Lengkingan Monyet di Hutan Tabo – Tabo

Lengkingan Monyet di Hutan Tabo – Tabo
5 (100%) 1 vote

Baru kali ini saya bertemu monyet dengan ukuran besar di alam bebas. Antara takjub dan terkejut, saya berdiri dengan jarak kurang dari 100 m dengan sepasang monyet hitam endemik Sulawesi dengan nama latin Macaca Maura. Warna rambutnya coklat kehitaman, dengan warna pucat di bagian tunggingnya. Si monyet jantan kemudian berjalan mengitari sang betina dan berteriak “ ga..ga..ga” dengan nyaring.

Monyet dalam bahasa lokal biasa disebut : Lesang (Pinrang), Ceba (Bugis), Dare (Makassar) hanyalah satu dari keragaman fauna dari hutan tabo-tabo. Masih banyak fauna lain seperti Tarsius,Tupai,Musang, kuskus dan masih banyak lagi yang terdalam dalam hutan Tabo-Tabo.

Menikmati Hutan Tabo-Tabo

Menikmati Hutan Tabo-Tabo

Hutan Tabo-tabo terletak di Desa Tabo-Tabo, Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Sekitar 80 km dari Kota Makassar.Jalan menuju hutan Tabo- Tabo sebagian besar merupakan jalan beton. Walaupun demikian sekitar 2 km masih terdapat jalan yang rusak sebelum sampai di pintu gerbang hutan.Secara administrative Hutan Tabo-Tabo merupakan naungan dari Balai Diklat Kehutanan, Kementrian Kehutanan. Hutan Tabo- Tabo merupakan  Kawasan Hutan dengan tujuan khusus untuk Hutan Pendidikan dan Pelatihan di Bidang Kehutanan.

Sesuai dengan fungsinya, Hutan Diklat Tabo-Tabo dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai. Kami memasuki gerbang Hutan Tabo-Tabo yang jalannya merupakan aspal macadam. Melewati jalan naik turun berkelok yang bermuara pada kawasan yang terdiri dari beberapa gedung.

Kawasan Hutan dan Fasilitas di Diklat Tabo-Tabo

Kawasan Hutan dan Fasilitas di Diklat Tabo-Tabo

Sesuai dengan fungsinya sebagai hutan diklat kawasan ini dilengkapi dengan asrama,dapur,rumah karyawan,Mushalla,balai pertemuan dan berbagai penunjang lain. Daya tampung tempat ini untuk kurang lebih 150 orang. Untuk menggunakan gedung di tempat ini diharuskan mengajukan ijin pada Balai Diklat Kehutanan. Namun jika hanya akan datang berkunjung dalam rombongan kecil diharuskan melapor kepada petugas kehutanan yang stay ditempat ini.

Ijin ini diperlukan karena petugas akan memberikan pengarahan terkait keselamatan dan menjaga keasrian hutan ini. Hal utama yang diberikan terkait tindakan-tindakan yang berpotensi merusak alam dan penanggulangan bahaya kebakaran.

Hutan diklat Tabo-Tabo telah dilengkapi dengan jalur atau track-track hiking. Jalur-jalur ini panjangnya berbeda-beda dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda pula.

Pak Ahmad- pegawai dinas kehutanan diklat Tabo-Tabo mengajak kami berkeliling.Biasanya dalam seminggu beliau rutin berpatroli di kawasan seluas 601,26 Hektar ini. Perjalanan dimulai dengan track yang cukup landai melewati sungai dan jembatan Bambu.Jalan kemudian menanjak dan berbelok memasuki celah-celah hutan.

Petunjuk arah jalur tracking

Petunjuk arah jalur tracking

Setelah menempuh tanjakan kurang lebih 2 km kami sampai di sebuah Huma dengan hutan. Di tempat ini merupakan tempat pembuatan gula aren. Sebuah tungku yang dibuat dari lubang tanah dan diatasnya terdapat sebuah wajan besar. Air nira yang ditampung dalam wadah bamboo kemudian disaring. Air saringan ini kemudian dimasak sampai mengental. Setelah mengental, Air Nira ini kemudian dicetak dalam cetakan yang berbentuk persegi. Setelah dingin barulah kemudian Gula Aren tersebut di kemas.

Tempat Memasak Gula Aren

Tempat Memasak Gula Aren

Untuk memperoleh Nira sebagai bahan baku pembuatan gula aren di dapatkan dari pohon-pohon enau yang banyak tumbuh di kawasan ini.

Bunga aren yang disadap niranya adalah bunga jantan yang akan tumbuh mulai dari ruas paling atas secara terus menerus sampai ke ruas yang paling bawah. Sementara bunga betinanya yang menghasilkan buah kolang-kaling hanya tumbuh pada ruas-ruas paling atas. Usia produktif aren sebagai penghasil nira bisa mencapai 10 tahun lebih. Usia sadap satu malai bunga bisa sampai 6 bulan.

Setiap kali sadap selama 12 jam, tangkai bunga aren mampu menghasilkan nira sebanyak 5 liter. Volume hasil nira ini akan meningkat pada musim penghujan, namun rendemennya rendah. Pada musim kemarau hasil nira akan menurun tetapi rendemennya tinggi. Tepat menjelang bunga mekar, seluruh malai dipotong dan hanya disisakan tangkainya. Bekas potongan dibalut dengan kain atau karung dan diikat. Pada hari berikutnya ujung potongan itu diberi buluh bambu sebagai tampungan air nira yang akan terus-menerus menetes.

Demikian seterusnya pagi dan sore sampai tangkai aren habis terpotong pisau sadap. Satu tangkai malai aren bisa disadap terus-menerus sampai 6 bulan. Selanjutnya penyadap akan menunggu keluarnya bunga berikutnya. Pada tanaman aren, kadang-kadang dalam satu batang keluar bunga jantan secara bersamaan. Hingga dalam satu batang itu dilakukan penyadapan dua malai bunga sekaligus.

Medan Terjal

Medan Terjal

Di tengah Hutan Tabo-Tabo terdapat sebuah air terjun dengan tiga tingkat,disana kemudian kami melepas lelah sejenak sebelum kami mengakhiri tracking selama 2 jam di titik start sebelumnya.

Alam telah banyak memberikan kebaikan kepada kita. Sepatutnya kita menjaganya agar tetap asri dan lestari.

 

(Visited 568 times, 1 visits today)


About

Coffe Holic | Suka menggambar | suka menghayal | lagi belajar motret | suka grogi dekat cewe cantik | mengasuh http://daengadda.com/ |


'Lengkingan Monyet di Hutan Tabo – Tabo' have 1 comment

  1. July 29, 2015 @ 1:16 pm Yuki

    Om Adda, saran sedikit saja, kalau ceritanya memang tentang Fauna, maka bahasan untuk Gula Arennya nda usah terlalu detil.. hehehe… sebenarnya lebih asik lagi kalau seandainya bisa dapat foto monyetnya.. (saya saja belum pernah lagi sejak Bantimurung, hehe)

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool