Kue Tradisional Bugis dan Makassar Yang Wajib Ada Dalam Pesta

Vote Us

Bulan lalu keluarga besar kami mengadakan hajatan. Seorang sepupu melangsungkan pernikahan. Tentu saja ada banyak kue tradisional Bugis Makassar yang terhidang di atas bosara’.

Hal yang menyenangkan dari hajatan kawinan keluarga, selain berkumpul dengan keluarga besar, adalah banyaknya hidangan yang tersaji dalam bosara. Bosara’ adalah wadah yang digunakan untuk menyajikan kue tradisional Bugis Makassar. Suku Bugis dan Makassar biasanya menggunakan bosara untuk acara-acara khusus misalnya acara pernikahan, keagamaan, maupun acara-acara resmi yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Ingin tahu prosesi meminang gadis Bugis? Temukan caranya di sini

Apalagi, dalam pesta pernikahan keluarga kami, biasanya akan ada banyak kue tradisional Bugis Makassar yang biasanya hanya muncul saat ritual tertentu. Berikut ini beberapa di antaranya;

Bolu Peca’

Kue tradisional yang paling saya cari adalah bolu peca. Sedari kecil saya suka sekali kue tradisional Bugis Makassar ini. Kue bolu peca’ kukus khas Bugis ini sangat lembut dan empuk yang rasanya manis banget. Bolu peca adalah kue basah tradisional yang terbuat dari bahan dasar tepung ketan atau tepung beras putih tapi ada juga yang membuat bolu ini dengan tepung terigu yang disebut bolu peca tepung terigu.

Bolu Peca memiliki tekstur yang lembut saat berada di mulut. Campuran gula merah merah yang berada di dalamnya menjadikan kue ini terasa sangat manis. Gula merah ini juga menjadi ciri khas dari kue ini. Lembut dan manis yang menjadi ciri khas kue ini bermakna harapan akan hidup yang nantinya dijalani kedua mempelai seperti kue bolu peca itu. Itulah sebab kue ini dengan mudah kita jumpai dalam acara pernikahan suku Bugis Makassar.

Bolu Peca', kue tradisional Bugis Makassar

Bolu Peca’, kue tradisional Bugis dan Makassar yang manis nan lembut. (foto indonesiakaya(dot)com)

Katirisala

Kue tradisonal ini berbahan dasar beras ketan hitam atau putih, gula merah serta telur. Memiliki rasa enak, manis serta khas. Umumnya kue ini dalam pembuatannya memilki cetakan spesial berwujud bundar. Katirisala terbagi dalam dua susunan di mana susunan bawahnya berwarna putih terbuat dari beras ketan dan susunan atasnya terbuat dari kombinasi gula merah serta telur. Katirisala menjadi salah satu kue wajib yang dihidangkan dalam diantara jamuan bosara dalam acara pernikahan atau acara-acara suku Bugis dan Makassar.

Beppa Pute atau Sero’-sero’

Beppa Pute dalam bahasa Bugis berarti kue putih. Suku Makassar menyebutnya se’ro’—se’ro’. Kue ini memang berwarna putih dengan taburan gula putih halus di atasnya. Kue tradisional Bugis Makassar ini berbahan dasar putih telur  yang mempunyai rasa khas, manis serta renyah. Kue ini sudah mulai agak sulit didapatkan kecuali pada acara-acara pernikahan dan di pasar tradisional tertentu.

Ada pun makna dari beppa pute bagi suku Bugis dan Makassar adalah harapan dapat membawa berkah dari Allah SWT, seperti murah rejeki, keselamatan, juga harapan akan terwujudnya keluarga sakinah mawaddah warrahmah bagi kedua mempelai.

Adapula yang memaknai kue se’ro’-se’ro’ sebagai harapan kelak kedua mempelai saling melayani dan melengkapi. Se’ro’-se’ro’ dalam bahasa Makassa sendiri berarti timba yang dahulu dipakai untuk mengambil air. Dahulu, pasangan suami istri yang baru menikah mesti bergantian saling menimbakan air di sumur. Suami akan menimba air buat istri demikian pula sebaliknya. Sehingga kehadiran kue se’ro’-se’ro’ sebagai simbolisasi agar saling mengisi antara perempuan dan laki-laki.

Katirisala - Kue Tradisional Bugis dan Makassar

Katirisala – Kue Tradisional Bugis dan Makassar

Bannang-Bannang atau Nennu’-nennu’

Ada banyak nama lain dari kue tradisional Bugis Makassar. Suku Makassar menyebutnya Bannang-Bannang, suku Bugis menyebutnya Nennu-nennu’. Bannang-bannang dalam bahasa Makassar bermakna benang yang saling membentuk jalinan. Sepintas kue yang bercitarasa manis ini memang terlihat seperti lilitan benang yang saling jalin menjalin.

Bannang-bannang kerap dimaknai sebagai simbolisasi dari hubungan yang saling kait mengait, itulah mengapa kue ini selalu hadir dalam upacara pernikahan sebagai simbolisasi saling terkaitnya dan eratnya hubungan antara dua keluarga yang sedang melaksanakan upacara pernikahan. Kedua mempelai dan keluarga nantinya diharapkan saling membutuhkan dan bekerjasama hingga maut memisahkan mereka.

Filosofi lain yang kerap disebut adalah bahwa kue bannang-bannang ini seperti sikap kebangsawanan. Ia tidak peduli dari mana ia berasal (tak ketahuan pangkalnya), juga tak ketahuan ujungnya, tetapi ia membawa manis (kebaikan).

Nah itulah kue tradisional Bugis Makassar yang bisa dipastikan hadir setiap acara pernikahan. Kue tradisional ini bukan sekadar kue pelengkap sajian pernikahan saja atau pelengkap wisata kuliner, tapi juga mengandung makna filosofis yang dalam.

(Visited 718 times, 3 visits today)


About

sharing is caring | bebas merdeka 100% | writer and traveller wannabe | peneliti paruh waktu | social media enthusiast |


'Kue Tradisional Bugis dan Makassar Yang Wajib Ada Dalam Pesta' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool