mengenal kue baje

Kisah Kue Baje si Manis dari Bugis

Kisah Kue Baje si Manis dari Bugis
5 (100%) 1 vote

Entah kenapa, orang Bugis dan Makassar begitu senang membuat kue-kue yang rasanya manis. Manis ini bukan manis biasa ya, tapi muaniss! Artinya manisnya kadang agak susah diterima oleh “manusia normal” hehehe.

Misalnya saja kue cucuru bayao yang terkenal sebagai kue yang super duper manis. Kue ini ibaratnya hanya menggunakan dua bahan utama: gula pasir dan kuning telur. Bisa kalian bayangkan bukan bagaimana rasanya? Takarannya pun tidak kira-kira. Terus kue lainnya seperti sikaporo, sama saja. Gula pasir dan telurnya seperti berlomba-lomba mencari perhatian.

Kue-kue kering dari Bugis dan Makassar sama saja. Kue nennu-nennu misalnya, atau dalam bahasa Makassar disebut bannang-bannang. Rasanya juga sama manisnya walaupun agak gampang diterima karena bahan dasanya adalah gula merah. Minimal manisnya tidak terlalu menggigit.

Ini dia kue tradisional Bugis Makassar yang wajib ada dalam pesta

Eh jangan lupa, orang Bugis juga punya yang namanya tape. Makanan ringan yang dibuat dari beras ketan yang diberi ragi ini paling sering muncul di hari raya Idul Fitri. Rasanya manis dan kadang agak kecut karena pengaruh ragi. Ketika disajikan, rasa manis itu masih ditambah lagi dengan manis dari sirup DHT dan kadang susu kental manis. Bisa dibayangkan bagaimana manisnya?

Jadi, kurang manis apalagi orang Bugis-Makassar? Hehehe

Dari sekian banyak kue-kue atau makanan yang manis, salah satu yang tergolong mudah ditemukan adalah kue baje. Kue ini adalah makanan ringan, bentuknya kecil dan terbuat dari bahan utama beras ketan, santan, gula merah atau gula pasir. Cara membuatnya pun tergolong mudah, beras ketan –baik beras ketan hitam maupun beras ketan putih – dikukus terlebih dahulu sebelum dicampur dengan santan dan gula pasir atau gula merah.

Jenis gula pasir atau gula merahnya ini tergantung selera atau tergantung jenis bajenya. Saya lupa cerita kalau baje itu ada beberapa macam meski bahan dasarnya hampir sama. Nama-namanya juga beragam, tergantung sukunya. Orang Bugis menyebutnya baje A, orang Makassar menyebutnya baje B. Padahal sebenarnya sama saja -sama-sama kue baje- hanya beda penyebutan.

Baje yang paling umum adalah yang dibuat dari beras ketan, dicampur dengan santan dan gula merah. Setelah diolah, bahan-bahan itu dicetak berbentuk persegi panjang kecil-kecil ukuran 5×3 cm dan dibungkus dengan daun pisang kering. Penyajiannya memang selalu menggunakan daun pisang kering meski di jaman sekarang sudah ada juga yang menggunakan bahan lain yang lebih moderen seperti kertas atau plastik. Tapi tentu saja rasanya akan berbeda, daun pisang memberi rasa yang lebih enak.

Variasi lain dari kue baje ini ada juga yang menggunakan beras ketan yang sudah digiling halus. Orang Enrekang menamakannya baje batan. Berbeda dengan baje yang disebut pertama tadi di mana teksturnya lebih kasar dan betuk biji berasnya lebih terasa, baje batan teksturnya lebih lembut.

Baje batan ini juga disajikan dengan cara yang berbeda. Setelah diolah, olahannya diletakkan di kulit jagung dan digulung sehingga bentuknya agak bulat. Jadi kalau kue baje biasa disajikan dengan daun pisang, baje batan disajikan dengan kulit jagung kering. Meski agak berbeda, namun rasanya sama saja: manis bok!

Ada satu lagi jenis baje yang juga mudah ditemui. Namanya baje bandong untuk orang Bugis dan baje gandong untuk orang Makassar. Baje yang satu ini tetap berbahan dasar beras ketan dan santan namun menggunakan gula pasir sebagai tambahannya. Hasilnya lebih kering dan berwarna sedikit lebih putih dibanding dua baje di atas yang lebih kemerahan.

Baje bandong atau baje gandong ini disajikan kecil-kecil juga dengan bungkus dari kertas minyak warna-warni. Keras warna-warni itu menarik perhatian, utamanya bagi anak-anak.

Kue baje terakhir yang juga mudah ditemukan adalah baje canggoreng. Baje canggoreng itu adalah sebutan oleh orang Bugis sementara orang Makassar menyebutnya tenteng. Berbeda dengan umumnya baje, baje canggoreng atau tenteng ini bahan dasarnya adalah kacang tanah yang sudah digoreng yang diletakkan secara acak di atas gula merah cair. Sesederhana itu. Bajecanggoreng atau tenteng ini mudah sekali ditemukan di pasar tradisional, bahkan jadi salah satu oleh-oleh yang dicari jika berkunjung ke Malino.

Temukan berbagai penawaran wisata menarik di sini Booking tiket online, Bikin tiket passport online, dan Beragam paket wisata

Baje sebenarnya hampir sama dengan kue wajik yang lazim di Jawa. Perbedaannya mungkin hanya di detail dan penyajiannya saja. Tapi yang jelas, baje dengan segala rasa manisnya itu semakin memperkuat asumsi bahwa orang Bugis-Makassar suka sekali kue manis-manis. Menikmati baje di sore hari dengan ditemani teh hangat atau kopi, hmmm menggoda sekali.

 

(Visited 543 times, 1 visits today)


About

Mother of #BabyJo || Blogger http://nanie.me || Traveller and Food Lover http://jokkajokka.com || Find me at IG @naniekoe


'Kisah Kue Baje si Manis dari Bugis' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool