Di Mataku, Indonesia Itu…

Di Mataku, Indonesia Itu…
5 (100%) 1 vote

Berkali-kali ke Jayapura saya belum menemukan pantai yang menawan. Ketika bertanya kepada Jeni, sahabat yang menemani selama di Jayapura, jawabannya adalah,”Aduh, jauh kaka. Pantai yang jauh itu macam tiga jam dari sini.”

Baiklah, pikir saya. Berarti memang saya tidak berjodoh dengan pantainya Papua.

Lalu, di hari terakhir kunjungan ke Jayapura Jeni mungkin kasihan melihat saya yang seperti sakaw dan penasaran pada pantai Papua. Karena masih ada rentang waktu antara keluar dari hotel dengan penerbangan ke Makassar, diajaklah saya ke pantai Base-G.

“Pantainya dekat saja, 15 menit dari kota,” kata Jeni.

Dekat, 15 menit dari kota. Pantai seperti apa yang bisa saya harapkan? Mungkin tidak jauh beda dengan Akkarena, pantai berpasir hitam di kota saya, Makassar. Baiklah, tak mengapa. Lebih baik ketemu pantai biasa, daripada tidak sama sekali. Maka berangkatlah kami ke pantai Base-G, 15 menit dari pusat kota.

Setibanya di sana, saya hampir saja berteriak. Deretan kalimat mulai dari lafaz memuji Tuhan hingga umpatan keluar dari mulut saya. Pantai Base-G yang tadinya saya pikir pantai biasa, ternyata luar biasa! Pasirnya putih kekuningan, agak kasar seperti wijen. Lembut, ketika kaki berpijak maka sekejap kaki akan tenggelam. Lautnya, antara biru muda, hijau, lalu biru tua. Ombaknya tinggi karena posisinya yang menghadap ke samudera Pasifik.

Indahnya pantai Base-G

Indahnya pantai Base-G

“Ah kaka, ini pantai biasa di Papua,” kata Jeni ketika melihat saya begitu takjub.

Dalam hati saya mengumpat, sialan! Pantai seperti ini pantai biasa? Dasar orang Papua! Bagi mereka pantai seindah itu seperti pantai biasa saja, bayangkan bagaimana “pantai tidak biasa” bagi mereka.

*****

Di depan pelabuhan Tulehu, pulau Ambon. Bersama istri kami menumpang makan di los kosong milik seorang ibu yang berjualan ikan cakalang asar. Namanya Mama Ina. Dengan ramah dia membiarkan kami makan ikan dan beragam penganan khas Maluku lainnya di los sederhana yang kosong di samping los miliknya. Los itu hanya meja kayu yang berjejer tanpa sekat, ada bangku kayu panjang yang seperti dibuat seadanya.

Selama makan kami terus bercakap-cakap. Mama Ina sangat ramah, melihat kami makan tanpa ada air minum, disuruhnya seorang anak kecil ke warung membeli dua botol air kemasan. Saya pun sempat bermain dengan Rizky, anak laki-lakinya yang saya taksir baru berumur sekira 7 tahun.

Patung Martina Tiahahu di kota Ambon

Patung Martina Tiahahu di kota Ambon

Selesai makan kami berdiri, hendak kembali ke penginapan.

“Berapa mama?” Tanya saya sambil merogoh kantong celana.

“Ah, seng usah” katanya. Dia menolak saya membayar ikan yang saya beli.

Wah, apa-apaan ini? Masak saya yang beli ikan, numpang makan, dibelikan air minum lalu tak diperbolehkan membayar? Apa karena saya bercakap-cakap dengan mereka lalu oleh mereka saya dianggap tamu?

Saya terus memaksa membayar, dan Mama Ina terus kukuh menolak. Akhirnya saya menyodorkan beberapa lembar uang puluhan ribu dengan setengah memaksa hingga dia menerimanya.

*****

Di pedalaman Kalimantan Utara. Saya dan teman sesama peneliti menginap di rumah kepala adat di sebuah desa yang jauh dari kota. Selama dua jam kami harus melewati jalan yang begitu menyiksa, rusak di sana-sini dan bahkan nyaris membuat mobil kami terguling.

Sedang asyik di ruang tamu menikmati sajian minuman hangat dan obrolan santai bersama tuan rumah, sang kepala adat memanggil saya ke dapur. Saya mengikutinya dengan perasaan heran, ada apa gerangan?

Setibanya di dapur, bapak kepala adat menyodorkan sebilah pisau dapur. “Bapak, minta tolong bapak saja yang potong ayam ya? Kami bukan muslim, kami takut kalau kami yang potong nanti ayamya tidak halal buat bapak,” katanya.

Nyesss! Tiba-tiba ada perasaan yang entah bagaimana saya jelaskan, menyusup ke dalam dada dan membuat saya tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik.

“Ah, tidak usah pak. Saya belum pernah menyembelih ayam. Bapak saja yang potong, kami ikut saja,” kata saya sambil menolak dengan halus tawaran beliau.

Gerbang desa Setarap

Gerbang desa Setarap

Sungguh saya terkesan pada apa yang baru saja terjadi. Di tempat yang jauh dari kota ini, saya bertemu orang-orang yang begitu menghargai perbedaan. Karena takut makanannya tidak halal, mereka sampai meminta saya sendiri yang menyembelih ayam buat makanan kami. Saya kagum, mereka sampai bisa berpikir jauh ke sana, padahal saya yakin mereka tak biasa bersentuhan dengan orang luar, apalagi orang muslim.

*****

Tiga cerita di atas hanya sedikit dari sekian banyak cerita tentang Indonesia yang saya sesap. Kebetulan selama dua tahun belakangan ini pekerjaan mengharuskan saya mendatangi banyak tempat di Indonesia. Dari Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara hingga Papua. Dari sekian banyak perjalanan itu, saya bertemu dengan banyak wajah Indonesia.

Di Sumatera saya bertemu para perantau dari Bugis, di Kalimantan saya bertemu para penjaga hutan yang kukuh bertahan dari godaan investor kelapa sawit. Di Lombok dan Sumba saya bertemu orang-orang yang begitu sadar menjaga lingkungan, di Maluku saya bertemu Mama Ina yang begitu ramah, di Papua saya bertemu orang-orang Papua yang menyambut saya dengan tangan terbuka seolah-olah saya kawan lama. Di semua tempat itu, saya menemukan alam Indonesia yang indahnya tak terperi.

Indonesia di mata saya adalah sebuah paket lengkap. Alam yang indah tak terperi, orang yang ramah, budaya yang kaya, sejarah yang panjang. Semua ada di Indonesia, tergurat dari ujung barat ke ujung timur.

Saya yakin saya tidak sendiri. Teman-teman juga pasti punya kesan tentang Indonesia. Punya bayangan sendiri tentang Indonesia di mata sendiri. Nah, daripada semua kesan itu disimpan sendiri atau perlahan hilang dari kenangan maka alangkah baiknya jika semua kenangan itu didokumentasikan, diceritakan dan divideokan.

Ezyrtravel sedang menggelar kompetisi video di Instagram yang bertema: Indonesia di Mataku. Namanya kompetisi, hadiahnya tentu ada. Bukan cuma ada, tapi bejibun. Kompetisi yang berlangsung dari tanggal 1-31 Agustus ini menyediakan hadiah-hadiah yang tentu saja bikin ngiler. Tiga pemenang masing-masing mendapatkan paket yang luar biasa. Ada paket action cam dan liburan ke Bali serta bermacam-macam voucher bernilai jutaan rupiah untuk pemenang pertama,  paket liburan ke Jogja beserta voucher bernilai jutaan rupiah untuk pemenang kedua dan ketiga. Pokoknya hadiahnya tidak tanggung-tanggung. Bahkan dua pemenang favorit pun tetap masing-masing mendapatkan paket voucher dan merchandise senilai jutaan rupiah.

Hadiahnya menggiurkan!

Hadiahnya menggiurkan!

Buat kalian yang penasaran bagaimana caranya, langsung saja meluncur ke tautan ini. Di sana ada penjelasan detail tentang kompetisi ini. Ayo! Ceritakan tentang Indonesia di mata kamu, perlihatkan kepada dunia bagaimana Indonesia di matamu. Siapa tahu kamu beruntung, mendapatkan hadiah menikmati Indonesia!

(Visited 67 times, 1 visits today)


About

Blogger ~ Suka jalan-jalan gratisan ~ Sedang belajar motret ~ Mengasuh http://daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri


'Di Mataku, Indonesia Itu…' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool