Hello Samalona!

Hello Samalona!
5 (100%) 1 vote

Akhirnya setelah lama tidak ke pulau, pagi itu kami berangkat dari Dermaga Kayubangkoa, Makassar untuk santai-santai di Samalona. Seminggu sebelumnya saat kasih cocok cerita ( baca: ngobrol ) di salah satu group jejaring, kami memang janjian untuk menghabiskan liburan sabtu nanti di pulau, ya semacam wisata pulau Samalona. Dan setelah malamnya makan malam di Maccora Kitchen, kami sepakat untuk berangkat besok pagi tepat pukul 07.00. Yang telat ditinggal! Begitu perjanjiannya.

Saya sudah kangen banget nge-pulau, kangen main air dan kangen menenggelamkan kaki dalam-dalam di pasir pantai yang putih. Dan Samalona adalah tempat yang paling tepat untuk itu. Samalona adalah sebuah kecil di Selat Makassar, tepatnya di sebelah barat daya pantai barat Sulawesi Selatan. Secara adminstratif pulau ini termasuk dalam wilayah Makassar, kecamatan Wajo-Makassar -Wikipedia. Dan dihuni oleh 8 kepala keluarga yang berbagi pulau.

Baca Artikel Seru Lainnya : Diving di Pulau Samalona

Saat masih kecil, saya sering diceritakan tentang sebuah pulau berpasir putih yang sangat cantik. Kata tante saya, pasir di pulau itu tidak hanya putih tapi juga halus dan lembut seperti sutra. Airnya berkilau-kilau dan bening sepeti kaca. Saya dapat melihat ikan yang cantik dan warna-warni di sana. Dan yang paling menyenangkan saya bisa mengumpulkan kerang-kerang cantik juga bertemu dengan kelomang dimana-mana, dengan sebuah mercu suar yang menuntun kapal-kapal besar. Hingga akhirnya saya selalu membayangkan sebuah tempat yang sangat indah seperti di buku-buku dongeng yang pernah saya baca. Kemudian sejak saat itu saya selalu bertanya tentang pulau-pulau yang ada di luar sana saat duduk menikmati sepiring pisang epe di pinggir Pantai Losari.

wisata pulau samalona

samalona6

Akhirnya setelah melewati lebih kurang 30 menit perjalanan di atas kapal bermotor, kami sampai juga di pulau Samalona. Pulau yang selalu membuat hati saya senang hingga rasanya tidak sabar untuk cepat-cepat turun dari kapal. Pulau ini memang menjadi tempat liburan kesenangan saya. Karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari dermaga di seberang sana dan mungkin juga karena cerita indah dari tante saya yang sudah memiliki tempat tersendiri di hati.

Rasanya memang sudah cukup lama saya tidak ke pulau ini, mungkin sekitar setahun terakhir. Dan saat itu sebagian sisi pulau sudah tergerus gelombang yang cukup kuat, bahkan merubuhkan sebuah rumah yang sering kami sewa. Saat itu terjadi dan setelahnya, saat saya berkesempatan ke Samalona lagi, saya mendapati Daeng Ecce, pemilik rumah yang rubuh tadi tersenyum sendu dari dalam warungnya yang sempit dan berkata” Dibawaki air rumahku separu gang, untung itu masih adajih sedikit …” ( artinya: rumah saya terbawa air, untung saya masih ada yang tersisa ) dengan tatapan yang sedih.

Hari ini saya berjumpa kembali dengan Daeng Ecce, bahagianya saya karena tidak lagi menemukan rona-rona kesedihan dari garis wajahnya yang keras. Di tempat dulu rumahnya berdiri kini ada beberapa bale-bale yang disewakannya. Dan hari itu ada yang telah memesannya untuk acara ulang tahun, dan telah didekor dengan cantik sekali. Mungkin inilah yang membuat wajah Daeng Ecce tampak sumringah. Ya, sependek yang saya tahu, penghasilan mereka memang dari tamu-tamu yang datang.

samalona3

Ohya, selama ini jika berkunjung ke Pulau Samalona, saya memang tidak pernah mengeksplore pulau ini lebih jauh, selain hanya datang duduk-duduk dan snorkeling di beberapa sisi pulau saja. Hari itu saya kebetulan tidak siap untuk snorkeling karena memang kami janjian untuk kembali lebih awal sebab cuaca yang sudah masuk musim penghujan. Dan kata Daeng Tayang, pemilik kapal yang kami sewa, angin akan sangat kencang dan ombak juga akan sangat tinggi jika kami terlambat untuk pulang.

Samalona hari itu menjadi sangat ramai dan memang sepertinya sudah mejadi sangat ramai akhir-akhir ini. Dulu cukup sulit untuk menjumpai orang di pulau ini, sekarang tidak lagi. Dulu cukup mudah mendapati area kosong berpasir untuk goler-goler, sekarang tidak lagi, sudah dipenuhi bale-bale XD. Entahlah, mungkin juga karena efek pengkisian bibir pulau beberapa tahun yang lalu hingga luas wilayah berpasir dari pulau ini berkurang dan membuatnya menjadi sempit.

Jadi, karena tuntutan hidup, sedikit banyak pasti ada perubahan. begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi di pulau ini hihi. Misal, jika dulunya untuk menggunakan sumur kita sudah cukup nyaman dengan menebar senyum dan menerima senyum untuk dan dari warga, saat ini kamu harus cukup nyaman mengeluarkan 5000 rupiah untuk akses sumur dan ruang ganti =P .

Tapi jangan khawatir, kamu masih bisa menikmati segelas teh hangat atau kopi pahit hangat yang nikmat dengan aroma tungku yang khas, pisang dan singkong goreng dengan lombok terasi ternikmat buatan Daeng Ecce, atau udang, ikan, kerang dan cumi bakar dengan harga 100 ribu untuk seporsinya. Menu sama dengan yang disajikan di pantai Jimbaran sana.

Mau jalan-jalan? Temukan berbagai pilihannya di sini: hotel makassar, tour murah, dan tiket pesawat Makassar

Samalona memang sudah berubah, tapi perubahannya semakin menyenangkan. Meski untuk itu kita harus mengeluarkan sedikit lebih banyak uang, tapi tak apalah. Toh ini juga untuk warga di sana yang memang hidupnya ditopang oleh para tetamu yang datang.

samalona

(Visited 407 times, 1 visits today)

About

Mommy dua anak hebat - perajut dan crafter - sesekali curhat di ungatawwa.wordpress.com


'Hello Samalona!' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool