danau tempe

Cerita Yang Mengapung Dalam Keindahan Danau Tempe

Vote Us

Bunyi bising mesin kapal keras terdengar di gendang telinga, kapal kayu sepanjang 6 meter tersebut membela riak-riak air berwarna kuning di sungai pagi itu. Si pria bertopi yang memiliki kulit hitam legam terlihat serius mengarahkan perahu bermesin tersebut untuk menghindari sampah-sampah dan eceng gondok (eichhornia crassipes) yang berserakan di tengah-tengah sungai. Sedang saya dan seorang teman yang menumpangi perahu tersebut, sibuk melihat warga yang melakukan aktifitas mencuci dan mandi di pinggiran sungai. Seperti itulah suasana yang terekam saat melakukan wisata sulsel di Danau Tempe – Kabupaten Wajo.

Danau Tempe

Si pria berkulit hitam legam yang mengantar kami dengan perahu mesin itu bernama Daeng Mapalanreng – 59 tahun, ia salah satu ojek perahu motor di Danau Tempe dan tinggal di desa Bakkaurai. Usaha ojek perahu Daeng Mapalanreng dimulainya sejak tahun 1990, saat itu sewa ojek perahu untuk berkeliling Danau Tempe masih Rp. 50 satu kali jalan, sedang saat ini sewa perahu sudah Rp. 100.000 – Rp. 150.000, ujarnya.

Danau Tempe

Bagi saya, hal yang membuat perjalanan mengelilingi danau tempe semakin menarik, yakni ketika banyak warga yang menggantukan aktifitas keseharian mereka di bantaran-bantaran sungai danau penghasil ikan air tawar terbesar di Dunia tersebut, baik itu mencuci, mandi hingga menggantungkan kebutuhan hidupnya dari hasil menangkap ikan di danau kebanggaan warga Wajo.

perkampungan terapung danau tempe

Setelah berkeliling melihat luasnya danau tempe, Daeng Mapalanreng menawarkan kami untuk singgah di salah satu rumah di perkampungan terapung danau tersebut. “Mau singgah di salah satu rumah terapung dek ?, Di rumah itu para pendatang sering singgah untuk menyantap pisang goreng dan teh hangat” ujar Daeng Mapalanreng mengajak. Kami pun tidak menyianyiakan ajakan Daeng Mapalanreng.

*****

Seorang wanita bersweater biru keluar dari rumah yang mengapung di kawasan danau tempe tersebut, ia menyambut kami dengan senyumnya yang khas, serta mengajak untuk masuk ke dalam rumah miliknya, wanita itu bernama ibu Rabbiah, 52 tahun, janda dengan 2 orang anak perempuan.

rumah terapung danau tempe

Sudah 24 tahun lamanya ibu Rabbiah tinggal dan menetap di rumah terapung danau tempe, walau ia juga mempunyai rumah di daratan, tapi hari-harinya banyak dihabiskan di rumah terapung peninggalan almarhum Suaminya tersebut. Ibu Rabbiah bekerja menjamu tamu-tamu yang datang di kawasan rumah terapung danau tersebut dengan menyajikan pisang goreng dan teh hangat, ia pun tidak memberikan patokan harga pada jasa yang ia lakukan. “yah berapapun yang tamu berikan itulah rezeki” jawabnya singkat.

Dulu sebelum banjir besar, rumah terapung di kawasan ini hampir mencapai 80an rumah, tapi saat banjir datang banyak rumah yang terbawa arus hingga membuat kawasan sendiri. Di kawasan ini sekarang, hanya tersisa 18 rumah yang biasa ditempati para nelayan. Ujar Rabbiah menjelaskan.

Rumah terapung adalah rumah kedua bagi warga yang berprofesi sebagai nelayan di danau Tempe. Setiap hari Jumat, para warga yang berprofesi sebagai nelayan yang menetap di rumah terapung kembali ke daratan, biasanya Kamis sore sebagian nelayan kembali ke daratan. Rumah terapung hanya dijadikan warga sebagai rumah tinggal bila musim ikan tiba, jika musim ikan kurang nelayan tersebut kembali ke rumahnya di daratan.

danau tempe

Setelah bercerita bersama ibu Rabbiah, kami pun keluar di teras rumah panggung miliknya dan menikmati pisang goreng dan teh hangat yang telah beliau sajikan, sambil melihat hamparan air danau di sekeliling ditemani hangatnya pisang goreng dan teh membuat suasana sederhana yang jarang saya dapatkan ini semakin mewah, ah sesederhana itu menemukan kebahagian saat melakukan perjalanan tak terduga ini.

Setelah menikmati suasana di rumah apung milik ibu Rabbiah, kami pun pamit undur diri untuk kembali ke dermaga jalan 45. Dalam perjalanan pulang, Daeng Mapalanreng sempat mengeluarkan pendapat setelah melihat ramainya para nelayan di sepanjang sungai mencari ikan.

“Dulu sebelum membawa ojek perahu saya adalah nelayan juga, tapi nelayan-nelayan di danau tempe dulu tidak seperti nelayan sekarang. Dulu kami menangkap ikan yang memang bisa kami ambil saja, bila mendapatkan ikan kecil kami lepas kembali. Tapi sekarang ini sudah jauh berbeda, mereka sudah memakai pukat harimau, ikan besar dan kecil yang masuk ke pukat mereka diambil semua. Mungkin beberapa tahun lagi ikan-ikan di danau ini sudah habis oleh keserakahan warganya sendiri”, ujar Daeng Mapalanreng bercerita di atas perahu.

Setelah mendengar ucapan Daeng Mapalanreng itu, sepintas saya terpikir akankan Danau Tempe yang menjadi kebanggan warga Wajo yang terkenal dengan penghasil ikan air tawar terbesar di Dunia ini dapat bertahan dan menghidupi warga di sekitarnya ?. Ah hari ini saya betul-betul menikmati perjalanan dan cerita-cerita yang mengapung dalam keindahan Danau Tempe. [LB]

(Visited 603 times, 1 visits today)


About

Blogger yang juga senang jalan dan fotografi, sibuk jadi buruh online.


'Cerita Yang Mengapung Dalam Keindahan Danau Tempe' have 2 comments

  1. May 20, 2015 @ 4:23 pm Roni

    Dulu, mungkin hampir setahun lalu, juga pernah datang ke danau ini. Malah sempat menginap satu malam di rumah apung. Salam

    Reply

  2. May 20, 2015 @ 6:34 pm Nanie

    Sepertinya, rumah yang sama yang pernah saya singgahi. Teh hangat dan pisang goreng panas sambil menikmati keindahan danau assipa’na 😀

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool