Destinasi Wisata Sejarah di Kota Palopo

Destinasi Wisata Sejarah di Kota Palopo
5 (100%) 3 votes

Selain kota Makassar, ada beberapa kota kecil di Sulawesi Selatan yang memiliki destinasi wisata yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Watampone, Pare-pare, Watansoppeng, Bantaeng, Palopo, Masamba adalah beberapa di antaranya. Nah untuk kali ini, mari menuju ke sebelah utara kota Makassar yaitu kota Palopo.

Kota Palopo berjarak sekitar 370 km dari kota Makassar dan dapat ditempuh selama 7-8 jam perjalanan dengan menggunakan bus antar kota dalam propinsi (AKDP). Alternatif lain adalah dengan menumpang mobil sewa semacam panther, kijang, innova atau sejenisnya yang banyak dijumpai di Terminal Daya Makassar.

Memasuki kota Palopo, anda akan disambut keindahan bukit Sampoddo dengan hamparan empang dan pesisir pantai di sebelah kanan. Setelah kendaraan menuruni bukit Sampoddo barulah anda mulai memasuki kawasan kota Palopo.

Ada beberapa objek wisata yang bisa menjadi tujuan saat berkunjung ke kota Palopo, baik wisata alam, wisata sejarah maupun wisata kulinernya. Saya rekomendasikan 3 destinasi wisata sejarah yang berada di dalam kota Palopo. Objek wisata sejarah ini letaknya berdekatan sehingga anda bisa menjangkaunya dengan berjalan kaki saja.

masjid_tua_palopo

Masjid Jami’ Tua 

Masjid Jami’ Tua terletak di lalan Andi Jemma dan usianya sudah mencapai 400 tahun, dibangun pada tahun 1604 pada masa raja Luwu Datu Pajung Luwu XVI. Masjid Jami’ Tua bukanlah hanya sekadar tempat beribadah tetapi juga sebagai monumen kelahiran kota Palopo bahkan masjid ini diyakini sebagai masjid tertua di Sulawesi Selatan.

Jika berkunjung ke masjid ini anda akan melihat sebuah bangunan dengan arsitektur gaya lama yang mempunyai unsur budaya Bugis, Jawa, Hindu, dan Islam. Bangunan ini memang nampak kuno tapi sangat terawat. Sejak awal mula dibangun hingga sekarang tidak banyak perubahan yang berarti dari arsitektur bangunan masjid.

Bangunan Masjid Jami’ Tua dibangun dari batu alam setebal 0,94 m yang direkatkan dengan putih telur. Atap masjid ini bersusun tiga dan di puncaknya terdapat tempayan keramik sebagai mustaka yang mengandung falsafah Luwu yaitu lampu, tongeng, benteng dan allele. Sedangkan mustaka adalah refresentasi dari sifat tuhan yang Maha Adil. Terdapat 1 buah pintu, 20 jendela besar dan 12 jendela kecil yang memiliki gaya arsitektur yang serupa.

Yang menarik adalah tiang penyangga utama (soko guru) dengan diameter sekitar 1 meter yang terbuat dari kayu Cinaduri, tingginya 8,5 m dan bersegi 12. Jaman sekarang, tumbuhan Cinaduri ini sudah berubah menjadi tanaman kerdil yang hanya memiliki tinggi sekitar 10-15 cm saja.

Ada mitos yang berkembang di kalangan masyarakat bahwa belum sah kunjungan anda ke kota Palopo jika belum menginjakkan kaki di Masjid jami’ Tua. Jadi, sempatkan berkunjung ke Masjid ini saat berada di kota Palopo ya.

istana datu Luwu

Kompleks Istana Datu Luwu

Sebagaimana daerah lain yang dahulu berbentuk kerajaan, pasti memiliki kediaman (istana) untuk para rajanya. Demikian juga Kota Palopo yang dahulu merupakan Kerajaan Luwu. Di dalam kompleks Istana ini, selain terdapat Istana Kedatuan Luwu, juga terdapat rumah adat Langkana’E yang merupakan rumah adat khas kerajaan Luwu. Komplek bangunan ini direhabilitasi Belanda pada tahun 1920 dan saat ini masih berdiri kokoh di tengah-tengah jantung kota Palopo.

Di kompleks istana ini sering dijadikan sebagai tempat kegiatan sanggar budaya dan kegiatan adat lainnya. Saat ini, istana Kedatuan Luwu sudah dialihfungsikan menjadi sebuah museum dengan nama Museum Batara Guru dan terbuka untuk masyarakat umum. Museum Batara Guru diresmikan pada tanggal 26 Juli 1971 oleh Andi Achmad yang saat itu menjabat sebagai Bupati Luwu. Anda Achmad merupakan salah seorang ahli waris dari Datu Luwu.

Koleksi Museum Batara Guru terbilang cukup banyak, jumlahnya adalah 831 buah yang terdiri dari berbagai benda pusaka zaman kerajaan misalnya trisula, tongkat bercabang dua, keris dan lain-lain, benda-benda antik seperti keramik, guci, piring antik dan bosara, ada juga benda pribadi dan peralatan yang pernah digunakan para Datu Luwu, serta peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk upacara adat.

Di dalam museum juga ada sepasang manekin yang berpakaian pengantin ala Luwu, pelaminan khas adat Luwu, silsilah 23 generasi Pajung-e ri Luwu atau pohon famili dari raja-raja Kedatuan Luwu. Juga terpampang kisah legenda Batara Guru.

Makam LokkoE

Makam Lokko’E

Kawasan wisata sejarah Lokko’E merupakan tempat pemakaman raja-raja (datu) Luwu. Konon, kompleks pemakaman Lokko’E dibangun oleh Setiaraja Petta Matinroe Ri Tompotikka pada tahun 1605 Masehi, sesaat setelah pembangunan Masjid Jami’ Tua di tahun 1604 M.

Lokasinya terletak di Luminda, Sabbamparu, sekitar satu kilometer dari Masjid Jami’ Tua. Akses menuju ke sana tidaklah sulit karena terletak di jalan poros utama yang menghubungkan kota Palopo dan Kabupaten Luwu Timur. Jika pun tidak ingin menumpang kendaraan umum, jarak sejauh 1 km dari Masjid Jami Tua tidaklah terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki sambil menikmati kota Palopo.

Luas kompleks pemakanan Lokko’E kurang lebih 670 m persegi dan memiliki tiga makam yang usianya sudah sangat tua. Makam Lokko’E yang berbentuk melengkung seperti piramida, makam JerraE berbentuk segi empat seperti benteng, dan makam Cippe berbentuk seperti batu yang sangat besar. Ketiganya berada dalam satu kompleks pemakaman.

Makam utama Lokko’E merupakan sebuah makam yang berbentuk piramida dengan luas 10×10 m dan tinggi 7 m, berpintu kawat duri dan di lapisan belakang ditutup dengan pintu terali besi. Di dalam bangunan yang menyerupai piramida inilah disemayamkannya Datu Luwu yang pernah berkuasa pada masa kejayaan kerajaan Luwu. Terdapat 37 makam Datu Luwu di dalam Lokko’E, juga terdapat pula makam Cenning (orang kesayangan) dan permaisuri raja.

Selain makam utama Lokko’E, terdapat pula JarraE yaitu sebuah kuburan berbentuk segiempat dengan pagar tembok setinggi 2 m. Tertulis “Petta Matinro-e ri Sabbamparu”. Beliau adalah salah satu pejuang tangguh Luwu di masa hidupnya. Di JerraE, terdapat 13 makam keturunan keluarga “Petta Matinro-e ri Sabbamparu”.

Yang ketiga adalah makam Cippe yaitu makam Opu Ambona Wake, yang juga merupakan salah satu pejuang tangguh dari Luwu. Menurut cerita yang beredar, batu nisan di makam ini dahulu terus bertumbuh dengan sedirinya meskipun sekarang tidak lagi. Ukurannya cukup lebar, jika dipeluk orang dewasa, kedua ujung jarinya tidak akan bersentuhan.

Di samping makam Opu Ambona Wake, juga terlihat makam Petta Punggawa. Beliau adalah salah satu pejuang dari Bone yang membantu pejuang rakyat Luwu untuk mengusir penjajah.. Kompleks pemakaman Lokko’E ini juga diperuntukkan bagi anak cucu keturunan Datu Luwu atau keluarga dekatnya apabila wafat.

(Visited 1,038 times, 1 visits today)


About

Mother of #BabyJo || Blogger http://nanie.me || Traveller and Food Lover http://jokkajokka.com || Find me at IG @naniekoe


'Destinasi Wisata Sejarah di Kota Palopo' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool