernah 3 kali pindah rumah dengan metode seperti ini.

Tradisi pindah rumah suku bugis

Ada dua cara dalam memindahkan rumah yaitu mendorong dan mengangkat. Rumah akan didorong jika posisi rumah yang berdekatan dengan posisi rumah lama. Dan rumah akan diangkat jika jarak posisi rumah baru cukup jauh dari posisi rumah lama. Cara apapun yang diterapkan, rumah harus dikosongkan dari barang-barang dan perabotan di dalamnya, misalnya lemari, tempat tidur, meja, kursi, pakaian dan peralatan pecah belah.

Batang-batang bambu yang sudah dipotong sesuai ukuran rumah mulai dipasang di tiang-tiang yang ada di bawah rumah panggung sebagai penahan sekaligus pegangan saat menggotong. Proses mengangkat rumah ini biasanya melibatkan warga satu kampung dan dikomandoi tetua adat atau kepala desa. Semua harus berjalan di bawah satu komando dan mendengarkan aba-aba kapan harus mengangkat, berjalan, istirahat, kecepatan langkah dan sebagainya. Satu… dua… tigaaaa dan rumahpun mulai bergerak perlahan. Irama dan ritme perjalanan rumah terus diatur hingga rumah tepat berada di lokasi yang sudah ditentukan.

Jika para lelaki berpartisipasi dalam mengangkat rumah, para wanita pun tidak akan ketinggalan. Biasanya mereka akan datang dengan membawa pisau dapur masing-masing untuk membantu pemilik rumah mempersiapkan hidangan yang akan disantap.

tradisi pindah rumah suku bugis

Sebelum rumah dipindahkan, pemilik rumah biasanya akan menjamu warga yang membantu dengan menyajikan penganan seperti Suwella, Barongko dan Kue Lapisi yang menemani secangkir kopi atau teh panas. Dan setelah proses memindahkan rumah, warga akan menikmati sajian nasi putih, ikan bolu bakar dengan sambel kacang dan sup saudara. Wangi ikan bakar yang menguar dan sup saudara yang masih mengepul akan mengembalikan tenaga yang terkuras. Dinikmati beramai-ramai sembari mengobrolkan berbagai hal, nyamannaaa.

Mau jalan-jalan? Temukan berbagai pilihannya di sini: hotel makassar, tour murah, dan tiket pesawat Makassar

Sayangnya, sekarang ini tradisi Mappalette Bola semakin jarang ditemukan karena semakin berkurangnya minat membuat rumah panggung. Info terakhir yang saya dapatkan dari seorang teman menyebutkan bahwa beberapa bulan lalu tradisi pindah rumah ini disaksikan di Jalan Bung, Makassar. Seorang teman yang lain juga menginfokan ada pindah rumah yang di desa Kabupaten Maros yang berlangsung tanggal 29 April dan akan ada lagi dalam waktu dekat di Kabupaten Barru.

(Visited 324 times, 3 visits today)


About

Mother of #BabyJo || Blogger http://nanie.me || Traveller and Food Lover http://jokkajokka.com || Find me at IG @naniekoe


'Mappalette Bola, Tradisi Pindah Rumah Suku Bugis' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool