Bulukumba, Kampung Halaman Phinisi

Bulukumba, Kampung Halaman Phinisi
4.5 (90%) 2 votes

“KIRA-KIRA BERAPA harga kapal itu?” Tanya saya pada seorang teman. Ketika itu kami sedang berada di desa Kaluku, Kab. Bulukumba sekira 200 km sebelah Selatan kota Makassar. Di depan kami sebuah kapal phinisi besar sedang dalam proses pengerjaan.

“Hm..mungkin ada seratus juta.” Jawab teman itu sambil menebak-nebak.

Sayapun ikut menebak-nebak, lalu kemudian berucap. “Ah, kayaknya lebih. Mungkin malah dua ratus juta.”

Kami memang asal tebak, dan beberapa lama kemudian kami baru sadar kalau kami bukan tukang tebak yang baik. Kapal yang ada di depan kami rupanya berharga Rp. 6,5 milyar! 300 kali lebih mahal dari perkiraan saya. Saya menelan ludah ketika mendengar penuturan seorang tukang kapal yang bercerita banyak tentang kapal pesanan seorang warga Australia itu. Rp. 6,5 milyar belum termasuk interior, itu baru badan kapal saja. Luar biasa! Terbayang uang sebanyak itu kalau dipakai membeli kerupuk bisa memenuhi berapa kontainer ya?

Ini dua ratus juta? Tidak mungkin!

Ini dua ratus juta? Tidak mungkin!

Kapal itu memang besar, lebarnya mencapai 50 m dengan panjang 120 m. Lebar dan panjang itu saya lihat dari gambar cetak biru yang ada di kapal. Namanya Lamima, dipesan seorang warga Australia yang waktu itu sudah dikerjakan selama 9 bulan dan masih jauh dari kata rampung. Melihat bentuknya yang gagah perkasa rasanya masuk akal kalau harganya mencapai angka Rp. 6,5 milyar. Kapal sebesar itu pasti menggunakan kayu dengan kualitas nomor satu, biasanya kayu besi yang kata pekerjanya didatangkan dari Sulawesi Tenggara karena saat ini sudah sulit mendapatkan bahan bakunya di Sulawesi Selatan.

*****

ORANG BULUKUMBA, utamanya daerah Tanaberu memang terkenal sebagai pembuat kapal yang luar biasa. Kebiasaan ini sudah mereka kerjakan secara turun temurun. Kapal buatan mereka yang paling terkenal adalah jenis phinisi yang juga diambil sebagai salah satu unsur dalam lambang kota Makassar. Phinisi sudah lama akrab dengan budaya bahari orang Sulawesi Selatan, berbagai catatan menyebutkan kehebatan orang Sulawesi Selatan yang berlayar hingga ke Australia dan bahkah Afrika dengan menggunakan kapal phinisi.

Phinisi adalah jenis perahu tradisional paling besar dan mempunyai dua layar besar. Beberapa layar kecil diletakkan di sebelah kanan atas tiang layar, kapal ini juga mempunyai dua buah kemudi. Pada haluan depan terdapat tiga buah layar segitiga panjang berjejer, paling depan disebut sombala tarengke dan dua lainnya disebut sombala coccoro.

Perahu lain yang lebih kecil dari phinisi adalah paddewakkang yang dipercaya lahir lebih dulu dari phinisi.

Perahu lain yang lebih kecil

Perahu lain yang lebih kecil

Bagian dalamnya seperti ini, tapi belum selesai

Bagian dalamnya seperti ini, tapi belum selesai

Dalam epos La Galigo diceritakan tentang kapal Sawerigading yang mengalami musibah. Dalam pelayarannya, kapal tersebut pecah dihantam ombak. Pecahannya itulah yang berserakan dan terdampar di pantai sepanjang kabupaten Bulukumba. Konon itulah kenapa beberapa daerah di Bulukumba terkenal sebagai sentra penghasil kapal kayu serta tentu saja sebagai penghasil pelaut yang tangguh. Bulukumba sendiri dijuluki sebagai butta panrita lopi atau tanah pembuat perahu/kapal kayu.

Perahu-perahu dan kapal kayu buatan orang Bulukumba sudah tersohor sampai ke seluruh dunia, tidak heran kalau banyak orang asing yang memesan kapal dari tanah Bulukumba. Tujuan utama mereka adalah membuat kapal wisata atau semacam kapal pesiar. Ada yang mempergunakannya untuk keperluan pribadi namun ada juga yang menggunakannya untuk dijadikan kapal pesiar dan dikomersilkan.

Tahun 1986, kapal phinisi yang diberi nama Phinisi Nusantara buatan orang Bulukumba kembali mencatat prestasi luar biasa dengan berlayar sejauh 11.000 mil laut dari Jakarta ke Vancouver, Canada. Keberangkatan kapal itu adalah untuk menghadiri Vancouver Expo 1986. Sekali lagi dunia mencatat kehebatan kapal buatan Bulukumba yang ratusan tahun lalu dipercaya sudah lebih dulu menemukan benua Australia sebelum orang Eropa datang.

Bulukumba memang bukan hanya pantai Bira, Bara dan Apparalang. Bulukumba adalah kampung halaman phinisi yang luar biasa, yang mengharumkan nama Indonesia sampai ke benua seberang. Mengunjungi Bulukumba tak kan lengkap tanpa melihat langsung phinisi yang lahir dari jari jemari orang Bulukumba yang luar biasa.

Sayang sampai sekarang saya belum pernah menikmati berlayar bersama phinisi, hanya Lamima yang belum sempurna itu yang sempat saya cicipi. Itupun rasanya sudah sangat berkesan, apalagi kalau phinisi yang sudah jadi. Ah, kapan ya saya bisa mencicipi raksasa penakluk samudera itu?

(Visited 462 times, 1 visits today)


About

Blogger ~ Suka jalan-jalan gratisan ~ Sedang belajar motret ~ Mengasuh http://daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri


'Bulukumba, Kampung Halaman Phinisi' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool