Gua Mampu Bone, Cerita (Rakyat) Tentang Sang Putri dan Tujuh Kampung yang Dikutuk

Gua Mampu Bone, Cerita (Rakyat) Tentang Sang Putri dan Tujuh Kampung yang Dikutuk
5 (100%) 1 vote
Gerbang masuk wisata Gua Mampu

Gerbang masuk kawasan wisata Gua Mampu

Pada dahulu kala ada sebuah kerajaan yang meliputi tujuh kampung. Semua rakyatnya hidup dalam kesejahteraan. Apa yang mereka butuhkan semua bisa terpenuhi, maka disebutlah kerajaan itu Kerajaan Mampu. Hingga suatu ketika kerajaan itu mendapat ujian.

Raja dari kerajaan itu memiliki seorang putri, putri yang semasa hidupnya tidak pernah menginjakkan kakinya ke tanah yang dalam istilah bugisnya disebut ana’ dara maberre. Suatu hari sang putri sedang menenun dan alat tenun yang dipakainya terjatuh dari rumah. Karena sifatnya yang maberre (tidak pernah keluar rumah) tadi, maka ia menunggu seseorang untuk mengambilkan alat itu. Saat itu sang putri mengucap sumpah. “Barang siapa yang mengambilkannya, bila laki-laki maka akan dijadikannya suami dan bila perempuan maka ia akan dijadikannya saudara.

Pintu masuk Gua Mampu

Pintu masuk Gua Mampu

Saat itulah ujian datang. Seekor anjing laki-laki (jantan) mengambilkan alat tenun itu dan memberikannya kepada sang puteri. Sesuai dengan sumpah yang telah diucapkannya itu, sang putri harus menikah dengan anjing itu. Namun sang putri menolak, sang putri melanggar sendiri sumpahnya. Akibat mengingkari sumpah itu, sang putri mendapat kutukan. Ia kemudian berubah menjadi batu. Awalnya hanya sang putri yang mendapat kutukan, kemudian kutukan itu menyebar kepada seluruh warga dan isi kampung itu.

Makam Raja Mampu

Makam Raja Mampu

Begitulah kira-kira cerita si pemandu ketika saya mengunjungi Gua Mampu, gua yang berada di Gunung Mampu Desa Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone. Gua ini berjarak kurang lebih 45 kilometer dengan lama perjalanan sekitar satu jam dari kota Watampone. Gua ini merupakan gua terbesar yang ada di Sulawesi selatan dan terbukti ketika saya memasukinya memang gua ini sangat luas. Bahkan menurut si pemandu gua ini berlapis tujuh mewakili tujuh kampung yang ada didalamnya. Katanya lagi jika ingin menjelajahi seluruh gua ini bisa menghabiskan satu bulan.

Buaya yang membatu karena kutukan

Buaya yang membatu karena kutukan

Untuk mendukung ceritanya, si pemandu menunjuk beberapa batu yang menyerupai manusia, hewan atau benda-benda lain sebelum terkena kutukan itu. Ada buaya yang menjadi batu, sepasang kekasih menjadi batu, ibu yang sedang melahirkan, alat tenun dan anjingnya, seorang wanita, ada pula makam raja mampu didalamnya. Masih banyak hal yang belum sempat saya saksikan karena baru saja satu bagian dari gua itu runtuh, sehingga sangat berisiko jika harus mendekati daerah reruntuhan itu. Menurut pemandu, beberapa kali, namun tidak sering, terjadi longsor di dalam gua, sebab itu harus berhati-hati. Bahkan ada seorang pemandu ada yang meninggal akibat longsoran itu.

Dua pasang batu ini merupakan sepasang kekasih yang sedang mengungkapkan cinta (menurut ceritanya)

Dua pasang batu ini merupakan sepasang kekasih yang sedang mengungkapkan cinta (menurut ceritanya)

Saya sempat menanyakan kepada pemandu, mengapa bisa kampung yang besar itu bisa terdapat dalam gua. Saya pikir untuk ukuran satu kampung pasti sangatlah luas. Si pemandu menceritakan bahwa dulu kampung ini pernah tenggelam kemudian muncul lagi dan berada dalam gua. Hal-hal yang berukuran besar berubah menjadi kecil di dalam gua ini seperti contohnya galung langi (sawah tadah hujan) yang membatu, begitu pula sebaliknya hal kecil menjadi besar seperti tikus yang berukuran seperti sebuah kura-kura besar. Gunung Mampu ini juga, masih menurut pemandu itu, jika dilihat dari jauh menyerupai sebuah perahu. Mendengar cerita-cerita pemandu itu pun sebenarnya antara percaya dan tidak, tapi itulah mitos yang berkembang.

Pengunjung sedang memperhatikan galung langi (sawah tadah hujan) yang membatu (katanya)

Pengunjung sedang memperhatikan galung langi (sawah tadah hujan) yang membatu (katanya)

Saya cukup membayar lima ribu rupiah untuk satu motor dan berboncengan ketika masuk, yang berjalan kaki mungkin lebih murah lagi. Bagi yang berkendara mobil harus diparkir di pintu masuk dan melanjutkan jalan kaki sekitar setengah kilometer. Sebagai alat penerang dalam gua tersedia jasa sewa obor lima ribu rupiah untuk dua buah. Menurut saya sendiri menggunakan pencahayaan obor kuranglah begitu maksimal dan tak begitu terang, sepertinya lebih baik menggunakan headlamp atau senter saja.

Ada pula jasa pemandu yang akan mengantar berkeliling dalam gua menuju spot-spot tertentu sambil menceritakan sejarahnya. Namun jasa pemandu ini tidak wajib, bisa digunakan bisa tidak. Tetapi jika membutuhkan penunjuk jalan di dalam gua dan ingin mendengar cerita-cerita berkaitan dengan gua itu sekaligus bertanya hal apa saja mengenai lebih baik menggunakan jasa pemandu. Jasa pemandu itu sekitar 50.000 – 70.000 rupiah per pemandu tergantung jumlah rombongan yang dipandu.

(Visited 3,605 times, 1 visits today)


About

rangkaijejak.wordpress.com | Selalu penasaran dengan tempat baru ~ Blogger Newbie ~ Fotografer Wannabe


'Gua Mampu Bone, Cerita (Rakyat) Tentang Sang Putri dan Tujuh Kampung yang Dikutuk' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool