Cerita Pisang Epe dan Pantai Losari

Cerita Pisang Epe dan Pantai Losari
5 (100%) 1 vote

Pantai losari adalah salah satu icon kota Makassar. Pantai losari beebentuk ajungan dan menghadap ke barat sehingga menjadi tempat yang sangat tepat untuk menikamati sunset dan matahari terbit. Disepanjang pantai juga masih terlihat beberapa kapal-kapal nelayan yang berlayar ke pulau-pulau kecil. Berkunjung ke Pantai Losari berarti menikmati pisang epe. Pisang Epe dan Pantai Losari adalah jodoh. Disepanjang Jln Penghibur hingga Ford Rotterdam terdapat Ratusan gerobak Pisang Epe yang menyediakan berbagai macam rasa pisang epe.

Menyebut Makassar berarti Pantai Losari dan Pisang Epe. Di Makassar sebagian besar makanan khasnya berasal dari olahan pisang. Seperti Pallubutung, Barongko, Pisang Ijo, dan Pisang Epe. Pisang Epe terbuat dari pisang setengah matang yang di bakar sampai matang, kemudian di Epe’. Orang jawa menyebutnya di penyet atau di pipih. Pisang epe kemudian di sajikan di piring kemudian di berikan air gula jawa. Sekarang ini pisang epe di kombinasikan dengan berbagai macam rasa, mulai dari original, coklat, keju, dan durian, dengan harga yang lumayan murah sekitar Rp. 15.000 sampai Rp. 20.000. Mereka (baca : pedangang) juga menyediakan aneka jus dan sarabba sebagai teman menikmati pisang epe sambil menikmati sunset di losari.

Pisang Epe

Gerobak pisang epe berawal di Jln Kenari tepatnya tahun 1976. Hanya ada dua gerobak saat itu. DG. Sewang dan temannya Tamrin adalah perantau dari Takalar. Mereka memilih merantau di Makassar dengan berdagang makanan khas tersebut. Mereka kemudian memilih pindah ke Pantai Losari karena melihat pantai losari semakin banyak pengungjung.

Usaha mereka berdua kemudian semakin berkembang, DG. Sewang membuat dan membeli beberapa gerobak dan mempekerjakan beberapa orang. Namun pembangunan di Pantai Losari kemudian memberi banyak polemik bagi para pedangang pisang epe. Beberapa kali gerobak mereka harus pindah karena himbauan dari pemerintah. Saat berpindah pengujung kadang berkurang.

Pisang Epe

Dg. Sewang dan temannya kemudian membentuk asosiasi pedangang pisang epe. Fungsinya agar para pedangang memiliki hak-hak untuk memperjuangkan nasib para pedangang pisang epe. Pedangang pisang epe di sepanjang Pantai Losari bukan hanya berasal dari suku Makassar saja melainkan berasal dari berbagai macam suku seperti toraja, cina, bugis, dll.

Bagi para pedangang pisang epe, mereka tidak sekedar memperjuangkan tempat/ lokasi mereka berdagang tapi memperjuangkan budaya dan kuliner yang telah menjadi icon kota Makassar.

(Visited 495 times, 1 visits today)


About

Saya menyukai matahari dan perjalanan-perjalanan bersamanya


'Cerita Pisang Epe dan Pantai Losari' have 1 comment

  1. July 25, 2015 @ 8:43 am Muhammad Rusman Haeba

    Pisang epek artinya pisang yang diepek. Kata dasar “epek” bersasal dari bahasa Mandar yang atinya tekan yang biasanya menggunakan dua potong papan. Jadi pisang epek itu adalah pisang yang ditekan sehingga bentuknya berubah dari bulat panjang menjadi pipih lebar. Dengan merujuk kepada kata asal tersebut saya berasumsi bahwa kuliner ini awalnya berasal dari Mandar, yang terdiri dari tiga kabupaten sebelum dimekarkan, yaitu Polmas, Majene, dan Mamuju. Wujud aslinya terdiri dari pisang kepok yang dipanggang lalu diepek kemudian ditaburi kelapa kukuran yang agak muda di atasnya lalu diberi gula aren campur garam sedikit yang dicairkan lewat pemanasan. Dengan resep ini insya Allah pisang epek kita akan terasa nikmat sehingga mungkin saja ada orang yang sedang menikmati akan melupakan segala masalah, termasuk mertua yang sedang lewat. Ha ha ha …………

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool