perkampungan-terapung-danau-tempe

Maccera Tappareng, Ritual Mensucikan Danau Tempe

Maccera Tappareng, Ritual Mensucikan Danau Tempe
5 (100%) 1 vote

Setiap daerah memiliki kearifan lokalnya sendiri-sendiri yang diwariskan secara turun temurun dan jika ditelusuri sungguh sarat akan makna. Pun demikian di Danau tempe, sebuah danau tektonik di Sulawesi Selatan yang diapit oleh tiga kabupaten yaitu Wajo, Soppeng, dan Sidrap. Danau Tempe memegang peranan penting menjadi sumber penghidupan masyarakat nelayan yang bermukim di sekitar danau ini, dari generasi ke generasi.

Danau Tempe populer sebagai penghasil ikan air tawar terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Di danau ini dapat ditemukan spesies ikan air tawar yang tidak ada di tempat lain. Ini mungkin disebabkan karena di dasar Danau tempe tersimpan banyak sumber makanan. Selain itu, letak danau tempe yang berada di atas lempeng Australia dan lempeng Eurasia juga turut mempengaruhi.

Danau tempe di pagi hari

Kota Sengkang, Ibukota Kabupaten Wajo, berjarak sekitar 250 km dari Kota Makassar dan dapat ditempuh selama 5 hingga 6 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Danau Tempe sendiri berjarak sekitar 7 km dari Kota Sengkang. Akses menuju Danau Tempe bisa melalui Sungai Walanae dengan menyewa perahu motor atau katinting dengan biaya sekitar 100 hingga 150 ribu tergantung kelihaian bernegosiasi.

**

Terdengar bunyi lesung yang dipukul pa’dendang di atas perahu yang berputar-putar mengelilingi danau, suaranya bertalu-talu.  Doa-doa yang dirapalkan oleh Macoa Tappareng mengudara diiringi bebunyian lesung. Rasa syukur yang mendalam dan memohon keberkahan dalam hidup sepanjang masa, demikian doa yang dipanjatkan pemimpin upacara, atas nama masyarakat. Aneka sesaji yang berwarna hitam, kuning, merah dan putih ditempatkan di nampan besar lalu dilarung ke tengah-tengah Danau Tempe.

Maccera Tappareng, demikian nama ritual upacara adat yang dilakukan setiap tahunnya oleh masyarakat pesisir danau pada empat kecamatan di sekitar Danau Tempe sebagai tanda kesyukuran kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rezeki yang diperoleh dari hasil menangkap ikan di danau. Bentuk prosesinya berupa upacara dan pemotongan kerbau yang dirangkaikan dengan acara syukuran makan bersama dengan hidangan dari sumbangan nelayan. Inti acara ini juga adalah ajang silaturahmi bagi para nelayan dan masyarakat setempat.

Maccera Tappareng

Maccera Tappareng (Foto: http://adhie-1.blogspot.com)

Ritual ini dipimpin oleh Ketua Macoa Tappareng. Setiap desa yang berbatasan langsung dengan Danau Tempe memiliki Macoa Tapparengnya sendiri-sendiri, yang dipilih dari nelayan yang memiliki pengetahuan luas tentang adat istiadat di danau Tempe sekaligus ahli dan berpengalaman dalam menangkap ikan. Ada Macoa Tappareng yang agak longgar dalam menerapkan aturan adat, ada pula yang ketat.

Macoa Tappareng memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian Danau Tempe dengan mengatur masyarakatnya yang hidup dari danau ini. Tugas Macoa Tappareng lainnya adalah mengawasi keberadaan dari jenis-jenis ikan asli danau seperti biawang dan bungo. Selain itu, Macoa Tappareng pula yang mengatur dan mengawasi agar penangkapan ikan di Danau Tempe tidak menggunakan pa’bu, yakni sejenis racun ikan.

**

Pada saat Maccera Tappareng juga dilakukan sosialisasi larangan yang terdiri dari dilarang menangkap pada malam Jumat dan hari Jumat, tidak boleh membawa dua alat tangkap dan tidak boleh berselisih di danau. Larangan-larangan ini, jika ditelusuri lebih jauh ternyata memiliki makna yang sangat mendalam dan berpengaruh terhadap pengelolaan perikanan di Danau Tempe.

Larangan menangkap ikan di danau pada malam jumat dan hari jumat, memiliki makna dari sisi ekologis dan juga religius. Adanya satu hari pelarangan untuk menangkap ikan adalah sebagai pengingat untuk tidak mengeksploitasi alam secara terus-menerus dan hal ini akan memberi kebebasan kepada ikan untuk berkembang biak. Selain itu, malam jumat dan hari jumat sebagai waktu yang sakral untuk beribadah, demikian pandangan dari sisi religius.

Larangan untuk tidak membawa dua parewa mabbenni atau alat tangkap menetap yang bermalam, ternyata juga sarat makna. Manfaatkanlah kebaikan alam secukupnya saja dan kurangi eksploitasi terhadap ikan di danau yang disebabkan oleh terlalu banyaknya alat penangkap ikan. Selain itu, penetapan penggunaan satu alat tangkap berlaku bagi siapa saja, tanpa membedakan asal-usul dan status apapun. Orang kaya maupun orang miskin harus menggunakan satu alat tangkap ketika mencari ikan sehingga meminimalisir perbedaan bahwa nelayan kaya dapat menangkap ikan lebih banyak dibanding nelayan yang hanya memiliki satu alat tangkap dan hanya dapat menangkap ikan sedikit.

Dilarang berselisih dan menyelesaikan masalah di danau, demikian bunyi larangan yang terakhir. Para nelayan yang mengalami perselisihan di danau harus menyelesaikan masalahnya di darat dengan cara musyawarah dan mufakat yang difasilitasi oleh tokoh masyarakat, tokoh adat atau aparat setempat. Tentu saja akan berakibat fatal jika terjadi perkelahian di danau dan tidak ada orang yang melerai.

Hingga sejauh ini, rambu-rambu adat yang sudah ditentukan tersebut masih dijalankan oleh masyarakat di sekitar Danau Tempe. Pelanggaran atas larangan Maccera Tappareng disebut idosai dan jika hal ini terjadi maka nelayan tersebut harus melakukan Maccera Tappareng sendiri. Hal ini di yakini sebagai bentuk permohonan maaf nelayan atas kesalahan perlakuannya terhadap lingkungan alam di Danau Tempe.

Maccera Tappareng

Festival Danau Tempe (Foto: TEMPO/Iqbal Lubis)

Maccera Tappareng dilaksanakan pada akhir bulan Agustus setiap tahunnya dan dirangkaikan dengan Festival Danau Tempe dengan berbagai atraksi wisata yang menarik seperti lomba perahu tradisional, perahu hias, mappadendang, pemilihan ana’ dara dan kallolona Tanah Wajo, pagelaran musik tradisional dan tari bissu, serta beragam acara lainnya.

Ritual adat seperti Maccera Tappareng ini merupakan peristiwa yang sangat tepat untuk bersilaturahmi dan saling mengingatkan tentang harmonisasi manusia dan alam sekitarnya. Lingkungan yang terjaga, pasti akan membawa kebaikan yang pada akhirnya manfaatnya akan kembali pada manusia.

(Visited 546 times, 1 visits today)


About

Blogger yang juga senang jalan dan fotografi, sibuk jadi buruh online.


'Maccera Tappareng, Ritual Mensucikan Danau Tempe' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool