Kalimbuang Bori, Barisan Menhir Eksotis di Tana Toraja

Bori Kalimbuang, Barisan Menhir Eksotis di Toraja

Bori Kalimbuang, Barisan Menhir Eksotis di Toraja
5 (100%) 1 vote

Rumput berembun sehabis hujan deras dan bau tanah basah menguar di udara. Batu-batu yang tegak menjulang tampak semakin gelap. Bentuknya tak seragam dan letaknya pun tak beraturan, ada yang pendek dan ada yang tinggi, ada yang besar dan ada juga yang kecil.

Kami berlarian di antara Simbuang Batu mencari pose jepret yang asik tanpa peduli gerimis yang masih turun. Saya dan teman-teman memang sedang berkunjung di sebuah kompleks megalith Bori Kalimbuang di Toraja. Situs megalith ini merupakan salah satu dari sembilan objek wisata yang ditetapkan sebagai warisan dunia UNESCO budaya.

Kalimbuang Bori, Barisan Menhir Eksotis di Tana Toraja

Deretan menhir di Rante Kalimbuang

Lokasi Bori Kalimbuang atau biasa juga disebut Bori Parinding terletak di Jalan Bori Kecamatan Sesean, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Berjarak sekitar 8 km dari kota Rantepao dan dapat ditempuh dalam waktu 20-30 menit dengan kendaraan bermotor atau menggunakan kendaraan umum dari terminal Bolu, Rantepao.

Terdapat kumpulan menhir dan kompleks pemakaman batu dalam kompleks ini. Jumlah menhirnya ada 100 buah lebih dengan diameter terbesar 180 cm dan ukuran tertinggi 7 m, berdiri megah menjulang tinggi ke angkasa. Terdapat 54 menhir kecil, 24 menhir sedang dan 24 yang berukuran besar. Menhir-menhir ini, dalam bahasa Toraja disebut dengan nama Simbuang Batu.

Rante Kalimbuang merupakan kawasan utama di Bori Kalimbuang. Rante menjadi tempat untuk mengadakan upacara pemakaman adat atau Rambu Solo’ yang dilengkapi dengan Simbuang Batu. Di kompleks Rante Kalimbuang, terdapat beberapa bangunan yang memiliki kaitan erat dengan upacara pemakaman.

Lakkian, sebuah bangunan paling besar tempat jenasah disemayamkan saat upacara Rambu Solo berlangsung. Bagian atas Lakkian menjadi tempat jenasah sedangkan bagian bawahnya merupakan tempat duduk untuk keluarga yang berduka.
Sarigan, usungan jenasah
Langi’, bangunan induk yang menaungi sarigan, berbentuk atap tongkonan dan dihiasi dengan ukiran khas Toraja.
Balakkayan, panggung tempat membagi daging kurban yang disembelih pada saat upacara Rambu Solo. To Mantawa (para pembagi daging) akan meneriakkan nama-nama penerima daging berdasarkan kedudukan sosialnya.
Liang pa’, kompleks kuburan batu dengan pahatan khusus, dengan satu lubang yang dikhususkan untuk satu keluarga besar
• Panggung tongkonan dengan hiasan kerangka gigi kerbau, yang dibangun untuk para tamu undangan Rambu Solo

Kalimbuang Bori, Barisan Menhir Eksotis di Tana Toraja

Liang Pa’ . Satu lubang untuk satu keluarga

Simbuang Batu didirikan untuk menghormati para bangsawan dan pemuka adat yang meninggal dunia dan prosesnya tidak bisa sembarangan. Harus diadakan upacara adat Rapasan Sapurandanan yaitu kerbau yang dipotong haruslah berjumlah minimal 24 ekor. Jika jumlah kerbau tidak sampai 24, maka tidak akan dibuatkan Simbuang Batu.

Setiap menhir memiliki nilai adat yang sama dan tidak ditentukan oleh jumlah kerbau yang dipotong, yang membedakan hanyalah situasi dan kondisi pada saat pembuatan dan pengambilan batu. Misalnya masalah waktu, kondisi keuangan pada saat pembuatan menhir dan situasi masyarakat pada masa tersebut.

Sayangnya anggapan ini sekarang mulai bergeser. Orang-orang sekarang menganggap bahwa semakin besar dan semakin tinggi Simbuang Batu yang didirikan maka berbanding lurus dengan derajat kebangsawanannya yang juga semakin tinggi.

Kalimbuang Bori, Barisan Menhir Eksotis di Tana Toraja

Bori’ Kalimbuang, Situs Megalitik Toraja

Bebatuan menhir ini ada yang sudah berusia hingga ratusan tahun. Menhir pertama didirikan pada tahun 1657 pada Upacara Pemakaman Ne’Ramba’ dimana 100 ekor kerbau dikorbankan dan didirikan dua simbuang batu. Ne’ Ramba adalah bangsawan dan pemangku adat yang berhasil menghimpun kembali beberapa komunitas yang hidup terpisah ke dalam satu kelompok adat di Kawasan Bori Parinding.

5 simbuang batu berikutnya menyusul didirikan pada tahun 1807 pada acara pemakaman Tonapa Ne’Padda’ dengan mengorbankan 200 ekor kerbau. Lalu 3 simbuang batu lagi pada upacara pemakaman Ne’Lunde dengan 100 ekor kerbau yang dikorbankan.

Sejak tahun 1907, secara berturut-turut banyak Simbuang Batu didirikan dalam ukuran besar, sedang, kecil. Simbuang batu terbesar dan tertinggi didirikan pada tahun 1935 pada pemakaman almarhumah Lai Datu (Ne’ Kase’) dan simbuang batu yang terakhir didirikan pada upacara pemakaman almarhum Sa’pang (Ne’Lai) tahun 1962.

Batu-batu untuk menhir ini diambil langsung dari gunung dan dibentuk di tempat oleh seorang To’mapa yaitu orang yang ahli dalam memahat. Pertama-tama ditentukan dahulu tinggi dan besar menhir, kemudian dilakukanlah penggalian dan pemahatan batu menggunakan alat tradisional berupa pahat dan martil. Sebelum proses pemahatan, dilakukan upacara penyembelihan seekor kerbau dan babi-babi. Waktu yang dibutuhkan untuk memahat sebuah simbuang batu bisa sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Setelah proses memahat batu menhir selesai, langsung dibawa menuju Bori dengan cara tradisional yaitu batu digulirkan dengan batang –batang pohon dan ditarik menggunakan tali temali dari bambu oleh ratusan tenaga manusia. Penduduk dan siapapun yang berkenan menyumbangkan tenaganya bisa membantu proses penarikan ini.

Membutuhkan waktu beberapa hari hingga berminggu-minggu untuk menarik batu dari lokasi pemahatan hingga ke lokasi pendirian menhir, tergantung jauhnya jarak dan beratnya medan yang dilalui. Tentu saja dibutuhkan waktu yang lama, satu batu saja bisa mencapai berat 5 sampai 7 ton. Dan pada proses penarikannya tidak boleh menggunakan alat berat melainkan tenaga manusia.

Tenaga ratusan orang juga dibutuhkan saat proses mendirikan batu menhir. Kurang lebih sepertiga tinggi batu menhir ditanam di dalam tanah dan menyisakan dua pertiganya yang menjulang di atas tanah. Dengan berat batu yang mencapai 5 ton, bisa dibayangkan bahwa proses ini memang memerlukan banyak tenaga.

Kalimbuang Bori, Barisan Menhir Eksotis di Tana Toraja

Panggung Tongkonan untuk tamu undangan Rambu Solo

Melihat proses yang begitu berat dan waktu yang lama untuk mendirikan sebuah menhir ataupun upacara pemakaman lainnya di Tana Toraja, nampak jelas bahwa orang Toraja begitu menghargai orang tua, tetua dan leluhur. Semangat gotong royong dan rasa kekeluargaan yang tinggi masih mengakar kuat hingga saat ini.

**

Jadi, bila Anda berkesempatan menjelajahi Toraja di Sulawesi Selatan, jangan sampai melewatkan situs megalith Bori Kalimbuang. Deretan menhir eksotis yang tertata rapi dan menawan menunggu kedatangan anda.

(Visited 913 times, 1 visits today)


About

Blogger yang juga senang jalan dan fotografi, sibuk jadi buruh online.


'Bori Kalimbuang, Barisan Menhir Eksotis di Toraja' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool