Jejak-Jejak Tionghoa di Kota Makassar

Jejak-Jejak Tionghoa di Kota Makassar
5 (100%) 1 vote

DI BEBERAPA SUDUT KOTA MAKASSAR, makanan bernama mie kering sangat gampang ditemukan. Makanan ini adalah salah satu makanan yang paling terkenal di kota Makassar, kadang disebut sebagai makanan khas Makassar meski sebenarnya juga ada di kota lain dengan nama yang berbeda. Di Makassar, warung mie kering yang terkenal adalah Mie Titi, Mie Awa, Mie Hengky, Mie Anto dan Mie Cheng. Hampir setiap malam, warung mie itu selalu dijejali pengunjung. Makin malam makin ramai.

Mie kering yang jadi salahs atu jejak orang Tionghoa di Makassar

Mie kering yang jadi salahs atu jejak orang Tionghoa di Makassar

Mie kering yang sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kota Makassar sesungguhnya adalah jejak-jejak asimilasi orang Tionghoa yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Percampuran budaya yang kental itu bukan hanya tertinggal di kuliner saja, tapi juga merambat ke bidang lain seperti seni dan budaya.

Salah satu lagu daerah berbahasa Makassar yang terkenal adalah Ati Raja. Mungkin tidak banyak yang tahu kalau lagu itu adalah ciptaan Ho Eng Djie, seorang warga keturunan Tionghoa yang juga terkenal sebagai seniman luar biasa di dekade 1940an sampai 1950an.

*****

TIDAK ADA KETERANGAN PASTI kapan pertama kali orang dari daratan Tiongkok masuk ke Sulawesi Selatan. Tapi beberapa catatan memastikan kalau mereka sudah ada sejak abad ke-15, abad ketika kerajaan Gowa-Tallo sedang berjaya. Meski begitu ada juga catatan historis yang ditemukan di sebuah nisan di pekuburan Tionghoa (sekarang pasar Sentral Makassar) yang menyebutkan kalau orang Tionghoa mulai masuk sejak abad ke-14.

Satu hal yang pasti, gelombang besar kedatangan orang Tionghoa ke Sulawesi Selatan dimulai ketika kerajaan Gowa-Tallo sedang berjaya. Kejayaan kerajaan Gowa-Tallo yang ditandai dengan ramainya ibu kota kerajaan di delta Sungai Jeneberang seperti magnet yang menarik banyak pedagang asing untuk datang berdagang dan bahkan menetap. Beberapa di antaranya datang dari daratan Eropa dan daratan Tiongkok.

Gerbang kawasan Pecinan awal abad 20 (dokumen KITLV)

Gerbang kawasan Pecinan awal abad 20 (dokumen KITLV)

Ada 3 rumpun Tionghoa yang datang ke Makassar yaitu rumpun Hokkian, Hakka dan Kanton. Ketiga rumpun ini punya bahasa yang berbeda dan tidak saling mengerti satu sama lain. Orang Hokkian dipercaya sebagai rumpun Tionghoa pertama yang datang ke Makassar. Mereka datang secara besar-besaran hingga pada abad ke-19.

Selain Hokkian, rumpun Hakka (kek) juga adalah rumpun terbesar yang datang ke Makassar. Mereka rata-rata datang karena faktor ekonomi karena di tanah Tiongkok mereka termasuk rumpun orang-orang Tionghoa yang melarat. Sebagian besar berasal dari propinsi Kwang Tung.

Orang-orang Kanton (Kwan Foe) datang belakangan sekitar abad ke-19, hampir bersamaan dengan orang Hakka. Selain ketiga rumpun itu masih ada beberapa rumpun bangsa Tionghoa lainnya yang datang ke Makassar yang berasal dari propinsi seperti Hainan atau propinsi lainnya. Tapi jumlah mereka relatif lebih kecil.

*****

KETIKA PERTAMA DATANG KE SULAWESI SELATAN, orang Tionghoa tidak langsung bermukim di kota Makassar. Awalnya mereka berdiam di sekitar delta sungai Jeneberang, tepat di ibu kota kerajaan Gowa yang berjarak sekira 15 km sebelah selatan pusat kota Makassar sekarang. Ramainya daerah benteng Somba Opu membuat mereka betah dan mulai membaur dengan penduduk lokal. Sebagian dari mereka berdagang, sebagian lagi bertani dan menjadi nelayan.

Ketika kerajaan Gowa jatuh ke tangan Belanda dan kawasan benteng Somba Opu mulai ditinggalkan, orang-orang Tionghoapun mulai berpindah ke daerah yang sekarang bernama kota Makassar. Oleh pemerintahan Belanda mereka dipusatkan di satu daerah khusus yang diberi nama Chineese Wijk (Kampung China). Mereka tidak diperbolehkan berinteraksi dengan warga sekitar. Kehidupan mereka diatur dan diawasi dengan sangat ketat.

Suasana kawasan Pecinan di awal abad 20 (dokumen KITLV)

Suasana kawasan Pecinan di awal abad 20 (dokumen KITLV)

Perayaan imlek di kawasan Pecinan sekarang

Perayaan imlek di kawasan Pecinan sekarang

Sampai sekarang kawasan itu masih ada dan diberi nama Chinatown atau Pecinan. Orang-orang Tionghoa baru mulai bisa bebas keluar dari wilayah tersebut di awal abad 19. Masa itu juga menandai makin besarnya jejak-jejak Tionghoa di kota Makassar.

Beragam kuliner seperti yang diceritakan di paragraf awal pelan-pelan menjadi kuliner yang diterima dengan sangat terbuka oleh warga lokal. Bahkan coto yang jadi salah satu kuliner paling populer di Makassarpun konon adalah variasi dari makanan khas Tionghoa. Satu lagi, cara menyeduh kopi dengan menggunaan kain penapis yang ditarik ke atas juga adalah metode yang dibawa oleh orang Hainan yang memang terkenal sebagai pembuat kopi jempolan.

Di bidang seni, orang-orang Tionghoa juga memberikan sumbangan yang tidak sedikit. Di tahun 1940an sampai 1950an, orang Tionghoa dengan orkes Melayu-nya menghiasi jagad seni dan budaya kota Makassar. Sebagian besar adalah orang Tionghoa keturunan yang sudah kawin mawin dengan orang lokal.

Bangunan-bangunan khas Tionghoa memang mulai jarang terlihat di kota Makassar, kecuali beberapa tempat ibadah yang dibangun belakangan. Kawasan Pecinanpun sudah banyak berubah dan mulai disesaki bangunan modern. Jejak-jejak nyata Tionghoa di Makassar memang sudah mulai sulit ditangkap oleh mata, tapi tidak dengan lidah. Menikmati kuliner khas Makassar berarti menikmati jejak panjang percampuran budaya yang sudah terjadi selama ratusan tahun. [dG]

(Visited 519 times, 1 visits today)


About

Blogger ~ Suka jalan-jalan gratisan ~ Sedang belajar motret ~ Mengasuh http://daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri


'Jejak-Jejak Tionghoa di Kota Makassar' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool