Lembah Hijau Rumbia Jeneponto

Lembah Hijau Rumbia, Surga di Tanah Gersang

Vote Us

Mendengar kata Jeneponto, jujur saja, yang terbayang di kepala saya adalah hamparan rumput kering dan gersang serupa savana, cuaca yang panas, laut dan tambak garam. Tapi sebuah perjalanan selama sehari di Jeneponto mengubah semua bayangan ini. Ternyata Jeneponto memiliki bagian yang hijau dan indah dengan cuaca sejuk cenderung dingin. Saat malam tiba, cuaca dingin ini memaksa kami meringkuk di balik selimut sambil dempet-dempetan mencari kehangatan :))

Tak banyak tempat yang kami jelajahi selama di Jeneponto karena waktu yang terbatas. Salah satu tempat wisata di Jeneponto yang kami singgahi adalah Lembah Hijau Rumbia yang disingkat dengan nama LHR. Silakan buang jauh anggapan tentang Jeneponto daerah kering dan gersang karena ternyata kabupaten ini juga memiliki objek wisata dengan lanskap hijau, udara adem dan sudah dikelola dengan baik.

lembah-hijau-rumbia

Ada yang lagi foto-foto di pintu masuk LHR

Objek wisata Lembah Hijau Rumbia berlokasi di Dusun Boro Desa Tompobulu Kecamatan Rumbia yang berjarak sekitar 27 KM dari ibu kota Kabupaten Jeneponto. Bumi Turatea (julukan Jeneponto) sendiri berjarak sekitar 90km dari Kota Makassar, yang dapat ditempuh menggunakan kendaraan bermotor selama 2 sampai 3 jam tergantung kecepatan kendaraan. Kabupaten Jeneponto berbatasan dengan Kabupaten Gowa, Takalar dan Bantaeng.

Lembah Hijau Rumbia (LHR) yang berada di atas ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut ini, mulai dirintis pada tahun 2010 oleh Ridwan A. Nojeng bersama pemuda Tompobulu. Niat awalnya adalah untuk menambah penghasilan penduduk yang berada di sekitar lokasi wisata tersebut. Wisata yang mereka rintis ini kemudian terus berbenah dan semakin berkembang hingga dipercaya untuk mewakili Sulawesi Selatan dalam ajang Satu Indonesia Award (SIA) 2016 dan berhasil menjadi pemenang untuk kategori Wisata berbasis Lingkungan dengan menyisihkan sekitar 2000an peserta dari seluruh Indonesia.

Penunjuk arah di area LHR

Penunjuk arah di area LHR

Eksotisme wisata alam yang ditawarkan oleh LHR telah dilengkapi dengan beragam fasilitas seperti bangunan villa, kafe dan resto, toilet, gazebo, aula, mushollah, kolam renang anak-anak dan dewasa, camp area, outbound games, rumah pohon, flying fox, kebun strawberry, dan paket trekking ke air terjun Rumbia yang konon airnya tetap ada dan gak kering meskipun sedang musim kemarau.

Selain itu, ada sebuah kios souvenir di dalam area LHR yang menjual beragam souvenir yang terbuat dari bambu dan baju kaos dengan tulisan Lembah Hijau Rumbia, Surga di Tanah Gersang.

Mushollah di LHR

Mushollah di LHR

aula-lhr

Aula di LHR yang bisa disewa

Uniknya, mulai dari gerbang masuk, penanda LHR hingga bangunan-bangunan seperti villa, musholla, aula, kafe dan lain-lain, semuanya dibangun dengan menggunakan bambu sebagai bahan baku utama. Makanya LHR dikenal juga dengan nama wisata alam Kampung Bamboo.

Biaya masuk ke LHR sangat terjangkau, yaitu sebesar 10ribu rupiah untuk orang dewasa dan anak-anak sebesar 5ribu rupiah saja. Sedangkan jika ingin menikmati malam di LHR alias menginap tentu akan dikenakan biaya sewa penginapan. Demikian juga untuk pemakaian camp area dan paket outbound akan dikenakan biaya yang berbeda.

Sewaktu berkunjung ke LHR, saya yang mampir tanya-tanya di kios souvenir diarahkan untuk bertemu langsung dengan Ridwan A. Nojeng di ruangan aula. Sayangnya, saat menuju ke sana ternyata beliau sedang ada tamu juga jadi saya gak enak menyela. Mau menunggu kok agak lama ya, sedangkan waktu kami terbatas. Akhirnya saya hanya keliling saja foto-foto.

hijau-di-lhr

lembahhijaurumbia

Setiap sudut di LHR sangat indah untuk diabadikan dan instagramable. Warna hijau mendominasi di mana-mana. Udara yang sejuk dan air pegunungan yang dingin tidak membuat para pengunjung yang kebanyakan anak muda membatalkan niatnya untuk menikmati kolam renang dan bercanda ria.

Kolam renang di LHR

Kolam renang di LHR

Karena tak ingin mandi, kami berniat untuk ke air terjun saja. Tapi ternyata air terjun yang dimaksud tidak berada di dalam kawasan LHR, mesti keluar lagi ke gerbang dan berbelok kanan lalu berjalan sekitar 1 sampai 2 km. Karena membawa anak kecil dan hari sudah menjelang waktu makan siang akhirnya kami memutuskan untuk balik ke rumah Lia dan Herman, kawan yang mengundang kami untuk menghadiri acara pernikahannya di Jeneponto.

Jadi, bila suatu saat kalian berkesempatan menjejakkan kaki di Bumi Turatea, jangan lupa ya berkunjung ke wisata Kampung Bamboo Lembah Hijau Rumbia untuk menikmati indahnya sisi lain dari Jeneponto.

(Visited 715 times, 2 visits today)


About

Mother of #BabyJo || Blogger http://nanie.me || Traveller and Food Lover http://jokkajokka.com || Find me at IG @naniekoe


'Lembah Hijau Rumbia, Surga di Tanah Gersang' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool