Hati-hati Dengan Kita di Makassar

Vote Us

“Tadi gue bingung, si supir taksi nanya ke gue ‘kita nanti turun di mana?’ Lah ngapain dia ikutan turun? Kan dia nganterin gue,” kata seorang kawan dengan nada penasaran.

Mendengar ceritanya, saya sontak tertawa. Ini salah satu kesalahpahaman yang paling sering terjadi pada orang yang baru menginjakkan kaki di Makassar. Si teman mendengus kesal melihat saya malah menertawainya. Hingga akhirnya saya menjelaskannya.

Jadi begini, Sulawesi Selatan itu dihuni tiga suku besar; Bugis, Makassar dan Toraja. Dulu sebenarnya ada satu lagi suku besar; Mandar. Belakangan sejak terbentuknya provinsi Sulawesi Barat, orang suku Mandar lebih banyak bermukim di provinsi tersebut meski masih banyak juga yang menyebar di beberapa daerah di Sulawesi Selatan.

Nah ketiga suku besar itu masing-masing punya bahasa daerah yang berbeda-beda. Bahasanya bukan hanya beda sedikit, tapi benar-benar beda. Jadi orang Bugis tidak akan mengerti ketika orang Makassar dan orang Toraja berbicara, pun sebaliknya. Orang Toraja dan Makassar tidak akan mengerti kalau orang Bugis berbicara dalam bahasa daerah.

Anjungan Mandar di Pantai Losari

Anjungan Mandar di Pantai Losari

Untuk membuat kerumitan ini semakin rumit, tiap suku itu punya sub suku lagi. Tiap sub suku biasanya punya bahasa yang sedikit agak berbeda dengan bahasa sub suku lain yang masih berada dalam satu suku besar yang sama. Misalnya, orang Jeneponto yang aslinya masih suku Makassar punya bahasa yang namanya bahasa Konjo. Bahasa Konjo ini berbeda dengan bahasa Makassar yang digunakan oleh orang Gowa, padahal keduanya masih terhitung suku yang sama; suku Makassar. Tidak beda 100% sih, tapi setidaknya ada banyak suku kata yang berbeda.

Jadi jangan kaget kalau dalam satu kabupaten yang sejatinya dihuni oleh satu suku yang sama, ternya ada banyak bahasa yang berbeda. Kabupaten Enrekang misalnya, secara kultur orang Enrekang hampir mirip dengan orang Toraja, tapi ternyata dalam satu kabupaten setidaknya ada tiga bahasa yang berbeda.

Orang Enrekang sebelah selatan punya bahasa yang mirip dengan bahasa Bugis, sementara orang Enrekang di bagian tengah punya bahasa sendiri. Enrekang bagian utara yang dekat dengan Tana Toraja punya bahasa yang mirip dengan bahasa Toraja. Lalu bagaimana supaya mereka bisa berinteraksi dan saling mengerti? Ya menggunakan bahasa Indonesia.

Gadis-gadis manis dari SulSel

Gadis-gadis manis dari SulSel

Dan itu juga yang digunakan oleh sebagian besar orang Sulawesi Selatan. Menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu agar bisa berinteraksi dan saling mengerti. Bahasa Indonesia yang digunakan tentu saja mendapat pengaruh besar dari bahasa-bahasa daerah, entah dari sisi dialek maupun kata-kata dan partikel yang digunakan. Lalu muncullah bahasa Indonesia khas Sulawesi Selatan yang kadang sulit dimengerti oleh orang luar.

Salah satu dari sekian banyak yang khas itu adalah kata “kita”. Di Sulawesi Selatan, kata “kita” tidak selamanya berarti orang kedua jamak atau Anda, saya dan orang lain. Kita’ (dengan penekanan di bagian akhir) dalam bahasa Indonesia di Sulawesi Selatan adalah pengganti kata ganti orang kedua. Ini untuk membedakan Anda dan kamu.

Kita’ digunakan untuk orang yang lebih tua atau yang lebih dihormati. Yah sifatnya kayak Anda atau kalau dalam bahasa Jawa mungkin seperti panjenengan atau sampeyan. Untuk orang yang setara atau sudah diakrabi maka cukup menggunakan “kau” sebagai pengganti orang kedua tunggal.

Senja di Pantai Losari

Senja di Pantai Losari

Dalam penggunaannya kata “kita” juga mengalami perubahan, minimal pemendekan untuk membuatnya lebih efisien. Entah kenapa, orang SulSel (dan sepertinya kebanyakan orang timur) senang menyingkat kata dan membuatnya lebih efisien. Kata “kita” dalam penggunaannya kemudian dipersingkat menjadi sekadar “ki”. Contoh penggunaannya:

“Mau ke mana ki?”

Itu artinya bukan bertanya kepada orang yang bernama Kiky dia hendak ke mana, tapi bertanya; Anda mau ke mana?

Sementara kata “kamu” biasanya cukup disingkat dengan “ko” saja. Contoh penggunaannya;

“Mau ko ke mana?”

Artinya; kamu mau ke mana?

Okey, sudah cukup jelas kan bagaimana kami menggunakan kata “kita” di Sulawesi Selatan? Jadi sekali lagi, di Sulawesi Selatan kata “kita” tidak melulu berarti Anda dan saya, tapi hanya berarti Anda sebagai bentuk penghormatan dari lawan bicara.

Jadi kalau ke Makassar dan bertemu gadis cantik yang kemudian bertanya, “Malam ini kita tidur di mana?”, Anda jangan ge-er dulu ya. Itu bukan berarti dia bertanya Anda dan dia akan tidur di mana.

Jadi, hati-hatilah dengan kata “kita” di Makassar!

(Visited 403 times, 1 visits today)


About

Blogger ~ Suka jalan-jalan gratisan ~ Sedang belajar motret ~ Mengasuh http://daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri


'Hati-hati Dengan Kita di Makassar' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool