Bersepeda di Bawakaraeng

Kisah 8 Jam di Kaki Bawakaraeng

Kisah 8 Jam di Kaki Bawakaraeng
Vote Us

Jalan panjang menanjak berakhir di kampung Lengkese. Sebuah kampung yang terletak di kaki Gunung Bawakaraeng.Sebuah gunung dengan ketinggian 2830 mdpl.Bagi penikmat camping,hiking dan olahraga outdoor, nama Bawakaraeng tentu saja memiliki tempat tersendiri.Sampai di ujung jalan, perjalanan dilanjutkan dengan memanggul sepeda menyusuri kebun kopi dan hutan.Perjalanan berakhir di sebuah air terjun. Tidak besar namun indah.Inilah cerita perjalanan menuju Lengkese dan Lembah Loe. Tempat alam dan manusia menyatu dalam harmoni. Tempat dimana lukisan indah ciptaan Tuhan di bentangkan di permukaan bumi.Bila anda sedang melakukan tur wisata di Makassar atau Sulawesi Selatan, sempatkanlah mengujungi kawasan ini.

Jalan menuju Kampung Lengkese

Jalan menuju Kampung Lengkese

Saya bersama seorang rekan berencana bersepeda di kaki gunung Bawakaraeng dengan sepeda road bike.Menggunakan sepeda jenis roadbike di medan berbatu dan tidak rata memang tidak lazim. Sepeda jenis ini memang diperuntukkan untuk medan jalan raya. Model grip ban dan ketiadaan suspensi juga memepengaruhi kenyamanan. Namun disinilah letak tantangannya.

Bersepeda di Lembah Loe

Bersepeda di Lembah Loe

Untuk mencapai Bawakaraeng,dari Makassar perjalanan dapat dilakukan melalui jalur Malino. Sebuah kota wisata berjarak sekitar 73 km. Perjalanan ke Malino di tempuh dalam waktu 2 jam. Sebaiknya perjalanan dimulai lebih pagi sebab menjelang siang kondisi jalan cukup ramai dengan truck pengangkut material. Setelah memasuki kota Malino , kami berbelok ke arah air terjun Takapala. Disinilah kami berencana akan start melakukan perjalanan dengan sepeda.

Menembus jalan di pepohonan

Menembus jalan di pepohonan

Setelah memarkirkan mobil diparkir sekitar 1 km setelah air terjun Takapala, kami pun mulai melakukan persiapan. Sepeda-sepeda dirangkai kembali, peralatan dan bekal yang akan kami gunakan dalam perjalanan pun tak luput dari pengecekan. Setelah semuanya siap, perjalanan pun dimulai. Track dimulai dengan jalan panjang menurun. Perjalanan menurun membutuhkan konsentrasi yang cukup. Terlalu cepat bisa berbahaya karena sepanjang jalan terdapat jurang.

Rumah di tepi sawah

Rumah di tepi sawah

Saya sebenarnya dalam kondisi kurang kurang fit karena sedang demam dan flu. Ditambah malam sebelum berangkat hanya sempat tertidur selama 2 jam. Walhasil kilometer-kilometer pertama terasa cukup berat. Mulai dari nafas yang pendek sampai pinggang yang sakit. Kami berhenti di Jembatan Merah mengambil beberapa foto.Setelah makan dan minum sedikit ,sakit yang melanda pinggang berangsur-angsur reda. Kondisi ini cukup membantu sebab ternyata track selanjutnya merupakan tanjakan tajam yang panjang. Sekuat tenaga kami berusaha terus melaju. Meter demi meter. Napas tersengal-sengal dan otot yang mulai sakit sampai kadang-kadang harus turun dari sepeda.

“Singgah di rumah Mister ..” sapa seorang ibu yang sedang menjemur padi. Saya tertawa disangka bule.

“Makasih ya bu, Saya orang siniji bu”

Keramahan penduduk lokal dan pemandangan alam yang indah memberikan kesan yang dalam.Karena baru pertama melewati jalur ini, kami banyak singgah untuk bertanya arah. Penduduk lokal dengan sangat ramah menunjukkan kami jalan. Bukan hanya itu,setiap kali kami selalu ditawarkan mampir untuk singgah dan beristirahat.

*****

Rumah itu terletak di ujung jalan beton. Rumah kayu yang asri.Di bagian bawah rumah, asap mengepul dari kompor tanah liat. Sang Ibu pemilik rumah rupanya sedang memasak. Ruang tamu dibiarkan kosong tanpa kursi. Disana ada tumpukan kasur yang tinggi. Rumah ini kerap disinggahi oleh pendaki. Ada poster besar dengan nama kelompok pencinta alam dipasang dibagian depan rumah. Ketika bertanya jalan,seorang bapak yang sedang mengangkut bambu menawari kami singgah beristirahat. Gayung bersambut, akhirnya kami pun singgah beristirahat di rumah yang asri tersebut.

TIKET MURAH KE MAKASSAR

Air terjun yang tersembunyi

Air terjun yang tersembunyi

Di teras rumah sambil menikmati kopi dan berbagi cerita. Tahun 2004, Kala itu hari Jumat. Sebagian penduduk pria masih berada di Masjid. Suara gemuruh tiba-tiba terdengar dan dalam hitungan detik sebagian wilayah kampong tertimbun ratusan ribu kubik material dan menutupi lembah. Hampir 6000-an orang mengungsi, 33 orang tewas, 800 ekor ternak hilang, 12 unit rumah dan satu sekolah tertimbun, lebih 200 hektar lahan pertanian dan perkebunan tertimbun. Peristiwa ini begitu membekas bagi penduduk Lengkese. Menurut Tata (Para pendaki menyebut penduduk local dengan sebutan tersebut), hari ini penduduk kampung Lengkese hanya tersisa sekitar 70 KK. Sebagian besar penduduk telah di relokasi ke tempat baru. Hanya di daerah – daerah yang berada di wilayah relative aman masih dihuni oleh penduduk.

Usai beristirahat,perjalanan kami lanjutkan menujuh lembah loe. Sebuah lembah dimana kita bisa menyaksikan sisa longsoran gunung Bawakaraeng. . Kontur lembah ini berupa tanjakan dan beberapa spot cukup landai sehingga masih memungkinkan untuk di kendarai dengan sepeda.Rencananya kami akan menyeberangi sungai Jeneberang untuk memutar kembali ke tempat awal kami berangkat.Informasi dari penduduk lokal kondisi sungai sedang tidak aman untuk diseberangi karena arusnya sedang deras sehingga kami memutuskan untuk balik arah.

Menuntun sepeda di Lembah Loe

Menuntun sepeda di Lembah Loe

Perjalanan pulang di dominasi oleh turunan. Walau tak seberat perjalanan pergi, namun perlu ekstra hati-hati. Beberapa kali ban belakang terangkat ketika melewati turunan berkelok panjang. Hanya butuh waktu sekitar 50 menit untuk sampai kembali ke titik start.
Selam 8 jam kami bergumul dengan peluh dan nyeri pada otot kaki dan punggung. Menempuh sebuah perjalanan yang menyenangkan dan menikmati keramahan penduduk di sepanjang jalan. Rindu untuk kembali dan merasakan hal yang sama kembali.

(Visited 836 times, 1 visits today)


About

Coffe Holic | Suka menggambar | suka menghayal | lagi belajar motret | suka grogi dekat cewe cantik | mengasuh http://daengadda.com/ |


'Kisah 8 Jam di Kaki Bawakaraeng' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool