Jejak Orang Makassar di Australia

Vote Us

Semasa kecil saya sering mendengar tetangga-tetangga saya menyebut kata maregge. Sebutan itu diperuntukkan bagi saudara-saudara kita yang berkulit hitam dan berambut keriting. Baik itu yang dari Ambon, Papua, atau pun Timor. Pokoknya, semua yang berkulit hitam dan berambut keriting adalah orang maregge.

Cukup lama saya menyimpan rasa penasaran dari mana asalnya sebutan itu. Kenapa orang Makassar, dan juga Bugis menyebut saudara-saudara kita yang berkulit hitam dan berambut keriting sebagai maregge?

Barulah pada tahun 2006 saya mendapatkan jawaban. Ternyata maregge adalah nama tempat yang diberikan oleh pelaut Makassar pada wilayah pantai utara Australia tempat mereka berlabuh. Adalah buku Voyage To Marege yang menuntaskan rasa penasaran saya. Kata maregge adalah penanda jejak orang Makassar di Australia.

Para pelaut Makassar itu rela menempuh pelayaran panjang dan berbahaya demi mengumpulkan dan mengawetkan teripang yang dihargai mahal oleh penduduk Tiongkok. Sebagai gantinya, mereka memberikan beras, tembakau dan alat-alat logam, seperti pisau, kapak, dan senapan pada penduduk setempat.

Sebuah peta yang  berasal dari manuskrip lama yang kemudian dimuat dalam buku Sedjarah Goa (Jajasan Kebudajaan Sulawesi Selatan dan Tenggara di Makassar, 1967) yang ditulis oleh Abdurrazak Daeng Patunru menggambarkan kekuasaan Kerajaan Gowa (Makassar) sampai meliputi pantai utara Australia.

Salah satu jejak orang Makassar di Australia adalah Macassan Beach, yang disebut sebagai titik pertama kapal pinisi yang membawa pelaut dan saudagar Makassar dan Bugis bersandar. Nama Macassan adalah sebutan yang disematkan warga suku Yolngu kepada para pelaut dari Sulsel itu. Suku Yolngu adalah penduduk Aborigin di Arnhem Land, Northern Territory, Australia.

Papan Peringatan di Macassan Beach sebagai penanda jejak orang Makassar di Australia

Papan Peringatan di Macassan Beach. Pada papan ini terdapat cerita tentang hubungan orang Makassar dan Suku Yolngu. Juga, foto seorang lelaki dengan menggunakan songkok to Bone.

Paul Thomas, Coordinator Indonesian Studies School of Languages, Literatures, Cultures and Linguistics dari Monash University, dalam laporan Jelajah Australia Kompas, mengatakan bahwa hubungan perdagangan antara suku Yolngu dan pelaut dari Makassar berlangsung dengan baik.

Berdasarkan riwayat perjalanan Mangathara (sebutan suku Yolngu untuk orang Makassar) yang dicatat Belanda di Sulawesi serta lukisan orang Aborigin di dinding gua, hubungan ini berlangsung hampir 1,5 abad, yaitu sekitar akhir abad 17 hingga awal abad 19.

Hubungan dagang antara Makassar ini meninggalkan banyak jejak orang Makassar di Australia, khususnya di bagian pantai utara. Salah satunya adalah orang Makassar memperkenalkan tehnologi logam. Sebelumnya, segala alat kerja suku Yolngu terbuat dari batu. Mereka juga diajari oleh pelaut dari Makassar untuk membuat lipa-lipa, sejenis sampan yang digunakan oleh suku Yolngu, dulunya mereka tak mengenal tehnologi itu.

Perahu orang-orang Makassar yang digunakan untuk mencari teripang hingga ke Australia. Foto Courtesy Australian Institute of Aboriginal and Torres Strait Islander Studies

Perahu orang-orang Makassar yang digunakan untuk mencari teripang hingga ke Australia. Foto Courtesy Australian Institute of Aboriginal and Torres Strait Islander Studies

Jejak orang Makassar di Australia yang tersisa dan paling tampak adalah bahasa. Setidaknya ada 200 – 300 kata yang digunakan suku Yolngu yang berasal dari bahasa Makassar atau bahasa Melayu. “Kurang lebih ada 200-300 kata dalam bahasa Yolngu yang dipengaruhi oleh bahasa para pelaut dari Makassar dan pengucapannya juga berubah ya,” ujar Paul Thomas, Coordinator Indonesian Studies School of Languages, Literatures, Cultures and Linguistics dari Monash University saat ditemui di Clayton, akhir Mei 2016.

Salah satu kosa kata bahasa Yolngu yang diperkenalkannya adalah balandja atau membeli sesuatu barang atau jasa. Kata ini dipengaruhi oleh bahasa yang dipakai para pelaut Makassar. Dalam bahasa Indonesia, kata ini mirip lafal dan artinya dengan belanja.

Selain itu, ada kata prau yang berasal dari kata perahu, juga manik-manik yang dipakai untuk menyebut kalung. Ada pula jinapan yang berarti sama dengan kata senapan dalam bahasa Indonesia saat ini, jalatan yang sama artinya dengan kata selatan, jarang yang penggunaannya merujuk pada kuda, lipa-lipa yang sama dengan kosa kata bahasa Bugis yang berarti kano, rupiya untuk menyebut uang, hingga bandira dari kata bendera.

Penyerapan ratusan kata dalam bahasa Makassar merupakan salah satu warisan budaya dari interaksi orang-orang Makassar dengan Aborigin di masa lalu. Merujuk pada kosa kata yang diserap, muncul kesimpulan bahwa para pelaut yang datang dari Makassar itu tidak semuanya adalah orang-orang dari Tanah Sulawesi, seperti Makassar, Bugis dan Bone. “Diperkirakan, para awak kapal dari kapal pinisi Makassar ini berisi pula orang-orang dari Maluku, Nusa Tenggara, bahkan Jawa dan Melayu.” Lanjut Paul.

Temukan berbagai penawaran wisata menarik di sini Booking tiket online, Bikin tiket passport online, dan Beragam paket wisata

Sisa-sisa jejak orang Makassar di Australia itu berupa serapan bahasa masih bisa kita dapatkan melalui manikay atau serangkaian lagu yang berisi pengetahuan dari para leluhur mengenai bagaimana cara Suku Yolngu hidup, biasanya dinyanyikan pada saat upacara adat.

(Visited 70 times, 1 visits today)


About

sharing is caring | bebas merdeka 100% | writer and traveller wannabe | peneliti paruh waktu | social media enthusiast |


'Jejak Orang Makassar di Australia' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool